PERMASALAHAN REMAJA DAN ISU-ISU KESEHATAN

BAB X

PERMASALAHAN REMAJA DAN ISU-ISU KESEHATAN

 

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari permasalahan remaja dan isu-isu kesehatan, mahasiswa mampu:

  1. mendeskripsikan beberapa kategori utama perilaku-perilaku beresiko bagi remaja dan peringatan yang harus diberikan terhadapnya;
  2. mendefinisikan dua dimensi umum dan perilaku bermasalah: internalizing dan externalizing;
  3. memahami atribut remaja dan konteks yang berkaitan dengan remaja, misalnya budaya;
  4. memahami hakekat kemiskinan bagi remaja dan hubungannya dengan resiko perilaku remaja;
  5. mendiskusikan dasar-dasar individual dan sosial bagi terjadinya kenakalan remaja dan hubungannya antara kejahatan terhadap diri sendiri dengan orang lain;
  6. memahami substansi masalah remaja atas dasar karakteristik remaja dan hubungannya dengan orang tua dan teman sebaya;
  7. mendeskripsikan perbedaan jender dalam menginternalisasikan perilaku bermasalah;
  8. memahami perkembangan perilaku yang diinternlisasi remaja berdasar pada karakteristik remaja yang bersifat majemuk;
  9. mengakui bahwa memahami hubungan antara remaja yang sedang berkembang dan konteks sosialnya dapat membantu merancang kebijakan serta program-program yang ditujukan bagi penyelesaian masalah perilaku remaja.

PEMBAHASAN

Remaja merupakan masa dimana banyak menyusahkan telah menjadi topik perhatian masyarakat selama berabad-abad.  Plato menandai remaja pada  jamannya sebagai generasi yang mudah dibangkitkan dan membantah, sedangkan Aristoteles menemukan mereka sebagai masa yang mudah menuruti kata hati, cenderung berlebih-lebihan, dan kurang mampu mengendalikan diri. Selama berabad-abad, dekade remaja dihidung sejak pubertas sampai awal dewasa dipandang sebagai masa yang penuh problema dan penuh resiko.

Perilaku remaja saat ini mengalami masalah-masalah di sejumlah hal. Profil masalah remaja saat ini menyangkut berbagai bidang antara lain kenakalan, penyalahgunaan obat, kegagalan akademik, dan perilaku seksual yang beresiko. Di samping itu, juga ditengarai banyaknya persoalan-persoalan emosional termasuk depresi, bunuh diri, cemas, dan gangguan pola makan.

  1. A.    Gejala-gejala Perilaku Bermasalah

Berikut ini dikemukakan sejumlah perilaku bermasalah remaja yang perlu mendapatkan pelayanan khusus oleh orangtua, guru, dan masyarakat pada umumnya.

1.  Kenakalan, kejahatan, dan perkelahian

  • Banyak remaja yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Pelanggaran tersebut terdiri atas tidak lengkapnya surat-surat (SIM dan STNK), melanggar rambu-rambu lalu lintas, kurangnya perlengkapan sepeda motor, tidak memakai helm pengaman, berboncengan sepeda motor lebih dari dua orang. 
  • Banyaknya kaum muda berusia antara 10 dan 17 tahun ditangkap sebagai akibat perbuatan perkosaan, perampokan, pembunuhan, atau penodongan.

Untuk mengenali bagaimana perilaku di atas terjadi, dalam bahasan ini akan diuraikan mengenai perilaku agresif remaja. Agresi dan kekerasan biasanya dikaitkan dengan kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan, penyerangan, dan perang. Perilaku-perilaku tersebut bisa jadi berskala besar (antar negara, misalnya) dan bisa terjadi pula pada skala kecil (dalam keluarga, antara suami dan isteri, antara ayah dan anak, antara ibu dan anak, dan antara anak dengan anak lainnya, antar siswa dan guru, antar individu). Oleh karena luasnya cakupan hakekat perilaku agresif, maka dalam kajian ini akan dibahas dan ditentukan hakekat perilaku agresif yang dijadikan sasaran penelitian. 

Perilaku agresif telah lama menjadi salah satu kajian psikologi. Hampir semua aliran psikologi membahas hakekat perilaku agresif sesuai dengan orientasi masing-masing. Fromm (2001), misalnya, sebagai pengikut psikoanalisis membahas perilaku agresif dari sudut pandang instinctive drive. Perilaku agresif merupakan sesuatu yang bersumber dari dunia dalam atau dari alam ketidaksadaran manusia.

Apakah yang dimaksud dengan perilaku agresif? Salah satu pengertian perilaku agresif dikemukakan oleh Buss (1961:1) yaitu … a response that delivers noxious stimuli to another organism. Agresi merupakan perilaku yang menyebabkan kerugian bagi orang lain. Tekanan dari pengertian tersebut terletak pada tindakan dan bukan pada akibat yang ditimbulkan dari tindakan tersebut.

Pengertian lain mengenai perilaku agresif tidak saja menyatakan tindakan, tetapi juga memperhatikan aspek akibat.  Dalam hal ini dikemukakan oleh Geen (1990: 2-3) sebagai berikut:

Agression involves the delivery of noxious stimuli by one party to other organisms or objects, under conditions in which the actor intends to harm the target and the actor expects the noxious stimuly to have their intended effects.

Dibandingkan dengan pengertian dari Buss, pengertian yang kedua dari Geen lebih jelas menyatakan bahwa perilaku itu untuk melukai target dan berharap ada pengaruh dari perbuatan itu terhadap target. Oleh karena itu perilaku agresif tidak saja dilihat dari bentuk perilakunya, melainkan juga dilihat dari aspek tujuan atau maksud dilakukannya suatu perbuatan agresif.Adabeberapa teori yang mengupas bagaimana perilaku agresif terjadi, antara lain teori biologis,  teori frustrasi, teori belajar sosial, dan teori kognitif.

Teori biologis. Ada beberapa perspektif yang berbeda mengenai perilaku agresif ditinjau dari faktor biologis. Beberapa perspektif tersebut meliputi teori instinct (McDougall, 1908), psikoanalitik Freudian, pendekatan ethologi (Lorenz, 1963 dan Ardrey, 1970), teori sosiobiologis (Wilson, 1978). 

Pendekatan ethologi (Lorenz, 1963) memandang agresi sebagai hasil innate forces yang merupakan hasil adaptasi secara evolusioner. Ardrey (1970) memperhatikan agresi sebagai penyumbang perkembangan optimal dari individu yang memungkinkan terjadinya kompetisi. Pendekatan ethologi memandang perilaku agresif sebagai a primary drive manifest in specific patterns of behavior

Berkaitan erat dengan pandangan ethologi, para ahli sosiobiologi melihat agresi sebagai mekanisme kompetisi sosial.  Perilaku ini timbul di bawah kondisi dimana ada kebutuhan yang bersamaan di antara orang-orang untuk mengakses suatu yang sama. Dengan kata lain, ada dua atau lebih orang/kelompok yang menginginkan hal yang sama, namun tidak mencukupi untuk memuaskan setiap orang yang menginginkan hal tersebut. Dengan kata lain, tindakan agresif merupakan cara yang diambil orang untuk mempertahankan hidup (survive).

Secara biologis, faktor yang mendorong timbulnya perilaku agresif berupa hormon dan temperamen. Hormon dalam tubuh, khususnya hormon testosteron (hormon kelelakian), berkaitan dengan perilaku agresif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada anak laki-laki yang berperilaku agresif dan antisosial ditemukan hormon testosteron lebih tinggi pada darah mereka (Olweus, dalam Durkin, 1995:400). Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa temperamen berhubungan erat dengan perilaku agresif. Anak yang diidentifikasi sebagai bayi yang “sulit” cenderung menjadi anak yang berperilaku agresif di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (Prior, 1992; Bates, Marvinney, Kelly, Dodge, Bennett, & Pettit, 1994). Penelitian lain menunjukkan bahwa perilaku hiperaktif merupakan prediktor yang reliabel bagi agresifitas pada anak-anak usia 8 sampai 11 tahun (Farrington, 1994).

Teori Frustrasi.  Berbeda dari pandangan biologis di atas, Dollard, Miller, Mowrer, & Sears, dalam Durkin (1995:402) mengemukakan bahwa perilaku agresif tidak disebabkan oleh faktor instinct, tetapi oleh keadaan frustrasi. Frustrasi merupakan kejadian ketika beberapa aktivitas untuk mencapai tujuan terhalang.  Beberapa penghalang pencapaian tujuan ada dalam diri individu dan sebagian lainnya ada di luar diri individu.

Apabila pencapain tujuan terhalang akan timbul frustrasi dan selanjutnya dapat menimbulkan  perasaan cemas. Apabila keadaan ini terus-menerus terjadi dalam diri individu dapat menimbulkan perasaan harga diri rendah karena terjadi self-devaluation. Reaksi atas keadaan tersebut bias dalam bentuk perilaku agresif, perilaku kompromi, dan perilaku melarikan diri.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ternyata anak-anak frustrasi lebih cenderung berperilaku regresif dan kurang konstruktif, termasuk perilaku menyerah (giving up). Hanya kadang-kadang saja keadaan frustrasi  memunculkan respon perilaku agresif (Berkowitz, 1993). Namun demikian, dalam rumusan yang relatif lemah, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frustrasi dan agresi. Studi eksperimental terhadap sejumlah anak-anak (Davitz; Mallick & McCandless; Otis & McCandless; dalam Durkin, 1995) dan terhadap orang dewasa (Geen, dalam Durkin, 1995) menunjukkan bahwa respon-respon agresif kadang-kadang meningkat mengikuti frustrasi.

Teori Belajar Sosial.  Alih-alih memperhatikan sumber perilaku agresif berupa faktor biologis (instinct atau drive), para ahli teori belajar sosial memberikan sumbangan yang lebih optimis mengenai kejadian perilaku agresif (Bandura, 1973; Eron, 1994). Dalam pandangan Bandura (1973), misalnya, perilaku agresif merupakan perilaku yang dipelajari, bukan sesuatu yang dengan sendirinya ada di dalam diri manusia (not innately given). Oleh karena itu, untuk memahami sumber-sumber perilaku agresif dapat dimulai dengan mempelajari kondisi-kondisi di luar diri individu ketimbang memperhatikan faktor individu itu sendiri. Dalam pandangan teori belajar sosial, perilaku agresif diperoleh manusia melalui belajar perilaku yang sama yang dilakukan oleh orang lain, yakni melalui observasi dan pengalaman langsung.

Teori belajar sosial diakui sebagai perspektif psikologis yang produktif dalam membahas perilaku agresif. Perilaku agresif merupakan hasil proses observasional dan reinforcement yang dijembatani oleh pemrosesan informasi dan self-regulation.  Banyak penelitian yang menunjukkan  bahwa anak-anak, di bawah iklim tertentu, meniru perilaku agresif dari model, terutama model yang kuat dan atraktif. Salah satu aplikasi dari teori belajar sosial ditunjukkan dalam penelitian terhadap pengaruh penayangan kekerasan di televisi (Faiver, O’Brien  dan Ingersoll, 2000).

Teori Kognitif dan Pemrosesan Informasi sosial. Sejalan dengan perkembangan psikologi kognitif, pandangan tentang perilaku agresifpun mengalami pemaknaan baru ketika teori ini dikembangkan. Hartup (1974) mengemukakan bahwa karakteristik perilaku agresif merefleksikan perkembangan kognitif manusia. Dalam pandangan teori kognitif, agresi merupakan bentuk perilaku yang muncul dalam berbagai aktivitas di dunia sosial sejak awal hidup. Menurut para ahli biososial, ada nilai-nilai adaptif dalam mengenali perilaku agresif. Sejak masa kanak-kanak, anak sudah mulai mengenali adanya aturan-aturan sosial dan mulai mereaksi aturan tersebut dengan perilaku agresif. Dunn & Brown (1994) melaporkan bahwa sejak anak-anak berusia 18-20 bulan, ada kecenderungan orang tua memperlakukannya dalam bentuk menolak terhadap perilaku anak-anak. Misalnya ketika anak mau membantu, orangtuanya menolak atas bantuan anaknya. Terhadap tindakan orang tua ini, anak cenderung melawannya dengan tindakan agresif.

Dalam pandangan Piagetian, anak-anak sebelum usia tujuh tahun tak akan menggunakan pertimbangan atas perilaku agresifnya.  Pandangan Piagetian tersebut terbantah, sebab beberapa bukti hasil penelitian pada anak TK menunjukkan bahwa ternyata anak-anak telah termotivasi untuk membuat pertimbangan atas perilakunya (Dunn & Brown, 1994).  Perubahan akan terus terjadi sejalan dengan perkembangan kognitif anak. Walaupun sudah dengan pertimbangan, anak cenderung mereaksi dengan perilaku agresif secara stereotip. Sedangkan pada usia-usia selanjutnya mereka cenderung mereaksi secara bervariasi.

Dalam situasi di mana perilaku agresif merupakan bentuk perilaku sehari-hari, di lingkungan masyarakat tertentu, maka perilaku tersebut akan dipandang rasional dan adaptif. Penelitian Ward, dalam Dunn & Brawn (1994) menghasilkan simpulan: anak-anak remaja yang hidup di lingkungan yang banyak terjadi perkelahian akan berkembang menjadi anak agresif dan memandang perilaku itu hal biasa-biasa saja. Berkaca pada hasil penelitian Ward tersebut, anak-anak yang setiap hari dihadapkan pada situasi yang cenderung semakin agresif dikhawatirkan akan mengalami hal yang sama. Artinya, anak-anak juga akan mengembangkan persepsi bahwa perbuatan agresif merupakan perbuatan biasa-biasa saja. Keadaan ini diperkuat dengan perilaku sejumlah perilaku guru yang cenderung agresif pula ketika menghadapi murid-muridnya.

Dalam perspektif pemrosesan informasi, Dodge, dalam Dunn & Brawn (1994) menyimpulkan dari penelitiannya bahwa anak laki-laki cenderung lebih agresif bila dihadapkan pada situasi yang mengancam. Di samping itu, ia juga ditemukan bahwa ada proses kognitif, afektif, dan fisiologis secara simultan yang menyertai setiap reaksi agresif anak laki-laki tersebut.

Akhir-akhir ini, pendekatan kognitif semakin banyak diaplikasikan dalam mengenali perilaku agresif. Di bandingkan dengan teori-teori yang telah dibahas sebelumnya, pendekatan kognitif-sosial jauh lebih tegas dalam mengupas isu-isu perkembangan manusia. Dalam melakukan penyelidikan terhadap perubahan-perubahan perilaku sejalan dengan perkembangan manusia. Namun, apabila dilihat hanya dari perspektif pemrosesan informasi, tampaknya pendekatan ini kurang memperhatikan konteks di mana perilaku terjadi.

Atas dasar pemikiran di atas, maka apabila pendekatan kognitif digunakan oleh konselor, perlu memperhatikan konteks perilaku agresif konseli, misalnya dalam lingkungan keluarga, teman sebaya, jender, dan budaya. Perilaku agresif konseli terjadi dalam konteks tertentu, oleh karena itu perlu dipadukan antara pandangan yang menekankan aspek individu (faktor internal) dan yang menekankan pada konteks perilaku agresif (faktor eksternal).

 

Reaksi-Reaksi Perilaku Agresif

Bagaimana orang mereaksi saat dirinya dikuasai kondisi agresif? Sejumlah penelitian menunjukkan reaksi agresif dapat dikelompokkan menjadi empat bentuk, yaitu perilaku agresif langsung, agresif tidak langsung, agresif yang dialihkan, dan berbagai reaksi yang tidak tampak agresif. Hasil penelitian Averill, dalam Sears, Freedman, Peplau (1985) menunjukkan bahwa serangan dan frustrasi cenderung membuat orang menjadi marah dan bertindak agresif. Namun demikian, secara rinci ternyata reaksi atas kemarahan itu dapat pula berbentuk perilaku tenang. Hanya sekitar 10 persen orang berperilaku agresif fisik, 49 persen bereaksi secara verbal, dan bahkan kebanyakan dari mereka (60 persen) tidak menunjukkan perilaku agresif langsung.

Perilaku agresif langsung. Reaksi agresif dapat diekspresikan dalam tindakan langsung.Ada tiga bentuk reaksi agresif langsung, yaitu (1) reaksi agresif verbal atau simbolik, (2) penolakan atau pengabaian kebaikan, (3) agresif fisik.

Perilaku agresif tidak langsung. Perilaku agresif tidak langsung dilakukan dalam bentuk tertuju pada sasaran tetapi melalui fihak lain. Dua bentuk perilaku agresif tidak langsung yang biasanya dilakukan orang yaitu (1) memberitahu pihak ketiga untuk membalas, (2) merusak sesuatu yang memiliki nilai penting bagi sasaran perilaku agresif.

Perilaku agresif yang dialihkan. Bentuk ketiga dari perilaku agresif ditujukan pada sasaran lain dari sasaran yang sebenarnya.Ada dua macam perilaku agresif yang dialihkan yaitu (1) perilaku agresif yang dialihkan terha-dap obyek bukan manusia, dan (2) perilaku agresif dialihkan kepada orang lain.

Atas dasar bentuk-bentuk perilaku agresif di atas, perilaku agresif langsung secara verbal, agresif tak langsung dengan cara memberitahu pihak ketiga, agresif yang dialihkan terhadap obyek bukan manusia lebih banyak dilakukan ketimbang perilaku agresif langsung dalam bentuk perbuatan fisik maupun ucapan verbal. Jadi melihat kenakalan remaja tidak saja dari perilaku fisik semata. Orangtua dan guru serta orang lain yang terlibat dalam pendidikan remaja harus faham benar bahwa ada sejumlah perilaku agresif yang tidak selalu berupa tindakan fisik.

2.  Penyalahgunaan obat

  • Semakin banyak anak muda menggunakan obat-obat terlarang.
  • Semakin banyak anak muda yang minum minuman beralkohol. Semakin tinggi usia remaja semakin banyak yang terlibat. Bahkan semakin tinggi usia disinyalir minum minuman beralkohol sehari-hari.
  • Semakin banyak anak-anak muda yang menghisap rokok sejak anak-anak usia SMP bahkan disinyalir banyak yang sudah mengkonsumsi rokok.

Mengapa banyak orang, termasuk remaja menggunakan obat-obat terlarang? Sejak awal manusia selalu berusaha untuk menopang dan melindungi diri sendiri melalui menggunakan obat-obatan yang mampu mempengaruhi sistem syaraf  sehingga menimbulkan kesenangan. Dalam banyak hal dengan menggunakan obat-obat terlarang memudahkan orang untuk mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungan. Mengapa orang merokok, minum minuman keras, dan mengkonsumsi obat terlarang? Mereka, pemakai, menyatakan bahwa dengan itu membuat mereka mampu menyesuaikan diri, mampu mengusir kebosanan, mampu mengatasi rasa lelah. Demikianpun remaja, mereka menggunakan itu semua untuk menghindar lari dari kehidupan yang semakin keras.

Apa yang dilakukan orang, termasuk remaja, dengan  mengkonsumsi rokok,  alkohol, dan obat terlarang harus dibayar mahal. Mereka mengalami kecanduan (addiction) terhadap barang-barang tersebut. Secara ekonomis mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya dan ditinjau dari kesehatan fisik mereka akan menjadi rapuh.  Kecanduan terjadi ketika tubuh mengalami ketergantungan kepada obat-obatan tersebut. Apabila mereka diputus dari konsumsi obat tersebut maka ia akan mengalami rasa sakit yang hebat.

 

3.  Kegagalan Akademik

  • Banyak anak muda yang drop out dari sekolah setiap tahunnya.
  • Dari antara 100% anak sekolah dasar hanya sekitar 60% melanjutkan ke SMP, dari lulusan SMP hanya 40% yang masuk SMA atau SMK, sedangkan lulusan SMA dan SMK yang masuk ke perguruan tinggi hanya 11%.
  • Banyak anak remaja yang mengulang kelas. 

Atas dasar permasalahan di atas, dalam pembahasan ini akan dikemukakan upaya pendidikan yang seharusnya dilakukan pada saat ini. Dalam persaingan global saat ini tidak dapat tidak pendidikan harus mempersiapkan anak-anak muda untuk menjangkau standar tinggi. Untuk maksud itu, dalam pendidikan sekolah diperkenalkan asesmen otentik. 

Tujuan utama pendidikan adalah menyiapkan anak-anak muda untuk hidup independen, produktif, dan bertanggung jawab pada abad 21. Untuk mencapai maksud tersebut, syaratnya setiap anak muda perlu memiliki penguasaan tuntas akan pengetahuan dan keterampilan. Academic excellence merupakan paspor menjadi warga negara yang bertanggung jawab, mengambil keputusan secara arif, dan puas di pekerjaaannya.

Jantung hati pendidikan bagi orangtua adalah ketika anak mereka berhasil secara akademik. Sementara itu dalam pendidikan berbasis kontekstual yang menjadi jantung hati adalah membantu semua siswa menjangkau standar akademik yang tinggi. Sementara, sejauh ini, pendidikan tradisional mementingkan perolehan kuantitas material untuk diingat melalui kuliah, dan gagal, dan gagal, dan selanjutnya gagal.

Guru dididik untuk memperoleh pemahaman yang sempurna tentang bidang garapannya. Tugas guru mengembangkan tujuan, tugas, aktivitas, dan pengujiannya. Oleh karena itu ia harus menguasai keterampilan dan kompetensi yang harus dikuasai siswa. Secara umum  setiap siswa harus menguasai keterampilan dan kompetensi yang rinciannya dijelaskan sebagai berikut.  

Keterampilan:

–          Basic skills: membaca, menulis, aritmatika dan matematika, mendengarkan, berbicara.

–          Thinking skills: belajar, berpikir, berpikir kreatif, membuat keputusan, memecahkan masalah. Mencakup pula: mensintesis, menganalisis, menggunakan logika, dan memisahkan bukti-bukti yang kuat dari yang lemah.

–          Personal qualities: (1) individual responsibility, (2) self-esteem, (3) self-management, (4) sociability, (5) integrity (p 152).

 

Kompetensi:

Semua siswa harus mengembangkan dan mampu menggunakan kompetensi:

–          Resources: mengalokasi waktu, uang, ruang, dan orang. (Ini merupakan keterampilan manajemen dasar yang digunakan untuk merencanakan, mengorganisasi, mengatur, dan mengambil keputusan.

–          Interpersonal: bekerja sama dengan tim, mengajar orang lain, melayani kostumer, mengarahkan, menegosiasi, dan bekerja dengan orang lain dari beragam budaya. (Gardner = interpersonal intelligence)

–          Information:  mengumpulkan, mengevaluasi, dan menginterpretasi informasi, mengorganisasi dan menyimpan file, mengkomunikasikan informasi, dan menggunakan komputer untuk memproses informasi. (ingat: mengembangkan pertanyaan riset, strategi riset, dst)

–          Systems: memahami bagaimana kerja sistem sosial, organisasional, teknologikal. Memonitor dan mengkoreksi sistem, mengembangkan dan merancang sistem baru.

–          Technology: memilih alat yang tepat, menggunakan teknologi untuk tugas khusus, dan memelihara peralatan. (pp 152-153)

Tujuan pendidikan harus bernuansakan makna. Dalam pendidikan kontekstual, tujuan tidak sekedar dirumuskan tetapi harus mengkombinasi antara pengetahuan dan cara melakukannya berkaitan dengan maknanya bagi siswa. Untuk bisa mencapai kombinasi pengetahuan dan penerapannya, perlu dilakukan (1) nyatakan pengetahuannya, (2) gunakan kata-kata aktif, (3) jelaskan bahwa siswa akan memperoleh keuntungan, (4) dorong siswa untuk mendemonstrasikan, (5) ceriterakan kepada siswa secara pasti apa yang harus dilakukan untuk memperoleh prestasi sempurna, (6) bandingkan tujuan dengan standar eksternal, antara lain dengan standar nasional atau proses berpikir tingkat tinggi (Rothstein, dalam Johnson, 2002).

Dalam sistem pendidikan, untuk melihat keberhasilan pendidikan biasanya dilakukan tes. Yang seringkali dilakukan adalah melakukan tes buatan guru atau tes terstandar nasional. Tes standar nasional dirancang untuk membimbing guru. Standardisasi tes seolah-olah membuat keseragaman pendidikan secara nasional. Hal ini bertentangan dengan pandangan Gardner. There is in the country today an enormous desire to make education uniform … to apply the same kinds of one-dimensional metrics to all (Gardner, 1993).

Adabeberapa asumsi yang salah mengenai penggunaan tes terstadar, antara lain:

–          Pendidikan berisi pengetahun dan keterampilan yang dapat diukur. Setiap hal yang tak dapat diukur tidaklah penting. (Tes terstandar dapat mengukur apapun yang diingat siswa, tetapi tidak dapat mengukur respon imaginatifnya, getar emosionalnya, dsb)

–          Bantuan tes terstandar berupa skor tes yang disasumsikan mengukur secara akurat dan reliabel atas apa yang siswa tahu dan siswa dapat lakukan. Tapi sebenarnya ia tak dapat mengukur keberhasilan siswa yang sebenar-benarnya.

–          Bantuan tes terstandar mengasumsikan bahwa ada kemungkinan untuk mendidik setiap orang secara mudah melalui membuat pendidikan seragam, mengajar semua siswa dengan cara yang sama, serta memberi tes yang sama pula (Gardner, 1993).

Dalam kaitan mengukur hasil belajar siswa, dalam pendidikan kontekstual diperkenalkan asesmen otentik. Dalam keseluruhan sistem belajar dan mengajar kontekstual (CTL), asesmen otentik memusatkan pada tujuan, meliputi hands-on learning, menghendaki pembuatan hubungan dan kolaborasi, dan penggunaan higher order thinking. Oleh karena itu, maka CTL meminta siswa untuk menampilkan penguasaan tuntasnya akan tujuan dan depth of understanding-nya, dan pada waktu yang sama akan meningkatkan pengetahuan mereka  dan menemukan cara-cara untuk mengembangkannya. Asesmen otentik mendorong siswa untuk menggunakan kemampuan akademik dalam konteks real-world untuk tujuan yang signifikan.

Asesmen otentik akan menguntungkan siswa, sebab:

–          siswa menampilkan secara penuh bagaimana pemahaman material akademik mereka,

–          siswa akan menampilkan dan memperkuat kompetensi mereka, misalnya dalam hal mengumpulkan informasi, menggunakan berbagai sumber, menangani teknologi, dan berpikir secara sistematis,

–          siswa berkesempatan menghubungkan belajarnya dengan pengalaman nyata mereka, dunianya sendiri, dan masyarakat luas.

–          Siswa berkesempatan mengasah higher order thinking-nya,

–          Siswa menerima tanggung jawab dan membuat pilihan-pilihan,

–          Dalam mengerjakan tugas, berkolaborasi dengan orang lain, dan

–          Belajar mengevaluasi tingkat performansinya sendiri.

Jadi dalam menghadapi persoalan-persoalan akademik, perlu dilakukan upaya-upaya agar setiap individu remaja mampu menguasai kompetensi yang dipersyaratkan kepada dirinya. Upaya pendidikan kontekstual diharapkan menjamin dicapainya standar tinggi perolehan pendidikan remaja.

4.  Perilaku seksual beresiko  

  • Hasil penelitian di berbagai daerah di Indonesi menunjukkan peningkatan perilaku seksual para remaja. Sebagian dari remajaIndonesia(persentasi bervariasi) mulai melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis sebelum menikah. Walaupun belum separah di Amerika yang menunjukkan angka 80% laki-laki dan 70% perempuan telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah.
  • Mulai muncul kasus-kasus remaja melahirkan anak di luar nikah.
  • Ditemukan sejumlah penyakit seksual yang sebagian diidap oleh kaum remaja.

Persoalan hubungan seksual beresiko yang dialami oleh para remaja masa kini dapat diuraikan sebagai berikut. Akhir-akhir ini muncul sejumlah peristiwa kehidupan remaja yang mengarah ke keadaan yang memprihatinkan. Sejumlah peristiwa itu meliputi antara lain: perbuatan agresif, penyimpangan seksual, dan pergeseran nilai-nilai pergaulan. Berkaitan dengan penyimpangan perilaku seksual, kondisi-kondisi penyimpangan perilaku ini semakin memprihatinkan, sebab bersamaan dengan isu tersebut muncul isu penyebaran HIV/AIDS di berbagai kalangan. Sementara ini, data menunjukkan bahwa penyebaran HIV/AIDS lebih banyak terjadi akibat hubungan seksual (Adler dan Hendrick, 1991). Perilaku seksual dan penyebaran HIV/AIDS memiliki hubungan yang erat. Hasil-hasil penelitian, menunjukkan bahwa perilaku seksual merupakan sumber pokok dari penyebaran HIV/AIDS (Melchert dan Burnett, 1990; Nevid, 1993).

Di kalangan remaja, ada sejumlah bentuk hubungan seks sebelum menikah, antara lain hubungan seks dengan pacar, berganti-ganti pasangan karena suka sama suka, hubungan seks untuk memperoleh imbalan uang atau materi. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh remaja bahwa mereka melakukan hubungan seksual sebelum menikah antara lain: ingin menunjukkan bukti kesetiaan kepada pacar, kecewa karena dikhianati pacar, ingin mendapatkan pengakuan sebagai remaja modern,  mencari uang dalam rangka mendapatkan simbul-simbul modernitas, dan sebagainya (Jawa Pos, 1-12-1998; Hadisaputro, 1994; Yuwono, 1992; Pali, 1997; Wirawan, dkk 1993). 

Dalam wawancara televisi (RCTI) pada acara Buah Bibir tanggal 13 April 1998 jam 22.00, seorang mahasiswi mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: (1) hubungan seks pertama kali dilakukan pada saat sekolah SLTP, kemudian hamil dan digugurkan dengan pertolongan lewat dukun, (2) pada saat itu (SLTP) tidak tahu bahwa melakukan berhubungan seks dapat berakibat hamil, (3) hubungan seks dilakukan berulang kali sampai akhirnya hamil yang kedua, kemudian digugurkan, (4) berhubungan seks dengan pacar dilakukan demi cinta, di samping itu, hubungan  seks dilakukan karena orang tua tidak setuju ia berpacaran, mengingat adanya  perbedaan agama di antara mereka, dan (5) hamil yang ketiga dilakukan untuk memaksa orang tua menyetujui pernikahan yang didahului dengan kawin lari (Radjah, 1999).

Penelitian di Amerika tentang perilaku seksual remaja menyatakan bahwa 50% remaja perempuan dan 60% remaja laki-laki usia 15-16 tahun pernah melakukan hubungan seks (Tenzer, 1994). Demikian pula penelitian yang dilakukan Kinsey, Pomey dan Martin (1965) menyatakan bahwa remaja usia 16 sampai 20 tahun pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah, untuk pria sebanyak 75% dan wanita sebanyak 29%.

Di Indonesia, penelitian yang dilakukan Universitas Gajah Mada di kota Manado mengenai determinan pengetahuan, sikap, dan praktik perilaku seksual menghasilkan temuan bahwa 26,6% pernah mengadakan hubungan  seks, 5,3% remaja pria pernah menghamili, dan 2,1% remaja wanita pernah hamil (Radjah, 1999). Berbagai perilaku seksual yang dilakukan para remaja usia sekolah menengah tersebut sangat membahayakan karena dapat menimbulkan penyakit. Data penderita PMS (penyakit menular seksual) di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang sebanyak 25,6% adalah pelajar/mahasiswa, terdiri dari 122 orang pria dan 18 orang wanita  (Cholis, 1990). Dapat diprediksi bahwa saat ini keadaan tersebut menjadi meningkat.

Berkaitan dengan HIV/AIDS, Working Group on AIDS Control-Nasional AIDS Commission 1994 memproyeksikan jumlah  kasus AIDS di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 476.000 – 689.000, dan 934.000 – 1.644.000 kasus pada tahun 2005 apabila tidak dilakukan  upaya pencegahan secara intensif, terpadu dan konsisten mulai tahun 1995. Hasil penelitian epidemiologis PMS di Surabaya tahun 1994 menunjukkan bahwa dari 382 pelaut yang diperiksa, ternyata 6% menderita sifilis, 12% trichomoniasis, 13% chlamidia dan terinfeksi GO 12%.  Dari 511 sopir truk yang diperiksa diperoleh hasil 0% sifilis, 4% trichomoniasis, 1% chlamidia dan 1% GO.  Sedangkan dari 30 orang kuli pelabuhan (buruh) yang diperiksa, diperoleh hasil 0% sifilis, 20% trichomoniasis, 3% chlamidia, dan 13% GO. Bila dilihat dikalangan PSK (N=2078), prevalensi PMS: 10% sifilis, 6% trichomoniasis, 11% chlamidia, dan 12% GO.  Dari penelitian ini juga terungkap bahwa informasi HIV/AIDS dan PMS yang diterima kebanyakan belum dipahami secara benar, dan umumnya mereka tidak merasa beresiko tertular (Kambodji, 1996).

Di samping itu, ditemukan bukti lain bahwa penderita HIV/AIDS di Indonesia kebanyakan usia produktif, antara 19 sampai 49 tahun dan kebanyakan dialami oleh kaum wanita (Pali, dkk, 1997).  Hal ini berarti bahwa (1) HIV telah terjangkit lebih awal dari usia di atas, (2) kemungkinan besar hubungan seksual telah diawali pada usia remaja, dan (3) wanita merupakan kelompok yang rentan akan penularan HIV/AIDS.

Kelompok wanita sebagai kelompok yang rentan atas kemungkinan penularan penyakit seksual dan HIV/AIDS perlu diidentifikasi tersendiri. Di Amerika, menurutCampbelldanBaldwin(1991) wanita-wanita telah mengalami perubahan perilaku seksual melalui mau menggunakan kondom, melakukan hubungan seks dengan orang terbatas, mengurangi frekuensi hubungan seks, menghindari hubungan seks dengan orang asing.

Bagaimanakah sebenarnya pengetahuan remaja tentang perilaku seksual dan HIV/AIDS dan sikap mereka terhadap perilaku seksual dan HIV/AIDS tersebut? Yuwono, dkk (1992) mengemukakan bahwa pengetahuan remaja tentang masalah seksual dan berbagai penyakit kelamin (termasuk AIDS) cukup dan sebagian cenderung salah. Sejumlah penelitian lain menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar, tidak menjamin sikap dan perilaku yang positif (Ross dan Rosser, 1989; Segest, dkk, 1991; Campbell dan Baldwin, 1991; Ajdukovic dan Ajdukovic, 1991; DuRant, dkk, 1992; Pali, 1997).  Remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah, menurut Ajdukovic dan Ajdukovic (1991), cenderung benar dan tinggi tingkat pengetahuannya tentang kehidupan seksual, namun demikian, tidak diimbangi dengan sikap dan perilaku yang tepat dalam aktivitas seksualnya.  Artinya, walaupun pengetahuan mereka tinggi mengenai kehidupan seksual dengan berbagai resikonya, tetap saja melakukan hubungan seks di luar nikah dan berganti-ganti pasangan (Suara Indonesia, 2, 4, 5 Desember 1998; Hofferth dan Hayes, dalam Melchert dan Burnett, 1990).

5.  Masalah Emosional  

  • Lebih dari 15% anak muda mengalami masalah-masalah emosional serius yang memerlukan treatment khusus.
  • Sekitar 20% remaja mengalami gangguan depresi.
  • Lebih dari 20% remaja putri mengalami gangguan perilaku makan,  dan sebagian daripadanya mengalami anorexic.

Dalam pembicaraan sehari-hari persoalan emosional dikenal dengan sebutan stress. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan stres dan bagaimana mengelolanya? Pada bagian ini akan dikemukakan secara khusus mengenai hakekat stres tersebut.

Stres itu merupakan “baju dan air matanya” pengalaman fisik kita ketika menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang terus-menerus berubah.  Stres memiliki pengaruh fisik dan emosi, dan dapat menciptakan perasaan positif dan negatif. Pengaruh positif, misalnya: stres membantu mendorong kita untuk berbuat, menghasilkan kesadaran baru dan perspektif baru. Pengaruh negatif dapat berupa perasaan curiga, menolak, marah, dan depresi yang selanjutnya dapat mengarah ke masalah kesehatan seperti sakit kepala, sakit perut, sakit kulit, insomnia, borok, tekanan darah tinggi, sakit hati, dan stroke.

Peristiwa seperti ditinggal mati orang yang dicintai, kelahiran bayi, promosi pekerjaan, hubungan dengan teman baru, semuanya dapat membuat kita mengalami stres, karena kita harus mengadakan penyesuaian diri kembali dalam kehidupan kita.  Dalam proses penyesuaian diri terhadap berbagai keadaan tersebut, stres akan membantu atau menghambat kita bergantung pada bagaimana kita mereaksinya. Menghadapi stres, ada dua kemungkinan reaksi.  Pertama, menghadapi stres dengan jalan mengurangi atau membatasi (reduction atau elimination).  Kedua, menghadapi stres melalui mengelolanya (management).

Bagaimanakah saya mengurangi/membatasi stres dalam kehidupan saya?

Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa stres memiliki nilai positif dalam kehidupan kita.  Batas waktu (deadlines), kompetisi, konfrontasi, dan bahkan frustrasi semuanya akan memperkaya hidup kita. Oleh karena itu, tujuan utama kita sebenarnya tidak untuk membatasi stres, tetapi bagaimana kita mengelola (me-manage) stres dan bagaimana menggunakannya untuk keperluan hidup kita. Catatan untuk itu, bahwa stres sendiri tidak serta-merta mencukupi dalam hidup kita, kita perlu menemukan tingkat optimal dari stres yang mampu memotivasi orang secara individual (artinya tidak untuk orang lainnya).

Bagaimanakah stres berguna secara optimal bagi saya?

Tidak ada ukuran tunggal seberapa berat tingkat stres berguna secara optimal dan berlaku bagi semua orang.  Kita semua, secara individual memiliki ciri unik. Adakalanya, sesuatu menjadikan seseorang stres, tetapi bagi orang lainnya ditanggapi secara enjoy saja. Ketika kita setuju bahwa suatu kejadian tertentu menimbulkan stres, kita seringkali berbeda dalam meresponnya, baik secara fisiologis maupun psikologis. Orang yang gemar dengan tantangan akan bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, sehingga ia akan menjadi stres jikalau ia harus duduk melakukan pekerjaan itu-itu saja dan bersifat rutin. Sementara orang lainnya menjadi stres berat kalau berpindah-pindah pekerjaan.

 Bagaimana saya dapat me-manage stres secara lebih baik?

Mengidentifikasi stres yang ringan dan menyadari pengaruh-pengaruhnya pada kehidupan kita, tidaklah mencukupi untuk mengurangi pengaruh stres yang membahayakan. Senada dengan banyaknya sumber stres, maka ada banyak kemungkinan bagaimana me-manage-nya.  Namun demikian, semuanya dilakukan menuju ke arah terjadinya perubahan, yakni mengubah sumber stres atau mengubah reaksi kita terhadap sumber stres itu. Bagaimana melakukannya?

  1. Sadari stresor-stresor[1] anda, emosi-emosi anda, serta reaksi-reaksi fisik anda[2]. Perhatikan penderitaan (distress) anda, jangan sampai diabaikan. Jangan memutar-balikkan masalah anda. Tentukan kejadian-kejadian apakah yang membuat anda menderita. Apakah anda sudah menceriterakan kepada diri sendiri mengenai makna pribadi dari kejadian-kejadian itu? Tentukan bagaimanakah respon tubuh anda terhadap stres. Apakah anda menjadi nervous atau mengalami gangguan secara fisik? Jika “YA”, dalam cara yang bagaimana?
  2. Mengenali apakah yang hendak anda ubah. Dapatkah anda mengubah stresor-stresor melalui menghindari atau membatasinya secara lengkap? Mampukan anda mengurangi intensitasnya (me-manage-nya dalam hitungan hari atau minggu)? Mungkinkah anda memperpendek waktu untuk membuka stres anda? Dapatkah anda memanfaatkan waktu dan energi yang dibutuhkan untuk keperluan membuat suatu perubahan (menentukan tujuan, teknik manajemen waktu, dan menggunakan strategi yang paling membantu)?
  3. Kurangi reaksi emosional anda terhadap stres. Reaksi stres dipicu oleh persepsi anda terhadap bahaya–bahaya fisik maupun bahaya emosional. Apakah anda memandang stresor-stresor anda dalam istilah-istilah yang berlebihan dan/atau meletakkannya dalam situasi yang sulit dan membuatnya seperti bencana? Apakah anda mereaksi secara berlebihan dan memandangnya sebagai suatu keharusan? Apakah anda merasakan bahwa harus selalu mampu mengatasi dalam setiap situasi? Saran: bekerjalah pada cara-cara yang lebih moderat; coba lihat stres sebagai hal yang dapat anda atasi. Cobalah untuk menenangkan emosi anda. Jangan terlalu larut dalam aspek-aspek negatif dan “what if’s” (pokoke).
  4. Belajarlah mereaksi secara fisik terhadap stres secara moderat. Bernafaslah pelan-pelan dan dalam-dalam, cara ini akan membuat hati anda tenang dan kembali normal. Teknik relaksasi dapat mengurangi ketegangan otot. Biofeedback elektronik dapat membantu anda mengontrol hal-hal seperti ketegangan otot, rasa gundah hati, dan tekanan darah. Pengobatan, sebagaimana dilakukan dokter, dapat membantu memperpendek waktu dalam memoderatkan reaksi fisik anda. Belajar untuk memoderatkan reaksi anda merupakan solusi yang panjang.
  5. Bangunlah cadangan kekuatan fisik anda. Lakukan fitness kardiovaskular tiga sampai empat kali seminggu (jalan-jalan, renang, bersepeda, lari-lari kecil).  Makan secara seimbang dengan nutrisi tepat.  Hindari nikotin, kofein berlebih, dan stimulan lainnya. Padukan antara kerja dan santai. Cukup tidur, konsisten dengan jadwal tidur anda sebisa mungkin.
  6. Pertahankan persediaan emosional anda. Kembangkan beberapa hubungan berkawan/hubungan saling menunjang. Kejarlah tujuan yang realistik yang paling berarti bagi hidup anda, ketimbang tujuan-tujuan lain yang bagi anda tidak terlalu penting. Bayangkan beberapa kemungkinan frustrasi, kegagalan, dan kesengsaraan yang menghadang, namun anda harus selalu senang dengan diri sendiri (be friend to yourself).

            

 

Bagaimana belajar dan/atau mengajar managemen stres?

 

  1. Identifikasi kebutuhan audien (individu atau kelompok).
  2. Tetapkan tujuan yang sesuai dan sasaran belajar yang spesifik untuk sesi pelatihan spesifik.
  3. Pilih isi yang sesuai dengan tujuan, sasaran belajar, dan waktu yang tersedia
  4. Pilih strategi teaching/learning yang sesuai berdasarkan pada umur, tingkatan bidang pendidikan, jabatan, minat,  fasilitas dan lingkungan.
  5. Urutkan strategi intervensi secara tepat.
  6. Jelaskan pentingnya mengatur pendirian, transisi internal.
  7. Sediakan peluang untuk praktek yang sesuai dengan audien.
  8. Jelaskan pentingnya modeling.
  9. Pertunjukkan ketrampilan bertingkahlaku baik.
  10. Analisis dinamika kelompok di (dalam) situasi yang disimulasikan dan mengidentifikasi strategi untuk menangani situasi spesifik, seperti anak-anak lambat belajar, anggota kelompok yang bersifat menentang.
  11. Evaluasi perolehan pemahaman dan ketrampilan.
  12. Berikan umpan balik dan penguatan yang sesuai.
  13. Tetapkan tingkat pencapaian yang sesuai.
  14. Pilih peralatan, audio visual, material dan fasilitas pembelajaran yang sesuai.
  15. Evaluasi pelatihan dan memodifikasinya berdasar pada hasil evaluasi.
  16. Tetapkan suatu metoda untuk tindak lanjut untuk mengevaluasi efektivitas program untuk pengembangan masa depan.
  17. Jelaskan peran strategi modifikasi perilaku di (dalam) meningkatkangayahidup.
  18. Menerapkan teori motivasional di (dalam) merancang strategi pembelajaran dengan menggunakan tipe kelompok atau individu khusus.
  19. Diskusikan pentingnya umpan balik dan penguatan di (dalam) belajar manajemen stres dalam menghadapi ketrampilan.
  20. Identifikasi bagaimana bagian atau keseluruhan belajar sebagai hal yang penting mengajar ketrampilan relaksasi.
  21. Jelaskan kebutuhan akan kemajuan dan pemilihan waktu yang sesuai di (dalam) strategi intervensi pembelajaran.
  22. Jelaskan bahwa belajar bergantung keadaan.

 

Atas dasar temuan-temuan di atas, menjadi kewajiban bagi pendidik untuk memperhatikan dan berupaya menemukan program-program pecegahan dan penyembuhan bagi anak-anak yang menghadapi problema-problema di atas. Oleh karena itu, pada bahasan berikut akan dikemukakan bagaimana sebenarnya perilaku bermasalah terjadi pada kaum remaja.

 

B. Hakekat Perilaku Beresiko bagi Kaum Remaja

Perilaku bermasalah yang terus terjadi dan sejalan beriringan dengan permasalahan jaman ini mengandung resiko bagi kaum remaja. Banyak ahli ilmu pengetahuan sosial yakin bahwa kekurangan kendali secara mendasar selama masa remaja mengarah ke terbentuknya profil resiko tinggi ( Gottfredson, 1994). Berikut ini dikemukakan beberapa pemikiran mengenai upaya pencegahan bagi terjadinya perilaku bermasalah yang mengarah ke perilaku beresiko tinggi.

  1. Pola perilaku bermasalah menunjukkan gejala yang sama baik kelompok yang beresiko tinggi maupun yang beresiko rendah. Individu yang memiliki banyak masalah, beberapa masalah yang dialaminya sejajar dengan perubahan-perubahan perkembangan selama mengarungi hidup sebagai remaja. Walaupun frekuensi dan intensitas masalah berbeda-beda, namun keduanya baik kelompok yang beresiko tinggi maupun yang beresiko rendah akan membentuk perilaku yang menyimpang pada masa remaja akhir dan awal dewasa. Oleh karena pola resiko tersebut dapat meningkat, maka usaha-usaha pencegahan harus menjadi pusat perhatian bagi semua anak selama masa remajanya.
  2. Perilaku bermasalah secara dramatis dapat ditemukan pada saat anak memasuki masa remaja awal. Oleh karena perilaku beresiko dan bermasalah tersebut berakar dari masa pubertas dan berlanjut terus sampai masa dewasa awal, maka pencegahan harus dilakukan sejak anak menjelang memasuki masa remaja. Keadaan tidak baik yang mulai tampak jelas di antara kelompok anak sekolah dasar sudah mengisyaratkan perlunya mewaspdai dan mnyiapkan usaha-usaha pencegahan mulai masa kanak-kanak.
  3. Dalam wacana penyimpangan perilaku, ditunjukkan bahwa kelompok beresiko tinggi sebenarnya bermula dari kelompok yang beresiko rendah. Sumber-sumber untuk melakukan pencegahan terutama harus dialokasikan bagi remaja-remaja yang diprediksi memiliki resiko tinggi. Usaha pencegahan universal bagi semua remaja harus dipertahankan, namun sumber-sumber pencegahan yang signifikan harus dialokasikan untuk mengurangi kesenjangan  penyimpangan antara kelompok beresiko tinggi dan beresiko rendah.
  4. Perilaku bermasalah mulai menurun kadarnya setelah orang berusia sekitar 23 tahun. Secara dramatis beberapa perilaklu bermasalah yang dialami kaum remaja berangsur-angsur menurun selama masa dewasa awal. Pada saat berusia 22 sampai 27 tahun penyimpangan perilaku mengalami penurunan hampir 50%, dan terus menurun sampai menginjak usia dewasa. Usaha-usaha pencegahan harus diperhatikan benar bila pada usia remaja akhir dan dewasa awal tingkahlaku bermasalah masih tampak tinggi. Namun tidak perlu terlalu khawatir, sebab pada akhirnya perilaku bermasalah akan mengalami penurunan sendiri, kecuali kasus khusus.
  5. Selama 10 tahun, antara usia 13 sampai 23 tahun, prilaku bermasalah menunjukkan angka yang tinggi baik kelompok beresiko tinggi maupun beresiko rendah. Pada usia tersebut perilaku bermasalah semakin menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Usaha-usaha pencegahan dan intervensi yang efektif harus menjadi target utama ketika anak berada pada decade tersebut.

C.  Implikasi Bagi Pengembangan dan Evaluasi Program

Tantangan untuk program pencegahan yang dikembangkan saat ini adalah intervensi dini melalui menggali sumber daya yang diperlukan bagi mereka yang berada pada resiko terbesar. Suatu strategi ganda harus dikembangkan yang melibatkan atau padu antara remaja-remaja yang memerlukan pencegahan primer, sekunder, dan tertier. Keberagaman usaha pencegahan yang tepat diharapkan mampu memenuhi segala kebutuhan semua remaja. Upaya ganda ini mencakup program pendataan status resiko yang dialami remaja secara individual dan membantu mereka mengakses pelayanan-pelayanan pencegahan yang tepat dipasangkan dengan tingkat-tingkat resikonya.

Dalam pendekatan pencegahan ganda tersebut program utamanya (primer) harus tersedia bagi semua orang tua dan anak remajanya.  Intervensi sekunder harus dikembangkan dan tersedia bagi orang tua dan remaja-remaja yang teridentifikasi memiliki faktor resiko.  Terakhir, intervensi klinis tertier sejak awal harus tersedia bagi remaja yang jelas-jelas mengalami satu atau lebih masalah.  Strategi intervensi ganda memberi jaminan ketersediaan program yang tepat bagi semua level masalah mendadak.  Dengan pendekatan ini, populasi yang beresiko rendah akan secara lebih cepat terlayani sehingga mereka tidak berkembang ke arah perilaku masalah dengan resiko tinggi.

Program pencegahan dan intervensi ganda akan melakukan pendataan awal mengenai perilaku bermasalah. Tanpa pendataan di atas, usaha pencegahan akan terbatas pada pendekatan primer, yang tidak cukup intensif untuk membantu penyimpangan-penyimpangan yang beresiko lebih tinggi. Strategi asesmen, sebagai bagian pelayanan intervensi, menjadi bagian yang penting saat tampak gejala remaja mengarah ke perilaku beresiko tinggi. Semua remaja di masyarakat kita perlu didata, dapat melalui sekolah, untuk menentukan gambaran umum status resiko anak-anak remaja kita.  Anak-anmak yang ditengarai masuk ke dalam profil beresiko tinggi perlu ditelaah lebih intensif. Hasil yang berupa informasi status resiko dapat digunakan untuk merancang program intervensi secara lebih tepat.

 

RANGKUMAN

Dengan jelas tampak bahwa perilaku bermasalah menyebar dan cepat mencapai puncak selama masa remaja dan awal kedewasaan. Kebutuhan akan program pencegahan dini terhadap perilaku bermasalah menjadi nyata. Usaha-usaha ini harus diarahkan baik remaja yang beresiko tinggi maupun remaja yang beresiko rendah, dengan informasi yang dimodifikasi untuk profil perilaku beresiko secara individual. Strategi pencegahan dan intervensi ganda menjadi model yang efektif komprehensif untuk memenuhi kebutuhan beragam populasi remaja. Program pencegahan majemuk yang terdiri atas strategi primer, sekunder, dan trertier dijelaskan sebagai berikut.

Primer.     Pencegahan dirancang untuk semua remaja tanpa kecuali, dengan asumsi bahwa semua remaja membutuhkan informasi cara-cara untuk mencegah terjadinya perilaku target (perilaku bermasalah). Strategi ini dimaksudkan sebagai strategi universal berlaku untuk semua remaja. Dilakukan oleh orangtua dan berkolaborasi dengan anak remajanya.

Sekunder. Pencegahan ditujukan kepada anggota populasi remaja yang oleh lingkungannya atau karakteristik individualnya diduga beresiko. Secara khusus tidak meliputi perilaku yang menunjukkan gejala untuk dicegah, atau perilakunya belum  teridentifikasi secara pasti sebagai perilaku beresiko tinggi.

Tertier.   Usaha intervensi terhadap perilaku yang benar-benar menunjukkan gejala beresiko tinggi. Intervensi ini dilakukan secara intensif oleh ahli dan dirancang untuk mengubah perilaku bermasalah dan juga untuk mencegah perilaku bermasalah kambuh di kelak kemudian hari.

PENDALAMAN

Selesaikan tugas berikut dengan seksama!

  1. Buatlah bagan permasalahan remaja sehingga menjadi ringkas dan jelas mengenai jenis masalah, gejala masalah, dan sumber-sumber penyebabnya!
  2. Pilih salah satu permasalahan remaja: kejahatan, penyalahgunaan obat, kegagalan akademik, perilaku seksual beresiko, atau gangguan emosional. Kembangkan satu upaya guru untuk mencegah agar permasalah yang Anda pilih tersebut tidak diidap oleh remaja, siswa-siswa di sekolah!

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Bandura, A. (1973). Aggression: A social learning analysis.Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Berkowitz, L. (1995). Aggression: Its causes, consequences, and control (Alih Bahasa: H. W. Susiatni).Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.

Breakwell, G. M. (1998). Coping with aggressive behaviour (Alih bahasa: Bernadus Hidayat). Deresan,Yogyakarta: Kanisius 

Daniel, J. A. (2002). Assessing threats and school violence: Implication for counselor. Journal of Counseling and Development, 80(2), 215-218.

Dishion, T. J., Andrews, D. W., Kavanagh, K., & Andrews, D.W. (In press). Preventive interventions for high-risk youth: The Adolescent Transitions Program. In B McMahon & R.D. Peters (Eds.), Childhood Disorders, substance abuse and delinquency: Prevention and Early Intervention Approaches.Thousand Oaks,CA: Sage Publications

Dryfoos, J. (1990). Adolescents at Risk: Prevalence and Prevention.New York:OxfordUniversity Press

Feisal, J. A. (1997). Pluralisme budaya Indonesia. Mimbar Pendidikan: Jurnal Pendidikan, 1, 16-21.

Fromm, E. (2001). The anatomy of human destructiveness  (Diterjemahkan oleh Imam Mutaqin). Yogyakarya: Pustaka Pelajar.

Gottfredson, M. (1994). General theory of adolescent problem behavior. Adolescent Problem Behavior, Ketterlinus, R. & Lamb, M. (Eds.), Hillsdale, N. J.: Erlbaum Press,

Lerner, R. (1995). America‘s Youth in Crisis.Thousand Oaks,CA: Sage, Publications,.

Rice, K. G., and Myer, A. L. (1994). Preventing depression among young adolescents: preliminary process results of a psycho-educational intervention program. Journal of Consulting and Development, 73, 147-152.

Lewinsohn, P. M., Clarke, G. N., Hops, H., & Andrews, J. (1990). Cognitive-behavioral treatment for depressed adolescents. Behavior Therapy, 21, 385-401.


[1] Stresor = masalah khusus, isu, tantangan, konflik pribadi (eksternal/internal).

[2] Reaksi stres = reaksi-reaksi individual terhadap stresor (berupa tanda-tanda atau gejala-gejala fisiologis, behavioral, emosional, kognitif). Apabila akibat stres berlanjut, maka akan berkembang menjadi strain yaitu suatu keadaan sakit sebagai akibat stres (baca Stres? butir 4).

 

oleh bapak sujimat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s