KECERDASAN EMOSIONAL

BAB VI

KECERDASAN EMOSIONAL

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa mampu:

  1. membuat definisi inteligensi emosional;
  2. membandingkan  peran inteligensi rasional dan inteligensi emosional ;
  3. menunjukkan perilaku-perilaku sebagai cerminan inteligensi emosional ;
  4. menyebutkan fungsi inteligensi emosional dalam berbagai bidang ;
  5. menyebutkan upaya pendidik dalam mengembangkan inteligensi emosional

 

PEMBAHASAN

Pembahasan mengenai inteligensi emosional akan diawali dengan  pembahasan kembali mengenai inteligensi pada umumnya.  Pembahasan ini penting terkait dengan peran dan fungsi kemampuan berpikir rasional dan kemampuan berpikir emosional yang dikendalikan susunan syaraf otak manusia. Selanjutnya baru diuraikan secara lebih khusus hal-hal yang berkaitan dengan inteligensi emosional. Hal-hal khusus dimaksud termasuk di dalamnya hakekat inteligensi emosional, aspek-aspek inteligensi emosional, pentingnya inteligensi emosional dalam pendidikan, dan  apa yang harus diperhatikan pendidik dalam pengembangan inteligensi emosional.  

 

  1. A.          Kedudukan Kecerdasan Emosional

Pada waktu lalu, orang mengartikan inteligensi sebagai kemampuan memecahkan masalah dan bersifat umum. Inteligensi dapat diukur dan biasanya dinyatakan dalam angka (quotient). Oleh karena itu banyak orang menyebut tes inteligensi sebagai tes IQ–suatu cara penyebutan yang tidak tepat.  Sejak tahun 80-an, pandangan mengenai inteligensi ini ada pergeseran dari “sesuatu” yang bersifat tunggal menjadi “sesuatu” yang bersifat majemuk. Gardner (1991) atas dasar penelitian-penelitiannya yang dipengaruhi oleh studi neurofisiologi dan antropologi mengemukakan hakekat inteligensi sebagai kemampuan yang bersifat majemuk.

Temuan-temuan Gardner  menghantarkan pada pendefinisian inteligensi sebagai  “kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan produk yang berguna dalam satu seting budaya atau lebih”. Definisi tersebut direvisi lagi menjadi “potensi biopsikologis untuk memproses informasi yang dapat digiatkan dalam suatu seting budaya untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan produk yang berguna dalam suatu budaya”. Atas dasar temuan-temuan awalnya, Gardner memilah inteligensi menjadi tujuh yaitu verbal-linguistic; logical-mathe-matical; spatial; bodily-kinesthetic; musical; interpersonal; dan intrapersonal.

Pada tahun 1999, Gardner mengemukakan beberapa kategori inteligensi lainnya yaitu naturalistic intelligence, spiritual intelligence, dan existential intelligence. Bagaimanakah menggambarkan inteligensi manusia? Inteligensi digambarkan dalam bentuk profil dimana setiap orang akan memiliki kecenderungan kuat dalam satu inteligensi atau lebih.

Dalam kaitan dengan pendidikan, pandangan Gardner dapat disarikan sebagai berikut: (1) pendidik mampu dalam bidang bahasa, berbicara secara efektif, dan menulis secara terampil; (2) pendidik menampilkan keterampilan interpersonal secara kuat, mereka memahami aspirasi dan ketakutan orang lain; (3) pendidik berkemampuan intrapersonal yang baik, menyadari kelebihan, kelemahan, dan tujuan sendiri; dan (4) pendidik yang efektif tahu akan keberadaannya, membantu orang lain memahami situasi hidup, mengklarifikasi setiap tujuan, dan merasa berarti dalam setiap kehidupan manusia.

Di samping itu, seorang pendidik juga harus memiliki karakteristik kreatif, kepemimpinan, bermoral, dan arif. Walaupun sebenarnya inteligensi itu tidak berurusan dengan hal moral dan tak bermoral, tetapi ada semacam konsensus dimana individu-individu menggunakan inteligensinya terbelah ke cara-cara yang prososial dan anti sosial.  Dalam hal ini, inteligensi spiritual memang masih menjadi polemik, benarkah itu sebagai inteligensi? Karena, pada hakekatnya inteligensi itu bebas dari nilai, sementara spiritualitas sarat dengan nilai. Walaupun demikian, dalam sejumlah aspek yang berkaitan dengan moral hendaknya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peristiwa pendidikan.

Perkembangan otak manusia dan fungsinya hampir semua terjadi ketika anak berusia dini.  Perhatikanlah pandangan Bloom sebagai berikut:

–                Anak usia 0 – 4 tahun, 50% kemampuan otaknya telah berfungsi.

–                Anak usia 4 – 8 tahun 80% kemampuan otaknya telah berfungsi.

–                Anak usia 8 tahun ke atas tinggal mengembangkan 20% kemampuan otaknya.

Perkembangan otak terjadi kalau diasah terus, sayangnya dalam penelitian ditunjukkan bahwa kebanyakan anak hanya dikembangkan kemampuannya sekitar 5%. Dengan demikian, seharusnya sejak dini pendidikan memberi banyak kesempatan anak untuk mengembangkan fungsi otaknya. Walaupun pada usia-usia yang lebih tinggi hanya sebagian kecil saja dari kemampuan otak yang dikembangkan, namun apabila dasar pengembangan kemampuan otak telah diletakkan pada pendidikan usia dini, maka pada usia-usia selanjutnya, yakni ketika anak ada di masa remaja akan memberi kemungkinan yang lebih baik daripada sejak awal anak tidak dipersiapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Motor

Sensori

 

 

 

 

 

Spasial koordinatif

 

W

 

B

 

Perencanaan gerakan yang kompleks & pikiran kolaboratif

 

 

 

Pemrosesan visual dari kata

 

 

 

 

 

 

 

Auditori

 

Visi

 

 

 

Penamaan obyek

 

 

 

              

 
   

 

B  = Broca’s area = pusat pembentukan kata

W = Wernicke = pemahaman bahasa

 

 

 

Gambar 1: Topografi Otak Manusia

Dalam gambar topografi otak tampak bahwa kemampuan berpikir manusia terdiri atas delapan aspek. Kedelapan aspek tersebut harus dikembangkan dalam setiap diri anak didik.  Oleh karena secara dasar setiap anak memiliki potensi berupa kemampuan  berpikir, maka tugas pendidik sebenarnya terutama terletak pada pemberian kesempatan seluas-luasnya bagi anak didik untuk mengasah otaknya melalui menerapkan apa yang difahami dalam kehidupan nyata. Dalam kaitan ini Gardner(1999) menyebutkan bahwa anak didik yang dikatakan memiliki pemahaman yang mendalam (deep understanding) adalah anak yang mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Belajar tidak berhenti sampai anak memperoleh nilai dalam raport misalnya, tetapi dituntut bagaimana anak berperilaku dalam hidup sehari-hari di seting apa saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CORTEX

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUB-CORTEX

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemampuan berpikir rasional di cortex              

Kemampuan berpikir emosional di sub cortex

 

 

 

Gambar 2: Letak Inteligensi (Kemampuan berpikir)

 

Umumnya urusan belajar dan berpikir hanya dikaitkan dengan cortex yakni tempat dimana  informasi diterima dari sensory receptor yang diolah lebih lanjut pada area tertentu (disimpan s/d dimunculkan kembali melalui response generator dan effector).  Pandangan ini dibantah oleh Goleman ketika ia mengembangkan pandangannya tentang inteligensi emosional. Goleman pada tahun 1995 menulis pentingnya emosional dalam mempengaruhi kinerja manusia.  Inteligensi emosional tersebut berpusat pada bagian sub-cortex khususnya di bagian limbik dan akan membentuk amigdala. Perlu diketahui bahwa antara cortex & sub-cortex dihubungkan sejumlah jaringan syaraf yang kompleks yang memelihara hubungan kerja antara keduanya.  Jadi urusan belajar bukan saja terkait dengan  kemampuan  berpikir rasional, melainkan ada campur tangan dari kemampuan berpikir emosional yang berpusat di sub cortex.

Dalam pendidikan, hakekat inteligensi emosional perlu difahami benar oleh setiap pelaku pendidikan. Walaupan kemampuan berpikir rasional sebagai modal utama dalam berpikir, namun adakalanya terjadi pembajakan emosional (emotional hijacking) yang bisa merusak kerja kemampuan berpikir rasional manusia. Dalam hal ini, secara tidak disengaja kemampuan berpikir emosional yang dikendalikan dari sub cortex akan bekerja dan berpengaruh besar terhadap cara-cara manusia berpikir.  Bisa jadi kemampuan berpikir emosional justru mengalahkan kemampuan berpikir rasional.

  1. B.           Kecerdasan Emosional

Temuan Gardner tentang inteligensi menghantar ke penjelajahan lebih lanjut, sehingga muncul pandangan baru tentang inteligensi, misalnya inteligensi emosional, inteligensi sosial, inteligensi spiritual, dan mungkin akan berkembang sebutan inteligensi lainnya.

Seberapa penting kita membahas inteligensi emosional bagi seorang pendidik? Sejauh ini orang cenderung mengatakan akan pentingnya inteligensi rasional pada umumnya.  Namun dalam berbagai studi terbukti bahwa hanya 10%-20% inteligensi rasional itu menentukan keberhasilan hidup. Itulah sebabnya, mengapa Goleman (1995) merujuk bahwa inteligensi emosional sebagai “master aptitude” sebab ia telah membimbing penggunaan kemampuan intelektual dan kemampuan lainnya.

Inteligensi emosional sering dipandang sebagai istilah yang sangat luas, namun pada intinya ia adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan melabeli perasaan.  Secara lebih jelas, Solomey mendefinikan inteligensi emosional sebagai a set of competencies that have to do with understanding emotions in oneself and in others, regulating emotions in oneself and in others.  Most importantly being able to use your emotions as a source of information with problem solving, being creative, and dealing with social situations.  Kemampuan ini dapat dirinci sebagai kemampuan untuk (1) memahami diri sendiri, (2) mengekspresikan suatu emosi secara tepat, (3) memotivasi diri sendiri, (4) mengatur emosi sendiri, (5) memecahkan masalah dan mengevaluasi resikonya, (6) menyelesaikan konflik, dan (7) empati.

Seseorang yang inteligensi emosionalnya tinggi memiliki ciri-ciri: (1) lebih percaya diri, (2) harga diri tinggi, (3) memiliki sedikit masalah perilaku, (4) lebih optimis, (5) mampu menangani emosi sendiri secara lebih baik, dan (6) hidup bahagia.

a. Pedidik

    a

 

     b

b. Anak/Siswa

 

 

 

 

 

 

 

   a1

 

 

 

 

   a2

 

 

 

 

 

    

  Gambar 3: Empati Pendidik kepada Anak/Siswa

Satu kemampuan emosional yang menjadi primadona adalah kemampuan empati. Bagaimanakah kemampuan ini dilakukan oleh pendidik? Empati merupakan kemampuan memasuki dunia pribadi orang lain tanpa kehilangan jati dirinya sendiri atau tidak menjadi lebur dalam pribadi orang lain. Gambar 3 menunjukkan bagaimana pendidik bertindak empatik pada orang yang dididiknya. Suatu saat pendidik (a) memasuki dunia pribadi orang yang dididik (a1), namun dia tidak berubah menjadi pribadi orang yang dididiknya itu (b). Pada saatnya dia ke luar lagi menjadi dirinya sendiri (a2).

Di samping empati, kemampuan emosional harus tampak pada kemampuan mendengarkan.  Kemampuan sebagai pendengar yang aktif menuntut keterampilan  memperhatikan, menginterpretasi, dan mengingat stimuli-stimuli yang kita tangkap dari pembicaraan.  Dalam kaitan hubungan interpersonal, mendengarkan merupakan ketrampilan yang sangat penting.  Bahkan suatu penelitian terhadap kepala personalia pada tiga ratus perusahaan ditemukan bahwa mendengarkan secara efektif menduduki peringkat teratas di antara keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki oleh manajer/pemimpin.

Demikianpun pada hubungan pendidik dan anak/siswa, keterampilan yang paling penting bagi pendidik adalah kemampuan mendengarkan. Apabila ingin menjadi pendengar aktif yang unggul, perhatikan 14 penanda kemampuan mendengarkan secara aktif berikut: be motivated, make eye contact, show interest, avoid distracting actions, empathy, take in the whole picture, ask questions, paraphrase, don’t interrupt, integrating what’s being said, don’t over-talk, confront your biases, make smooth transitions between speaker and listener, be natural.

 Dalam pergaulan, orang akan menampilkan kemampuan memahami orang lain dan bertindak sesuai pemahaman mereka. Kemampuan tersebut ada sejak usia dini. Anak dapat menampilkan sikap empatik. Sikap empatik dapat muncul bergantung pada kemampuan anak untuk mengendalikan diri. Tanda-tanda anak yang mampu mengendalikan diri atau mampu mengelola emosinya muncul dalam bentuk sanggup menunggu tanpa merengek, berdebat atau membujuk orang lain tanpa marah.  Menjalin hubungan dengan orang lain secara harmonis membutuhkan kemampuan tersebut. Selain itu perlu dipahami bahwa kemampuan menangani emosi merupakan seni (art) menjalin hubungan.

Kunci pokok kompetensi sosial adalah bagaimana orang mengekspresikan perasaan-perasaannya. Paul Ekman menggunakan istilah tata cara tampilan (display rules) mengenai penampilan perasaan-perasaan tersebut yang banyak dipengaruhi budaya setempat.

Kita dididik untuk mempelajari tata cara tampilan emosi sejak dini. Pendidikan emosi dilakukan orangtua melalui menyuruh langsung anak untuk menampilkan emosi tertentu atau melalui contoh tampilan oleh orangtua. Dalam pembelajaran perasaan, emosi merupakan medium tetapi sekaligus juga pesan. Tampilan emosi akan menerima konsekuensi langsung atas pengaruh yang ditimbulkan kepada orang yang terkena.  Atas reaksi orang lain, kemungkinannya, anak akan menjadi bahagia atau sebaliknya menjadi kecewa atau terluka.

Penguasaan orang akan keterampilan mengekspresikan emosi dapat menular kepada orang lain. Dalam contoh ekstrim, kalau kita tenang menghadapi orang yang sedang siap perang, maka emosi marah orang yang siap perang tersebut akan reda. Perlu diketahui bahwa sebagian besar penularan emosi melalui cara yang tidak kentara, merupakan bagian “transmisi” yang diam-diam berlangsung pada setiap perjumpaan.  Demikian juga, penerimaan atas pengiriman emosi akan diikuti dengan cara yang tidak kentara pula.

Hal pokok yang menentukan pengiriman dan penerimaan suasana hati adalah sinkroni.  Sinkroni pendidik dan anak yang dididik di sekolah menunjukkan seberapa jauh hubungan mereka.  Sebagai contoh, semakin erat koordinasi gerak pendidik-anak didik akan semakin besar perasaan bersahabat, kebahagiaan, antusiasme, minat, dan keterbukaan mereka ketika melakukan interaksi. Mengenai inti pengaruh emosi bergantung pada karisma emosional seseorang.  Singkatnya, koordinasi suasana hati merupakan inti dari setiap hubungan.  Apabila seseorang pandai menyesuaikan dengan suasana hati orang lain, maka ia akan mudah membawa orang lain di bawah pengaruhnya.  Sebaliknya, orang yang kurang pandai menerima dan mengirimkan emosi akan banyak mengalami masalah dalam hubungan, sebab seringkali orang lain tidak nyaman berhadapan dengannya, walaupun tidak tahu apa sebabnya.

Erat kaitannya dengan peran pendidik, maka tampilan inteligensi emosional akan menampak pada perilaku: (1) mengorganisasi kelompok, esensinya adalah kemampuan mendidik yakni memprakarsai dan mengkoordinasi aktivitas kelompok; (2) merundingkan solusi, yakni kemampuan sebagai mediator, mencegah dan menyelesaikan konflik; (3) hubungan pribadi, yaitu kemampuan ber-empati dan menjalin hubungan baik; dan (4) analisis sosial, intinya kemampuan mendeteksi perasaan orang lain. Bila kemampuan-kemampuan hubungan interpersonal tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran akan kebutuhan dan perasaan serta bagaimana memenuhinya, akan mengarah ke kekosongan keberhasilan sosial.  Orang akan menjadi bunglon sosial.  Bagi para bunglon sosial yang penting kemenangan sosial, walaupun mereka hidup dalam ketidakcocokan antara wajah publik dan realitas pribadinya.

Ada sementara orang yang gagal dalam pergaulan. Mengapa? Mereka tidak memiliki sopan-santun pergaulan. Mereka cenderung tidak memiliki sinkroni dan harmoni sosial. Kebanyakan mereka mengalami disemia, yakni tidak mampu menangkap pesan nonverbal orang lain. Pendidik yang memiliki inteligensi emosional tinggi diharapkan mampu pesan-pesan verbal dan non verbal anak didiknya dan dengan demikian mudah baginya untuk menyesuaikan dengan anak didik mereka.

Untuk apa emosi manusia ? secara umum emosi berperan utama dalam menghadapi situasi-situasi kritis.  Oleh karena itu, emosi bisa berfungsi untuk (1) merasakan dengan hati  (emotional mind), (2) melakukan pembajakan emosional (emotional hijacking), dan (3) sebagai dasar pengambilan keputusan.

 

  1. C.          Aspek-Aspek Inteligensi Emosional

Inteligensi emosional merupakan konsep yang luas, namun demikian intinya adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memberikan label terhadap keadaan emosi seseorang.  Dengan demikian secara sederhana cukup menggunakan tiga suku kata untuk menyatakan emosi yaitu « Saya merasa … », misalnya saya merasa sedih, saya merasa senang, saya merasa jengkel, dan sebagainya.

Kemampuan-kemampuan utama sebagai pertanda keadaan emosional misalnya:

  • Kemampuan untuk memahami diri sendiri ;
  • Kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara tepat;
  • Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri;
  • Kemampuan untuk meregulasi keadaan emosi diri sendiri
  • kemampuan untuk memecahkan masalah dengan segala resikonya;
  • Kemampuan untuk menyelesaikan konflik;
  • Kemampuan untuk berempati.

Anak yang dikatakan memiliki inteligensi emosional tinggi:

  • Anak lebih percaya diri;
  • Sebagai pelajar yang berperilaku baik;
  • Memiliki harga diri yang tinggi;
  • Sedikit memiliki problema hidup;
  • Lebih optimistik;
  • Mampu menangani permasalahan emosi secara lebih baik;
  • Lebih berbahagia.

Mempelajari inteligensi emosional akan mengarahkan pendidik dalam mengenali peranan unik dari emosi dasar manusia yang terdiri atas :

  • Marah (anger)
  • Takut (fear)
  • Bahagia (happiness)
  • Cinta (love)
  • Kagum (surprise)
  • Jijik (disgust)
  • Sedih (sadness)

 

  1. D.          Pentingnya Inteligensi Emosional Dalam Pendidikan

Pemahaman mengenai inteligensi emosional akan menjadi dasar bagi pendidik untuk mengambil ide-ide pengembangan emosional ke dalam praktek-praktek pendidikan. Dalam hal ini, kita harus memiliki keyakinan bahwa setiap pendidik harus memiliki kesadaran penuh arti pentingnya inteligensi emosional dan mereka mampu memilah anak-anak yang berpenampilan inteligensi emosional tinggi dan yang rendah.  Dalam hal ini pendidik perlu mengembangkan lingkungan belajar yang positif berdasarkan pada penghargaannya atas perasaan dan kebutuhan anak.

Pada bagian berikut dikemukakan beberapa alasan mengapa mengembangkan inteligensi emosional anak itu penting  dalam pendidikan.  Alasan-alasan tersebut antara lain:

  • Membantu anak menangani situasi-situasi yang menimbulkan ancaman atau anak merasa terancam, terutama dalam situasi belajar;
  • Mengajar anak untuk mau membantu orang lain;
  • Meningkatkan kesadaran dan otonomi moral anak;
  • Membuat anak hidup lebih berbahagia;
  • Membuat anak menjadi orang yang saling menghargai, bekerja sama, dan empati;
  • Mengajak anak untuk berani memikul tanggungjawab; dan
  • Membuat anak menjadi manusia mandiri.

 

  1. E.           Apa Yang Harus Diperhatikan Pendidik Dalam Pengembangan Inteligensi Emosional

Ada beberapa keyakinan yang melandasi pendidik ketika menjalankan tugas-tugas kependidikannya.  Keyakinan tersebut, antara lain:

  • Guru berada bersama siswa karena didasari oleh kebutuhan-kebutuhan siswa, bukan karena alasan yang lainnya,
  • Oleh karena itu, kebutuhan-kebutuhan siswa lebih penting dari guru,
  • Emosi guru  akan mempengaruhi emosi siswa,
  • Emosi siswa mempengaruhi kemampuannya dan keinginannya untuk belajar,
  • Kebanyakan guru di sekolah-sekolah tradisional memiliki kebutuhan terselubung yang penting untuk menjadi merasa kuat, penting, terhormat, dihargai, dan melakukan kontrol,
  • Kebutuhan terselubung di atas membatasi kemampuan mereka untuk membantu siswa-siswa menumbuhkan pribadi dan mengembangkan kemampuan intelektual,
  • Guru yang baik bila memiliki sedikit kebutuhan emosional yang terselubung.  Sebaliknya guru yang tidak baik adalah yang penuh kebutuhan sehingga mengalahkan kebutuhan pokok siswa-siswanya,
  • Para guru harus mendapat rasa hormat secara suka rela dari para siswa mereka. Mereka tidak bisa menuntut itu,
  • Hormat, takut, dan ketaatan seringkali kabur. Penghormatan akan didapat guru dan diberikan oleh anak secara sukarela. Takut dan ketaatan akan  didapat melalui pemaksaan,
  • Setiap anak unik secara emosional; semua anak tidak dicipta secara sama kemampuan emosionalnya di otak,
  • Oleh karena keunikan di atas, setiap anak harus dilayani dan diperlakukan secara individual, khususnya melalui memperhatikan perasaan-perasaan mereka,
  • Individualitas, kebebasan anak merupakan tujuan pendidikan yang tertinggi. Keseragaman bukan merupakan tujuan pendidikan yang diharapkan,
  • Mengabaikan keadaan emosional adalah salah satu cara terburuk dan melawan kepentingan-kepentingan individu siswa,
  • Pengabaian aspek emosional secara berulang  atau terus-menerus merupakan hal yang biasa di sekolah-sekolah tradisional,  
  • Pendidikan memiliki makna belajar lebih dari sekedar mengajar, dan
  • Tujuan pendidikan tertinggi adalah memfasilitasi dicapainya kebahagiaan, yang datangnya dari self-motivation, self-direction, self-discipline, self-confidence, dan self-esteem.

Atas dasar keyakinan-keyakinan di atas, berikut ini disampaikan beberapa tip bagi guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik:

  • Bantulah anak mempelajari perbendaharaan bahasa emosional,
  • Bantulah anak untuk menjadi merasa aman, tidak terlalu merasa diawasi guru,
  • Peroleh kesadaran diri guru untuk mengidentifikasi perasaan dan ketakutan-ketakutannya sendiri,
  • Bantulah guru untuk memiliki perasaan sendiri, tanpa menyalahkan siswa-siswanya.  Artinya perasaan guru tidak untuk dilampiaskan kepada siswa, dan
  • Bantulah guru untuk melihat kebutuhan-kebutuhannya yang tidak disadari dan seringkali mencuat dalam  proses pendidikan.

Berikut ini dikemukakan beberapa perilaku guru yang disarankan dan tidak disarankan dalam memperlakukan anak-anak didiknya. Sebagai pesan penting, ikutilah petunjuk yang disampaikan oleh Dorothy Low Nolte dalam buku Children Learn What They Live With:

 

  • Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan
  • Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menantang
  • Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas
  • Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya
  • Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu
  • Jika anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah.
    • Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar
    • Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri
    • Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai
    • Jika anak diterima oleh lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi
    • Jika anak diperlakukan dengan jujur, dia akan terbiasa melihat kebenaran
    • Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan
    • Jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian: “Sungguh Indah Dunia Ini!”

 

 

Bagaimanakah anda bersikap pada anak didik anda? Lakukan koreksi diri, kemungkinan-kemungkinan kebiasaan berperilaku terhadap orang lain dan memikirkan akibat yang akan muncul sebagaimana dikemukakan oleh Nolte di atas.

 

 

 

 

 

 

RANGKUMAN

Dalam belahan otak dalam (sub cortex) bersemayam kemampuan inteligensi emosional.  Kemampuan tersebut mempengaruhi kerja kemampuan berpikir rasional manusia.Ada dua kemungkinan pengaruh, yakni pengaruh positif dan negatif.  Inteligensi emosional berpengaruh positif bila menjadikan perilaku manusia lebih arif. Sebaliknya, pengaruh kemampuan emosional terhadap proses berpikir rasional bersifat negatif bila perilaku manusia menjadi lebih dikuasai suasana emosional dan bersifat irrasional.

Kemampuan inteligensi emosional lebih berkaitan dengan dua kemampuan utama manusia yaitu kemampuan memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri dan mengendalikan diri (inteligensi intrapersonal) serta kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain secara harmonis (inteligensi interpersonal).

Dalam kehidupan sehari-hari, siswa perlu dipahami tampilan inteligensi emosional. Anak-anak didik dapat dikelompokkan menjadi anak yang berpenampilan inteligensi emosional tingi dan rendah. Pendidik bertugas memantau dan mengarahkan anak didik untuk menguasai karakteristik inteligensi emosional tingi.

Ada sejumlah keyakinan yang harus dikuasai pendidik dalam memahami dan memberi fasilitas bagi perkembangan kecerdasan emosional anak didiknya. Awal dari seluruh kegiatan pendidikan, harus dimulai dari penguasaan pendidik atas tampilan inteligensi emosionalnya sendiri dan dilanjutkan dengan memahami tampilan inteligensi emosional anak didinya.

PENDALAMAN

 

Selesaikan tugas berikut ini!

  1. Buatlah ringkasan hakekat inteligensi emosional!
    1. Kapan inteligensi emosional berperan secara positif dan sebaliknya kapan berperan secara negatif?
    2. Dikatakan bahwa perkembangan emosional manusia dapat diajarkan. Bagaimana peran pendidik dalam hal ini?
    3. Bandingkan dengan contoh anak yang memiliki tingkat inteligensi emosional tinggi dan yang tingkat inteligensi emosionalnya rendah dalam menghadapi suatu keadaan kritis!
    4. Amati perilaku guru atau dosen yang sedang mengajar.  Selama pengamatan, catat mana yang lebih sering dipakai guru atau dosen tersebut apakah ida menampilkan karakteristik inteligensi emosional tinggi atau rendah?

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Gardner, H. (1983) Frames of mind: The theory of multiple intelligences.New York: Basic Books.

Gardner, H. (1991). The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach.New York: Basic Books

Gardner, H. (1993) Multiple intelligences: the theory in practice – a reader.New York: Basic Books.

Gardner, H. (1993a). Frames of mind: The theory of multiple intelligence.New York: Basic Books.

Gardner, H. (1993b). Multiple intelligence: The theory in practice. New York: Basic Books. http://www.ode.state.or.us

Gardner, H. (1999). Intelligence reframed: Multiple intelligences for the 21th century. New York: Basic Books.

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence.New York: Bantam.

Goleman, D. (1999). Working with emotional intelligence.London: Boombury Publishing Plc.

Scherer, K. R.; Banse, R.; & Wallbott, H. G. (2001). Emotion inferences from vocal expression correlate across languages and cultures. Journal of Cross-Cultural Psychology, 32(1), 76-92.

Simmons, S & Simmons Jr, J.C. (1997). Measuring emotional intelligence: The groundbreaking guide to applying the principles of emotional intelligence.Arlington,Texas: The Summit Publishing Group.

Sternberg, R. J. (1986). Intelligence, wisdom, and creativity: Three is better than one. Educational Psychologist, 2(3), 175-190.

Sternberg, R. J. (1990). Wisdom and its relations to intelligence and creativity. Di dalam R. J. Sternberg (Ed.), Wisdom: Its nature, origins, and development (pp 142-159).New York:CambrideUniversity Press.

 

oleh bapak sujimat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s