KEBUTUHAN DASAR DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

BAB IX

KEBUTUHAN DASAR DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

 

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa mampu:

  1. mengemukakan kreterium remaja atas dasar bacaan mengenai remaja dari sejumlah ahli psikologi perkembangan;
  2. memahami kebutuhan dasar manusia;
  3. memahami implikasi kebutuhan dasar manusia dalam bidang pendidikan;
  4. memahami tugas-tugas perkembangan remaja;
  5. memahami implikasi tugas-tugas perkembangan remaja pada pendidikan

 

PEMBAHASAN

Pada pembahasan berikut akan dikemukakan pandangan sejumlah ahli mengenai remaja, teori kebutuhan dasar manusia, dan tugas-tugas perkembangan remaja.

 

  1. A.    Pandangan Ahli Tentang Perkembangan Remaja

Mengawali pembahasan mengenai kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan remaja, dikemukakan beberapa pandangan para ahli mengenai remaja. Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Yang dimaksud remaja diawali dengan periode pubertas sampai status dewasa disandangnya.  Masa remaja adalah suatu masa yang penting. Oleh karena masa ini dipandang sebagai masa menunda orang-orang yang muda untuk memasuki dunia pekerjaan.  Menjadi lebih penting lagi dalam kaitan dengan kelangkaan lapangan pekerjaan tetap, akhir-akhir ini.Adajuga bermacam-macam pandangan mengenai remaja, terutama mengenai kapan berakhirnya masa remaja. Secara khas, kita memandang masa remaja mulai pada periode pubertas dan berakhir pada usia 18 atau 21 tahun. Orang lain menyatakan bahwa masa remaja akhir meluas ke dalam apa yang kini dikenal sebagai periode kedewasaan muda.

Berikut ini dikemukakan mengenai kreterium remaja menurut sejumlah ahli.

1. Psikologi Biogenetik mengenai Remaja: G. Stanley Hall

 G. Stanley Hall  (1844-1924), merupakan ahli psikologi yang pertama-tama mengemukakan remaja atas dasar penelitian-penelitian ilmiah.  Ia mendefinisikan periode remaja mulai pubertas (12 atau 13 tahun) dan berakhir antara 22 – 25 tahun. Hall juga mendeskripsikan remaja sebagai periode Sturm und Drang atau  storm and stress. Ini merupakan suatu pergerakan yang penuh dengan idealisme, kesanggupan untuk mencapai suatu tujuan, revolusi melawan terhadap kaum tua, ungkapan dari perasaan pribadi, nafsu, dan penderitaan.

Menurut pandangan Hall mengenai teori psikologi rekapitulasi, masa remaja merupakan waktu ketika manusia memasuki langkah transisi bergolak. Dalam pergolakan tersebut, remaja menuntut kebebasan dari belenggu orang tua dan orang dewasa lainnya.  Keadaan ini merupakan hal yang wajar, menurut Hall senada dengan masa transisi menuju menjadi manusia dewasa.

Hall mendeskripsikan perkembangan remaja sebagai suatu evoluasi perasaan dan kejiwaan. Ia menggambarkan kehidupan emosi remaja sebagai goyangan dari berbagai aspek yang saling bertentangan.  Energi, kekuatan besar, dan aktivitas supernatural diikuti oleh sikap acuh tak acuh, kelesuan, dan kebencian menghadapi realita. Kegirangan, ketawa-tawa, dan perasaan senang dan bahagia memberi tempat kepada dysphoria dan menekan perasaan muram, serta kemurungan jiwa.  Egoisme dan kesombongan merupakan karakteristik dari periode ini.  Hall percaya bahwa remaja memiliki karakteristik berupa sisa-sisa dari suatu egoisme tak dihalangi di masa kanak-kanak dan sebaliknya remaja meningkat perilakunya dengan lebih mengutamakan orang lain.

Pada masa remaja akhir, menurut Hall, individu mengikhtisarkan status dari permulaan peradaban modern. Langkah ini sesuai dengan ujung proses pengembangan yaitu kedewasaan. Psikologi genetika Hall tidak memandang manusia sebagai produk akhir dari proses perkembangan, tetapi sebagai bagian dari perkembangan lebih lanjut.

 

2.  Teori Psikoanalitik tentang Perkembangan Remaja: Sigmund Freud

Freud menaruh perhatian relatif kecil perhadap perkembangan anak remaja. Ia  hanya mendiskusikannya dalam kaitan dengan perkembangan psikoseksual. Ia sejalan dengan gagasan Hall, bahwa periode masa remaja bisa dilihat sebagai phylogenetic.  Freud yakin bahwa individu harus berhasil melewati pengalaman awal dalam pengembangan pengalaman psikoseksual. Menurut Freud dan teori psikoanalitik, langkah-langkah pengembangan psikoseksual bersifat genetika dan relatif tidak terikat pada faktor lingkungan.   Freud mengakui bahwa masa remaja itu adalah suatu peristiwa yang universal dan mencakup kehidupan tingkah laku, sosial, dan perubahan emosional; juga hubungan antar perubahan psikologis dan fisiologis, dan berpengaruh terhadap self-image. Ia juga menyatakan bahwa perubahan fisiologis berhubungan dengan perubahan emosional, terutama dalam peningkatan emosi yang negatif, seperti kemurungan, ketertarikan, kebencian, ketegangan, dan format lain dari perilaku anak remaja.

 

3. Teori Mekanisme Pertahanan Diri Remaja: Anna Freud

Anna Freud mengemukakan arti penting pubertas sebagai faktor kritis dalam membentuk watak atau karakter.  Dia juga menekankan hubungan antar id, ego, dan superego.   Dia percaya bahwa proses fisiologis berupa masaknya organ seksual dan mulai berfungsinya kelenjar seksual memainkan peran kritis dalam mempengaruhi dunia psikologis remaja.  Interaksi ini menghasilkan nafsu instingtual, yang pada gilirannya, dapat menyempurnakan ketakseimbangan psikologis. Keseimbangan antara ego dan id sepanjang periode latency akan mengganggu pubertas, dan menghasilkan konflik internal. Jadi salah satu aspek pubertas berupa konflik pubertas, dan berusaha untuk memperoleh kembali keseimbangan. 

Anna Freud menaruh perhatian besar terhadap penyimpangan perilaku dan perkembangan  perilaku patologis dan sebaliknya menaruh perhatian sangat kecil ke penyesuaian seksual yang normal. Dia menguraikan hambatan ke arah pengembangan perilaku normal: 1) Id menolak ego–dalam hal ini akan sulit dilacak bagaimana orang masuk ke alam dewasa yang ditandai  oleh suatu kekacauan pemerolehan kepuasan yang tak dihalangi dari naluri/instink; dan, 2) ego mungkin sebagai pemenang dari Id dan akan membentuk perilaku mekanisme pertahanan.

Di antara banyak mekanisme pertahanan ego yang dapat digunakan, Freud mempertimbangkan dua bentuk mekanisme pertahanan khas dari pubertas yaitu asceticism dan intellectualization. Asceticism adalah suatu ketidakpercayaan melalui menyamaratakan  semua pengharapan instingtual. Ketidakpercayaan ini terjadi pada bidang seksualitas dan meliputi juga makan, tidur, dan kebiasaan berpakaian.  Intellectualization  merupakan peningkatan di dalam minat intelektual dan perubahan dari konkrit ke minat abstrak akan membentuk suatu mekanisme pertahanan melawan libido. Ini secara alami menyempurnakan dan melemahkan kecenderungan instingtual hidup orang dewasa, dan sementara itu situasi selamanya berbahaya bagi individu.

Adasejumlah keyakinan yang dipegang Anna Freud mengenai faktor-faktor yang menimbulkan konflik remaja, antara lain:

  • Kekuatan dorongan dari id, ditentukan oleh proses fisiologis dan endocrinological selama pubertas.
  • Kemampuan ego untuk mengatasi dorongan-dorongan instingtual. Ini pada gilirannya tergantung pelatihan karakter dan pengembangan superego dari anak sepanjang periode latency.
  • Efektivitas dan sifat dari mekanisme pertahanan terdapat pada ego itu.

 

4.  Teori Kebutuhan  akan Kebebasan Kaum Remaja: Otto Rank

Otto Rank ( 1884-1939), seorang pengikut sekolah psikoanalitik, tadinya sepenuhnya di bawah pengaruh realisme Sigmund Freud. Ia kemudian mengembangkan teorinya sendiri dan mulai menentang pandangan Freud.

Rank memandang hakekat manusia bukan sebagai makhluk tertekan dan neurotic, tetapi sebagai makhluk kreatif dan produktif. Ia mulai mengkritik pandangan Freud yang menekankan alam ketidaksadaran manusia sebagai gudang pengalaman masa lalu serta dorongan-dorongan dari dalam diri manusia.  Dalam hal ini, Rank mengemukakan bahwa pengalaman masa lalu hanya akan berarti bagi perilaku saat ini kalau ada kaitannya. Ia juga kurang menekankan pentingnya dorongan instingtual dan perilaku instingtual.  Ia percaya bahwa Freud benar-benar melalaikan peran dari ego dan memberi nilai ego hanya sebagai kekuatan yang represif. Rank ingin membongkar kembali keseimbangan kekuatan di dalam kenyataan psikis.  Ia mulai memberi arti banyak bagi peran ego.

Rank menyatakan bahwa harus ada suatu pengujian untuk menempatkan perkembangan remaja dalam teori psikoanalitik berdasar pada kesadaran dan “will“. Seksualitas tidak lagi menjadi faktor penentu yang paling kuat di proses perkembangan. Telah ditemukan faktor  pendamping yang disebut “will”  yang sampai taraf tertentu mampu mengendalikan dorongan seksualitas. Sepanjang pergeseran dari masa kanak-kanak ke masa remaja, suatu aspek yang krusial dari perkembangan kepribadian telah terjadi, yaitu perubahan dari ketergantungan ke kemerdekaan atau kebebasan.

Sepanjang periode latency ini, “will” tumbuh lebih kuat, lebih mandiri, dan berani menentang kekuasaan apapun yang tidak cocok dengan dirinya. Asal-muasal dari “will” berangkat dari situasi oedipal. Situasi oedipal adalah situasi dimana seseorang menaruh perhatian atau rasa cinta yang kuat, yang membuat anak menjadi cemburu. Will remaja akan berhadapan dengan will sosial yang ditunjukkan oleh orang tua dan diekspresikan dalam kode etik yang telah usang bagi remaja.

Pada masa remaja awal, individu mengalami suatu perubahan dasar dalam hal sikap; ia mulai untuk menentang ketergantungan, mencakup peraturan dari lingkungan eksternal (orang tua, para guru, hukum, dan seterusnya) dan peraturan yang bersumber dari internal pribadi remaja.  Penetapan kebebasan dari nilai-nilai masyarakat merupakan hal yang penting, namun merupakan tugas perkembangan yang sulit bagi remaja. Kebutuhan akan kemerdekaan atau kebebasan dikembangkan dan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan menyebabkan banyak hubungan pribadi anak remaja dibangun dan menimbulkan kesulitan-kesulitan dari hubungan-hubungan tersebut. Rank tidak melihat apapun pentingnya membuat larangan dan pembatasan seksual eksternal, karena perjuangan remaja merupakan upaya di mana individu akan mengejar kemerdekaan melalui melawan terhadap dominasi kebutuhan-kebutuhan biologis. Artinya, remaja  sendirilah yang akan melawan (mengatur) kebutuhan-kebutuhan biologisnya.

 

5. Teori Perkembangan Identitas: Erik Erikson

 

Konsep inti dari teori Erikson adalah pencapaian suatu ego-identitas, dan krisis identitas merupakan karakteristik paling penting pada masa remaja. Walaupun identitas seseorang dibentuk dalam cara-cara yang berbeda dari satu budaya ke budaya lainnya, namun pemenuhan tugas perkembangan mempunyai suatu unsur yang umum yang berlaku dalam semua latar budaya. Dalam rangka memperoleh suatu ego-identitas sehat dan kuat, anak harus menerima pengakuan yang ajeg dan bermakna dari lingkungan mereka.

Masa remaja diuraikan oleh Erikson sebagai periode dimana individu harus menetapkan suatu identitas pribadi dan menghindari bahaya dari difusi peran dan kebingungan identitas. Implikasi pandangan tersebut bahwa individu harus membuat suatu penilaian terhadap hak dan asset pribadinya serta bagaimana mereka ingin menggunakan asset-aset tersebut.  Remaja harus menjawab pertanyaan untuk diri mereka sendiri mengenai dari mana mereka datang, siapa diri mereka, dan mereka akan menjadi apa.  Identitas harus dicari fan ditemukan.  Identitas tidaklah diberikan begitu saja kepada individu oleh masyarakat, ataupun muncul begitu saja sebagai peristiwa kematangan; ia harus diperoleh melalui usaha individu. Keengganan untuk berbuat atau bekerja sesuai formasi identitasnya akan mengalami kerancuan peran yang bisa mengakibatkan pengasingan dan kebingungan. Yang baik untuk dikembangkan adalah kesetiaan/ketepatan pada identitas diri. Mempertahankan nilai-nilai seseorang akan berperan membuat identitas menjadi stabil.

Pencarian suatu identitas melibatkan produksi suatu self-concept yang penuh arti di mana masa lampau, masa kini, dan masa depan terkait secara bersama-sama. Sebagai konsekwensi, tugas remaja menjadi lebih sulit karena masa lalu telah hilang lebur dalam keluarga dan tradisi masyarakat, keadaan saat ini ditandai oleh perubahan sosial, dan masa depan kurang dapat diramalkan. Menurut Erikson, dalam periode perubahan sosial yang cepat, generasi yang lebih tua tidak lagi mampu menyediakan model peran yang memadai bagi generasi yang lebih muda. Sekalipun generasi yang lebih tua dapat menyediakan model peran yang cukup memadai, remaja dapat menolak sebab tidak sesuai dengan situasi mereka. Oleh karena itu, Erikson percaya bahwa pentingnya kelompok panutan tidak bisa sangat diharapkan. Teman sebaya bagi remaja akan memberikan bantuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “Siapakah saya?” sebagaimana ketika mereka tergantung pada umpan balik sosial seperti apa yang orang lain rasakan dan bagaimana mereka bereaksi terhadap individu remaja itu.  Jadi, remaja yang kadang-kadang ceroboh, sering penuh curiga, asyik dengan apa yang mereka lihat,  perlu diberi peran dan ketrampilan dengan prototipe yang ideal dari hari ke hari.

Pubertas, menurut Erikson, ditandai oleh kecepatan pertumbuhan badan, kedewasaan genital, dan kesadaran seksual. Oleh karena dua aspek terakhir sungguh berbeda dari pengalaman di tahun-tahun yang lebih awal, maka diskontinyuitas terjadi dalam perkembangan remaja awal. Masa muda dihadapkan dengan “revolusi fisiologis” di dalam diri sendiri yang bisa jadi bertentangan dengan pembentukan suatu identitas yang diidealkan. Erikson mengakui bahwa studi tentang identitas remaja menjadi lebih penting dibanding studi tentang seksualitas sebagaimana dilakukan oleh Freud.

Berdasar perhatian terhadap remaja, penting untuk menjawab pertanyaan mengenai identitas vokasional.  Pada awal remaja mencoba untuk menetapkan suatu identitas vokasional maka terjadi beberapa difusi peran. Remaja pada tahap awal berpegang pada konsep-konsep yang glamour dan ideal mengenai tujuan vokasional mereka, dan tidaklah luar biasa bahwa cita-cita remaja lebih tinggi dibanding kemampuan dirinya.  Sering, model tujuan vokasional yang dipilih itu kemungkinan kecil dicapai, misalnya pahlawan pada bioskop, musisi rock, juara atletik, pembalap mobil/sepeda motor, angkasawan, dan lain-lain pahlawan yang dikagumi.  Di dalam proses mengidentifikasi dan memuja pahlawannya, remaja  menghasilkan identitas diri dan mengira bahwa dirinya telah mempunyai kemampuan sebanding dengan pahlawan mereka. Dalam posisi ini, menurut Erikson, kaum muda jarang mengidentifikasi dengan orang tuanya sendiri; mereka sering memberontak melawan terhadap kekuasaan orangtua, sistem nilai orang tua, dan dipandang mengganggu kehidupan pribadi mereka, karena mereka ingin memisahkan identitas mereka dari keluarga mereka. Anak remaja harus menyatakan otonomi mereka dalam rangka menjangkau kedewasaan.

   Pencarian identitas pribadi juga meliputi pembentukan suatu ideologi pribadi atau suatu filsafat hidup yang dapat melayani diri individu. Perspektif seperti itu dapat membantu dalam membuat aneka pilihan dan memandu perilaku. Identitas diri atau identitas pribadi mempengaruhi remaja untuk mengarungi hidup mereka. Jika remaja hanya mengadopsi identitas atau ideologi orang lain, kemungkinan besar remaja tidak puas dibanding bila ia mengembangkan identitas sendiri.  Ideologi yang diadopsi jarang berkembang menjadi pribadi dan resikonya dapat menutup pertumbuhan dan  perkembangan remaja.

Hasil yang positif dari krisis identitas remaja bergantung pada kesediaan orang untuk menerima masa lampaunya dan menetapkan kesinambungan dengan pengalaman yang sebelumnya mereka alami. Anak remaja harus menemukan jawaban pertanyaan: “Siapakah saya?” Di samping itu juga menjawab pertanyaan: “Ke mana aku pergi?” ” Hendak menjadi apakah aku?” Remaja harus sepakat benar dengan sistem nilai yang berlaku (keyakinan religius, tujuan pekerjaan, filsafat hidup, dan penerimaan terhadap seksualitas seseorang). Hanya melalui mencapai aspek ego-identitas inilah remaja akan mampu bergerak mencapai kedewasaan, mencapai keakraban dan cinta, memiliki persahabatan yang mendalam dan mencapai kebebasan diri pribadi tanpa ketakutan kehilangan ego-identitas.

Jika remaja gagal di dalam mencari suatu identitas, maka ia akan mengalami keraguan, difusi peran, dan kebingungan peran.  Kalau sudah begini, maka remaja akan menuruti kesenangan diri melalui berbagai aktivitas atau keasyikan yang merugikan diri sendiri.  Remaja seperti itu akan terus ceroboh asyik dengan maunya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Hal ini akan mengarahkan remaja menuju ke arah difusi ego, kebingungan kepribadian, dan dapat berkembang menjadi pribadi yang suka melakukan pelanggaran bahkan bisa jadi mengalami gangguan psikotik.  Dalam banyak kasus, menurut Erikson, difusi identitas dapat mengarahkan anak ke usaha bunuh diri.  Ketika identitas diri terbentuk atau telah mapan, remaja dapat bergerak ke arah hubungan interpersonal yang akrab.

 

  1. 6.      Status Identitas: Pandangan James Marcia sebagai perluasan Konsep

Erikson

Marcia mendefinisikan identitas sebagai “suatu organisasi yang dinamis tentang kekuatan, kemampuan, dan keyakinan yang disusun sendiri oleh individu dan bersifat internal”. Menurut Marcia, ukuran pencapaian identitas dewasa didasarkan pada dua variabel yang penting yaitu: krisis dan komitmen. Krisis mengacu pada waktu dimana  remaja terlibat aktif dalam memilih di antara pilihan-pilihan pekerjaan dan kepercayaan. Sedangkan komitmen mengacu pada derajat investasi pribadi yang dinyatakan di dalam suatu pekerjaan atau kepercayaan.

Marcia mewawancarai remaja berusia antara 18 sampai 22 tahun tentang aneka pilihan jabatan mereka, kepercayaan politis dan religius, dan nilai-nilai yang mereka anut–semua aspek yang menjadi pusat identitas. Ia menggolongkan para siswa ke dalam empat kategori dari status identitas berdasar pada: 1) apakah mereka telah lulus dari ” krisis identitas” seperti diuraikan oleh Erikson, dan 2) derajat komitmen mereka terhadap pilihan pekerjaan dan seperangkat nilai dan keyakinan. Empat kategori status identitas sebagaimana diidentifikasi oleh Marcia sebagai berikut:

Identity diffused or identity confused. Individu yang belum mengalami krisis identitas, maupun tidak membuat  komitmen apapun terhadap pekerjaan dan kepercayaan.

Foreclosure. Individu yang belum mengalami krisis, tetapi memiliki komitmen, dimana komitmen ini bukan hasil dari pencarian dan eksplorasi pribadi, tetapi telah siap diperoleh dari orang lain, teutama dari orang tua.

Moratorium.  Individu yang dalam status krisis akut. Mereka  sedang menyelidiki dan dengan aktif mencari-cari alternatif, dan melakukan perebutan untuk temukan identitas mereka; tetapi belum membuat  komitmen apapun atau hanya mengembangkan komitmen sementara (temporer).

Identity Achieved.  Individu yang sudah mengalami krisis dan sudah memecahkan atas dasar terminologi mereka sendiri, dan sebagai hasil resolusi dari krisis telah dibuat suatu komitmen yang pribadi dalam pekerjaan, dalam suatu kepercayaan religius, dalam suatu sistem nilai pribadi; dan telah memecahkan sikap mereka ke arah seksualitas.

Kebanyakan remaja bergerak maju ke arah status identitas yang hendak dicapai. Pencapaian identitas paling jarang terjadi pada awal remaja. Identitas seringkali tercapai setelah anak masuk ke sekolah-sekolah tingkat atas, mahasiswa di perguruan tinggi, dan sebagai orang dewasa awal. Pada saat anak masih setingkat sekolah menengah pertama, umumnya berada pada peringkat pertama dan kedua, yaitu identity diffusion dan identity foreclosure. Beberapa perbedaan juga ditemukan pada anak laki-laki dan perempuan mengenai ukuran identitas mereka.

Moratorium remaja diartikan sebagai periode perkembangan dimana komitmen belum dibuat sehingga dikenali bersifat eksploratory dan tentatif.  Oleh karena itu, kebanyakan mereka mengalami krisis dan ada sejumlah pertanyaan tak terselesaikan. Untuk itu ada upaya kuat untuk menemukan jawaban, mengeksplorasi, meneliti, melakukan uji coba berbagai peranan, dan praktek langsung di lapangan. Hasil penelitian Marcia menunjukkan bahwa 30 persen mahasiswa saat ini ada pada tahap moratorium.  Keadaan ini ditunjukkan melalui banyaknya mahasiswa yang menjajaki berbagai jenis kerja.

Beberapa ahli sosial percaya bahwa sekolah dapat menghambat terbentuknya identitas diri remaja, karena mereka menuntut penyesuaian dengan berbagai cara dan remaja harus tunduk ke otoritas sekolah. Hal ini bukannya membantu remaja dalam mencari identitas prebadi yang unik. Banyak bukti bahwa sekolah justru menindas kreativitas remaja, individualitas remaja, dan identitas diri remaja, sebab mereka harus mengikuti kurikulum yang berorientasi pada keterampilan dan pengetahuan untuk sukses. Orientasi kurikulum bukan dalam kerangka memberi kebebasan remaja untuk mengembangkan identitas diri mereka sendiri.

Beberapa kesulitan remaja dapat dipahami jika remaja dipandang sebagai manusia dalam posisi marjinal yang sedang berjuang untuk mencapai status dewasa. Perjuangan remaja untuk mencapai status dewasa dapat mengalami frustrasi, dan masyarakat, lembaga pendidikan dapat membantu mereka menjadikan pengalaman ini menjadi lebih bermakna.

 

7. Teori Geisteswissenschaftliche tentang Remaja: Eduard Spranger

Eduard Spranger (1882-1963) adalah professor psikologi di Universitas Berlin. Geisteswissenschaft diterjemahkan sebagai “cultural science” atau “historical humanities.”  Allport menterjemahkannya sebagai “mental science.” Sementara itu Spranger sendiri menggunakan sinonim “philosophy of culture.”

Menurut Spranger, iasendiri tidak secara penuh mengalami makna perkembangan dirinya sendiri.  Banyak gejala kesadaran yang bermakna jika orang belajar untuk memahami mereka sebagai fenomena perkembangan. Masa remaja tidaklah hanya periode transisi dari masa kanak-kanak ke kedewasaan fisiologis, tetapi yang lebih penting adalah usia dimana struktur mental yang secara relatif  tidak dapat dipilah-pilah dari kanak-kanak sampai mencapai kedewasaan penuh. Selama masa remaja, suatu hirarki nilai-nilai yang lebih kekal terbentuk. Menurut dia, “arah nilai dominan” dari individu merupakan penentu kepribadian.

Spranger mendeskripsikan tiga pola perkembangan:

Pola pertama dideskripsikan oleh Spranger dialami sebagai bentuk kelahiran kembali individu yang di dalamnya individu mencari dirinya sneidiri sebagaimana orang lain ketika ia mencari kematangan/kedewasaan.  Seperti G. Stanley Hall, Spranger yakin bahwa periode ini remaja mengalami badai, stres, ketegangan, dan krisis sebagai akibat dari perubahan kepribadiannya.

Pola kedua adalah proses pertumbuhan yang lambat, terus-menerus dan berangsur-angsur menerima gagasan dan nilai-nilai budaya masyarakat, tanpa perubahan kepribadian dasar.

Pola ketiga adalah proses pertumbuhan yang di dalamnya individu berpartisipasi secara aktif. Remaja secara sadar mengimprove dirinya secara sadar dan memberi kontribusi bagi perkembangan pribadinya sendiri, mengatasi krisis melalui upaya-upaya yang giat dan berarah tujuan. Pola ini memiliki karakteristik self-control dan self-discipline, yang oleh Spranger dihubungkan dengan tipe kepribadian yang sedang mengejar kekuatan diri sendiri.

Spranger merupakan ahli psikologi yang memandang remaja sebagai periode perkembangan spesifik yang memiliki karakteristik unik yang berbeda dari kanak-kanak dan masa dewasa.

 

8. Antropologi Budaya dan Remaja:  Margaret Mead

Adabeberapa studi yang dilakukan oleh para ahli antropologi mengenai perkembangan remaja. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh Margaret Mead, yang memberikan banyak pemahaman mengenai perkembangan remaja dalam konteks budaya.  Mead menulis dua buku yang relevan dengan pembahasan remaja, yaitu Coming of Age in Samoa (1950) dan Growing Up in New Guinea (1953).  

Coming of Age in Samoa merupakan studi lapangan secara empiris menggunakan metodologi antropologis, tetapi tidak secara eksplisit mengemukakan teori perkembangan remaja. Ruth Benedict  dalam bukunya Continuities and Discontinuities in Cultural Conditioning (1954), memberikan teori eksplisit mengenai perkembangan remaja dari sudut pandang antropologi budaya yang ia kaitkan langsung dengan temuan Mead ketika meneliti remaja-remaja diSamoa. Dalam teori ini ditekankan pentingnya factor budaya dalam proses perkembangan remaja.  Istilah Cultural relativism lebih tepat untuk memahami fenomena remaja. Teori ini menekankan pentingnya lembaga social dan factor budaya dalam perkembangan manusia serta mendeskripsikan ritual-ritual pubertas dalam masyarakat primitif.

Mead mengermukakan bahwa tugas utama yang dihadapi remaja saat ini adalah mencari identitas diri yang bermakna. Tugas ini sulit untuk diukur dalam masyarakat demokratik modern daripada pada masyarakat primitif. Tingkahlaku dan nilai-nilai orang tua bukan lagi sebagai model bagi remaja, sebab mereka kalah pamor dari model yang ditampilkan lewat mediamassa.  Lagipula, remaja sedang dalam proses membebaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, dimana mereka seringkali berlawanan dengan sistem nilai orangtua. Oleh karena remaja telah diajar untuk mengevaluasi perilakunya sendiri, maka ia mulai membuang standar nilai orang tua dan menggantikannya dengan standar nilai teman sebaya. Kecepatan perubahan sosial,  memperluas berbagai sistem nilai religius dan hal-hal duniawi, dan teknologi modern membuat dunia nampak bagi remaja sebagai suatu yang terlalu kompleks, relativistik, terlalu tak dapat diramalkan, dan terlalu rancu bagi remaja.

Pada waktu lampau, Erikson dan Mead menyebut sebagai periode psychological moratorium, yakni suatu periode  dimana remaja melakukan percobaan-percobaan  secara tentatif tanpa dipersoalkan mengenai keberhasilannya dan tanpa mempersoalkan akibat emosional, ekonomi, dan sosialnya.  Kegagalan dalam melakukan eksperimen-eksperimen tersebut bisa jadi remaja mengalami hambatan dalam memperoleh identitas diri. Sebagai gantinya, untuk identitas psikologis, remaja menggunakan simbol-simbol kelompok sebaya untuk memperoleh semi-identitas.  Menurut Mead, dalam kasus ini  pendidikan menjadi lebih fungsional dan lebih berorientasi pada keberhasilan. Sebagai konsekuensi, tujuan dan nilai-nilai anak remaja diarahkan ke arah kesuksesan, keamanan, kepuasan atas keinginan, penyesuaian, dan penerimaan sosial dengan diberi ruang yang sedikit untuk melakukan percobaan, idealisme, dan utopianisme pribadi.  Mead menyatakan bahwa kegagalan untuk mengadopsi sistem pendidikan dan sosial dapat membuat remaja mengembangkan identitas negatif.

Mead condong untuk membantu kebebasan remaja dan kurang sepakat dengan pengharapan keluarga, masyarakat dan kelompok sebaya dalam rangka memberi kesempatan pengalaman kreatif bagi remaja. Dalam hal ini, Mead juga mengkritik keluarga yang terlalu membangun keintiman dengan anak-anak remaja mereka yang terlalu berpengaruh terhadap kehidupan emosional remaja yang sedang tumbuh.  Ia yakin bila keluarga terlalu kuat pengaruhnya bagi remaja akan menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan pribadi remaja karena akan membatasi pilihan-pilihan remaja.  Dia menyatakan bahwa “hal-hal yang diinginkan orangtua seharusnya dikurangi, sedikitnya dalam beberapa hal, peran yang kuat yang orang tua mainkan di dalam kehidupan kanak-kanak lambat laun dikurangi”. Seharusnya lembaga berperan secara demokratis. Sistem keluarga yang toleran yang di dalamnya remaja dapat tidak setuju dengan orang tuanya tanpa kehilangan rasa cinta orang tua, harga diri, atau meningkatnya ketegangan emosional.

Teori Ruth Benedict mengenai pengkondisian budaya memiliki implikasi pendidikan yang penting. Praksis-praksis pendidikan di rumah begitu juga di sekolah harus menekankan kontinuitas proses belajar sehingga anak menjadi terbiasa dengan seperangkat nilai dan perilaku yang diharapkan orang dewasa. Anak harus diajar bahwa bila tidak belajar dia tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang matang. Perubahan perilaku seringkali terputus-putus, diharapkan individu bergerak dari sekolah dasar ke sekolah menengah, dari perguruan tinggi ke tempat kerja, dan dari perilaku seksual yang ditolak menjadi perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan melalui lembaga perkawinan.

 

9. Teori Medan dan Remaja: Kurt Lewin

Kurt Lewin (1890-1947) merupakan tokoh Psikologi Gestalt dari Universitas Berlin.  Ia banyak dipengaruhi oleh pandangan Freud, khususnya mengenai hakekat motivasi.  Namun demikian, teori Lewin mengenai remaja secara konseptual berbeda dari teori-teori lainnya.  Teorinya tentang perkembangan remaja secara eksplisit dinyatakan dalam buku Field Theory and Experiment in Social Psychology (1939).  Teori medannya menjelaskan tentang dinamika perilaku remaja secara individual tanpa menggeneralisasi remaja sebagai kelompok. Konsepnya membantu untuk menjelaskan dan meramalkan perilaku individu dalam situasi spesifik.

Teorimedantelah berhasil mengintegrasikan faktor-faktor biologis dan sosiologis yang biasanya dipandang secara bertentangan.  Lewin menyatakan posisinya secara eksplisit:  faktor-faktor pengaruh psikologis dari lingkungan terhadap tingkahlaku dan perkembangan anak benar-benar penting.  Psikologi secara umum dipandang sebagaimedanbiologis.

Landasan teorimedanmengenai perkembangan remaja bahwa remaja merupakan periode transisi yang di dalamnya remaja harus mengubah anggota kelompknya. Anak dan orang dewasa memiliki konsep yang jelas mengenai keanggotaan kelompok mereka, sedangkan remaja masuk di antara kelompok anak-anak dan kadang masuk dalam kelompok dewasa tanpa keterlibatan lengkap di kedua kelompok tersebut.  Orangtua, guru, dan masyarakat merefleksikan kekurang jelasan status remaja ini, perasaan ambigius mereka terhadap remaja menjadi tampak jelas ketika mereka suatu saat memperlakukan remaja sebagaimana kanak-kanak, dan kali lain memperlakukan mereka sebagai orang dewasa. Berbagai kesulitan muncul sebab format perilaku kekanak-kanakan tertentu tidak lagi bisa diterima. Pada waktu yang sama sebagian dari format perilaku sebagai orang dewasa waktu itu belum diijinkan juga, atau jika mereka diijinkan, mereka merasa baru dan asing bagi anak remaja.

Remaja dapat disebut sebagai lokomotif sosial, sebab ia bergerak ke dalammedansosial dan psikologis secara tak terstruktur. Tujuan tidak lagi jelas, dan alur mereka rancu dan penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut, dilukis-kan ketika remaja laki-laki pertama kali kencan ke teman wanitanya. Oleh karena remaja tidak memiliki pemahaman yang pasti mengenai status sosialnya, pengharapannya, dan urusannya, maka perilakunya mencerminkan ketidakpastian, tampak ragu-ragu.  

Sebagai contoh, remaja yang dihadapkan dengan beberapa pilihan yang menarik pada waktu yang sama relatif memiliki batasan untuk mencapainya. Mengemudi mobil, merokok, menikmati hubungan seksual adalah semua tujuan yang mungkin dicapai remaja, dan dengan begitu mereka menjadi bagian dari hidup anak remaja. Bagaimanapun, mereka tidak dengan serta merta dapat dilakukan remaja, sebab adanya pembatasan oleh orangtua, pembatasan undang-undang, atau kode etik yang telah diinternalisasi individu.  Oleh karena remaja bergerak melaluimedanperubahan yang cepat, maka ia tidak tahu arah untuk mencapai tujuan khusus dan terbuka bagi bimbingan yang konstruktif, tetapi ia juga menolak terhadap rayuan dan tekanan.

Self-image individu bergantung pada tubuhnya. Selama proses perkembangan normal, perubahan tubuh akan terjadi dan akan membentuk self-image yang stabil.  Kesan tentang tubuh membuat penyesuaian terhadap perubahan perkembangan sedemikian rupa, sehingga individu memahami badannya. Selama perubahan-perubahan remaja terjadi dalam hal struktur tubuhnya, pengalaman tubuhnya, dan sensasi-sensasi baru mengenai tubuhnya, serta harapan yang lebih drastis sedemikian rupa, maka kesan mengenai tubuh mereka menjadi kurang dikenal, tidak reliable, dan tak dapat diramalkan. Remaja yang asyik dengan normalitas tubuhnya dan bagaimana tubuhnya diterima oleh orang lain, sebenarnya ia telah diganggu oleh kesan tubuhnya.  Ia akan menghabiskan banyak waktu untuk memperhatikan tubuhnya di kaca atau berupaya mengembangkan karakteristik seksual primer dan sekundernya dalam kaitannya dengan teman sebayanya.  Hal ini dapat dipahami, sebab tubuh memiliki kaitan yang erat dengan perasaan tentang kemenarikan, stabilitas, keamanan, dan peran seksual remaja. Perasaan negatif mengenai tubuh berkaitan dengan self-concept yang negatif dan banyak ketidastabilan emosi yang dapat mengubah orientasi hidup manusia.

Teorimedanmendefinisikan remaja sebagai periode transisi dari anak ke dewasa. Transisi ini ditandai oleh perubahan yang mendalam, pertumbuhan yang cepat, dan diferensiasi ruang hidup yang sejalan dengan yang telah terbentuk sebelumnya waktu kanak-kanak akhir. Transisi juga ditandai oleh kenyataan bahwa individu memasuki alam kognitif yang tak terstruktur  yang menghasilkan perilaku yang tidak menentu. Transisi dari anak menjadi dewasa merupakan kejadian yang universal, dimana anak menjadi dewasa yang matang dalam semua masyarakat. Namun demikian, pergeseran dari anak ke dewasa dapat terjadi dalam pola-pola yang berbeda-beda.  Hal ini dapat dalam bentuk pergeseran yang mendadak, seperti dapat diamati di dalam masyarakat primitif di mana dilakukan upacara menyambut kehadiran pubertas mengakhiri masa kanak-kanak dan menandakan permulaan dari kedewasaan.

Sejalan dengan Lewin, ada perbedaan budaya dalam perilaku remaja. Ia mengemukakan perbedaan ini untuk beberapa factor, antara lain ideologi, sikap, nilai-nilai yang diakui dan ditekankan; cara yang di dalamnya berbagai aktivitas dipandang sebagai berkaitan dan atau tidak berkaitan. Misalnya, antara aspek keagamaan dan kerja bagi masyarakat tertentu sangat berkaitan sedang bagi masyarakat lainnya tidak; dan jarak periode remaja berbeda-beda dari satu budaya dengan budaya lain, dari satu kelas sosial dengan kelas sosial lainnya di dalam satu budaya.

 

  1. B.     Kebutuhan Dasar Manusia

Salah satu aspek penting dalam membahas perkembangan manusia adalah kebutuhan dasar yang melekat pada setiap orang.  Abraham Maslow  adalah tokoh yang terkenal dalam menguraikan kebutuhan dasar tersebut. Maslow mengemukakan beberapa kebutuhan dasar manusia sebagai suatu hirarki. Artinya,orang akan berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan  hidupnya dari yang paling dasar menuju ke yang paling tinggi.  Secara umum, manusia memiliki kebutuhan dasar: fisik, aman, cinta dan keterlibatan, harga diri, aktualisasi diri. Pada perkembangannya, kebutuhan tersebut berkembang yakni ditambahkan dengan kebutuhan akan pengetahuan dan yang tertinggi adalah kebutuhan akan keindahan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut digambarkan dalam piramid sebagai berikut:

 

Maslow mempresentasikan kebutuhan dasar dalam sebuah hirarki (hierarchy of needs).  Setelah kebutuhan  yang paling dasar dari manusia berupa udara, air, makanan, dan seks berturut-turut diikuti dengan kebutuhan dasar lainnya. Pada mulanya, Maslow menganggap bahwa aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi, namun akhir-akhir ini ditambahkan dengan kebutuhan akan rasa keindahan atau estetika sebagai kebutuhan tertinggi. 

  1. Kebutuhan fisiologis (The physiological needs)

Kebutuhan fisiologis manusia terdiri atas berbagai macam, antara lain kebutuhan akan oksigin, air, protein, garam, gula, kalsium, serta mineral dan vitamin lainnya. Kebutuhan ini juga mencakup kebutuhan untuk mempertahankan keseimbangan kadar pH dan termperatur tubuh.  Di samping itu, kebutuhan fisiologis juga meliputi kebutuhan untuk aktif, istirahat, tidur, dan membuang kotoran (CO2, keringat, urin, dan berak). Beberapa kebutuhan yang dapat digolongkan pada kebutuhan fisiologis lainnya adalah kebutuhan untuk menghindar dari rasa sakit dan kebutuhan akan kehidupan seksual.

Maslow didukung oleh sejumlah penelitian menjadi yakin bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut sangat individual. Penelitian terhadap ibu-ibu yang sedang hamil, kebutuhan  akan fisiologis ini menjadi semakin meningkat sejalan dengan kenyataan bahwa orok yang ada dalam kandungan juga membutuhkan makanan.

Pada saat kebutuhan fisiologis menjadi bagian utama dari kehidupan manusia, maka kebutuhan-kebutuhan  lainnya tidak akan menjadi pusat perhatian. Sebagai contoh, ketika kebutuhan akan makan dan minum menjadi utama, makaorang tidak pernah banyak memikirkan resiko akan keamanan dirinya. Dia akan berani melakukan sesuatu demi memenuhi kebutuhan sisiologis tersebut tanpa mempedulikan apakah untuk mendapatkan makan dan minum tersebut mengandung bahaya bagi keselamatan diri atau tidak.

  1. Kebutuhan  akan rasa aman (The safety and security needs). 

Apabila sebagian besar kebutuhan fisiologis telah terpenuhi, maka akan mulai terbuka akan kebutuhan rasa aman.   Orang akan menjadi mulai berke-inginan untuk mendapatkan suasana yang aman, kehidupan yang stabil, mendapatkan  perlindungan. Orang mungkin akan mulai mengembangkan kebutuhan untuk hidup lebih teratur dengan aturan-aturan yang lebih mengikat.

Dalam pandangan dari sisi negatif, orang cenderung menjadi lebih tergugah bukan saja dengan kebutuhan  akan baju, tetapi berkaitan dengan perasaan takut dan cemas.  Pada masayarakat kita, kebutuhan ini dinyatakan dalam bentuk keinginan untuk memiliki rumah, hidup bertetangga secara harmonis, memiliki pekerjaan, memiliki rencana masa depan yang lebih baik. pada masyarakat yang sudah lebih maju, maka kebutuhan akan keamanan  dinyatakan dengan keikutsertaan mereka pada program asuransi dengan segala macam bentuknya, termasuk asuransi hidup, asuransi pendidikan, asuransi kebakaran, dan sebagainya.

  1. Kebutuhan akan Kasih sayang dan keterlibatan (The love and belonging needs)

Apabila sebagian besar kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman sudah terpenuhi, maka kebutuhan ketiga akan mulai muncul.  Orang akan mulai terbuka untuk memenuhi kebutuhan mereka akan rasa kasih sayang dan keterlibatan dengan orang lain. Orang akan mulai mengembangkan kebutuhannya untuk berkawan, hidup bahagia, memiliki hubungan yang menyenangkan, merasa sebagian bagian dari komunitasnya. Secara negatif, orang menjadi meningkat ketakutannya dalam kesendirian dan memiliki kecemasan sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ini dinyatakan dalam bentuk keinginan untuk menikah, memiliki keluarga, merasa sebagai bagian dari masyarakat, sebagai bagian dari kehidupan keagamaan, menjadi bagian dari suatu gang atau kelompok bermain.  Dalam kehidupan juga dinyatakan sebagai bagian dari kehidupan kariernya.

  1. Kebutuhan akan harga diri (The esteem needs)

Secara lambat laun setelah kebutuhan akan kasih sayang dan menjadi terlibat dalam kehidupan, orang akan mengembangkan kebutuhannya akan harga diri.  Maslow membedakan kebutuhan akan harga diri rendah dan tinggi. Dalam tingkatan yang rendah, kebutuhan ini diwujudkan dalam bentuk-bentuk, misalnya: kebutuhan dihargai orang lain, kebutuhan akan status, kebutuhan akan pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, dan kebutuhan untuk menjadi bagian dominan. Dalam kategori yang lebih tingi, kebutuhan akan harga diri diwujudkan dalam bentuk kebutuhan  untuk mendapatkan kepercayaan diri, mencakup merasa percaya diri, mampu, berprestasi, tuntas dalam berkarya, mandiri, dan bebas.

Dalam sisi negatif dari kebutuhan ini dinyatakan dalam bentuk harga diri rendah atau mengalami inferioritas. Sejalan dengan pandangan Alfred Adler, kenyataan ini banyak bersumber dari persoalan-persoalan psikologis. Pada masyarakat modern, kebanyakan tidak lagi mempersoalkan kebutuhan akan aspek fisiologis dan rasa aman.  Mereka cenderung mengalami hambatan dalam hal pemenuhan kebutuhan cinta kasih dan menjadi terlibat dalam banyak bidang kehidupan. Oleh karena itu, dalam aspek terakhir ini harus menjadi pusat perhatian dari kehidupan kita sehari-hari, saat ini.

Empat tingkat hirarki kebutuhan di atas di sebut sebagai kekurangan kebutuhan (deficite needs atau D-needs).  Ketika kita tidak cukup memiliki atau terpenuhi kebutuhan di atas artinya kita kekurangan dan kita menjadi merasa butuh untuk itu.  Sebaliknya, ketika kita telah memenuhi semuanya, maka kita tidak lagi akan memerlukannya.

 

Maslow juga mengemukakan tingkatan-tingkatan tersebut dengan istilah homeostasis.  Homeostasis merupakan prinsip kerja sebagaimana ukuran panas (thermostat):  Jikalau terlalu dingin, maka pindahkan saklar ke panas, jika terlalu panas, pindahkan ke dingin atau saklar panasnya dimatikan.  Dalam cara kerja yang sama, maka tubuh kita bila kekurangan sesuatu kebutuhan akan mengembangkan perasaan “lapar” untuk itu. Jika kebutuhan tertentu telah terpenuhi akan berhenti dengan sendirinya. 

Maslow memandang semua kebutuhan di atas merupakan kebutuhan akan kelangsungan hidup (survival needs).  Kata Maslow, cinta kasih dan harga diri merupakan kebutuhan untuk memperhatankan (memelihara) kesehatan.  Ia juga menyatakan bahwa kita memiliki dua macam kebutuhan itu bagaikan instink. Oleh karena itu sering keduanya disebut instinctoid needs.

Di bawah kondisi tertekan (stressful conditions) atau ketika kelangsungan hidup kita terancam, maka kita akan turun ke arah kebutuhan  yang lebih rendah. Ketika karier Anda turun, maka kemungkin  besar Anda akan mencari perhatian. Jika keluargamu menjauhimu, kamu akan membutuhkan rasa cinta dan mengabaikan harga diri.

Maslow juga mengemukakan perlunya orang mengembangkan filosofi masa depan (philosophy of the future) dimana kita memiliki rancangan kehidupan yang ideal atau dunia yang diangankan dan untuk itu memerlukan informasi-informasi untuk memenuhi kebutuhan akan masa depan tersebut.

Jikalau Anda memiliki masalah yang berat sepanjang perkembangan Anda, misalnya selama masa kanak-kanak tidak merasa aman, atau ditinggal mati keluarga yang dicintai, maka Anda akan mengatur kebutuhan agar hidup menjadi lebih tenang atau lebih santai.

  1. Kebutuhan untuk Aktualisasi Diri (Self-actualization)

Istilah aktualisasi diri dipersamakan oleh Maslow dengan motivasi untuk tumbuh atau being needs atau B-needs sebagai lawan dari D-needs). Pada pandangan awal, kebutuhan ini dipandang yang tertingi dari kebutuhan manusia. Namun, akhir-akhir ini ada kebutuhan yang lebih tinggi lagi yaitu kebutuhan akan pengetahuan dan kebutuhan akan rasa keindahan.

Kebutuhan untuk aktulisasi diri tidak termasuk ke dalam keseimbangan atau homeostasis.  Dalam kenyataannya kebutuhan ini kadang lebih kuat dari kebutuhan  lainnya. Kebutuhan ini mencakup keinginan terus-menerus untuk mengaktualisasikan potensi sampai pada batas yang dapat dicapai. Untuk dikatakan sebagai “dirimu” kebutuhan ini harus dipenuhi sampai batas yang paling lengkap.  Oleh karena itulah maka kebutuhan ini disebut aktualisasi diri. Artinya, menampilkan keseluruhan pribadinya sampai batas puncak.

Dalam memahami teori kebutuhan secara lengkap, maka perlu diperhatikan bahwa jika Anda ingin benar-benar mampu mengaktualisasikan diri, maka Anda perlu memenuhi dulu kebutuhan-kebutuhan di bawahnya yang lebih lengkap. Jika Anda lapar, Anda perlu mengambil makanan. Jika Anda tidak aman, maka Anda perlu mendapat pengawalan. Jika Anda merasa terisolasi atau tidak dicintai, maka Anda perlu memuaskan kebutuhan  tersebut; Jika Anda merasa rendah diri, maka Anda perlu mempertahankan harga diri atau mengkompensasikannya;  Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tak terpenuhi, maka sulit bagi Anda untuk memenuhi kebutuhan tertinggi Anda yakni untuk menampilkan potensi Anda. Dalam berbagai penelitian, ternyata di dunia ini sangat jarang ditemukanorang yang mampu memenuhi kebutuhan tertinginya untuk beraktualisasi diri. Maslow menyebut angka dua persen (2%) saja umat manusia di dunia ini yang mampu menampilkan potensinya secara penuh.

Bagaimanakahorang yang dipandang mencapai aktualisasi diri puncak? Maslow menyebutkan beberapa petunjuk mengeni sifat-sifat manusia yang telah terpenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya dan dalam hidupnya menjadi bahagia, yaitu orang-orang yang mengutamakan:

  • Kebenaran, bukannya ketidak jujuran.
    • Kebaikan, bukannya kejahatan.
    • Kecantikan (pribadi), bukannya kejelekan atau ketidaksopanan.
    • Kesatuan dan keutuhan pribadi, bukannya aneka pilihan yang dipaksakan.
    • Kesadaran akan perilaku sebagai bagian hidupnya, bukan sebagai mekanisasi dari hidup (upaya mempertahankan diri belaka).
    • Keunikan pribadi, bukan keseragaman yang lemah.
    • Kesempurnaan dan kemanfaatan, bukan kejorokan, ketidakajegan, atau ketidakbergunaan.
    • Kelengkapan, bukannya ketidaklengkapan.
    • Keadilan dan keteraturan, bukan ketidakadilan dan pelanggaran aturan.
    • Kesederhanaan, bukan kompleksitas yang tak perlu.
    • Merasa kaya, bukan merasa miskin atau lemah.
    • Giat berusaha, bukan tegang dalam berusaha.
    • Santai, bukan suram atau cemberut, hati tak senang, kerja yang menjemukan.
    • Mencukupi keperluan sendiri, bukan ketergantungan.
    • Hidup bermakna (Meaningfulness), bukannya kesia-siaan.

Tentu saja untuk memiliki sifat di atas tidaklah sederhana. Ketika manusia hidup dalam tekanan ekonomi, tekanan perang, hidup di lingkungan masyarakat miskin, atau cemas karena mengkhawatirkan tidak cukup makan, sifat-sifat di atas sulit untuk berkembang. Dalam kenyataannya, Maslow yakin bahwa keadaan dunia dimana kita hidup menjadi kunci dari terpenuhinya kebutuhan manusia.

  1. Kebutuhan Pengetahuan (Knowledge Needs)

Untuk mencapai aktualisasi diri secara memadai, manusia membutuhkan sarana. Dalam perkembangan teori kebutuhan, dikemukakan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang lebih tinggi dari aktualisasi diri yaitu kebutuhan akan pengetahuan. Hanya orang-orang yang berilmu yang mampu mengaktualisasikan diri secara memadai.  Dalam hal ini dapat dicontohkan ketika seseorang memiliki potensi kuat di aspek fisik (body-kinesthetic), maka ia baru akan mampu mengaktulasisasikan potensi fisiknya tersebut  kalau menguasai “ilmu” olah fisik secara memadai. Bila kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup di bidang olah fisik, maka kita tak akan bisa tampil memadai. 

  1. Kebutuhan akan Rasa Keindahan (Aesthetic Needs)

Puncak dari kebutuhan  manusia adalah rasa keindahan. Kebutuhan ini terkait dengan kehalusan budi manusia.Adakaitannya pula dengan apresiasi manusia terhadap segala kebutuhan hidupnya. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis tidak saja secara lahiriyah terpenuhi, tetapi lebih dari itu, terpenuhinya kebutuhan fisiologis tersebut akan diikuti dengan rasa estetika. Makan tidak sekedar makan, tetapi bagaimana makan tersebut disertai dengan suasanaindah. Demikianpun rasa aman. Aman secara fisik tidak saja memakai baju seadanya, tetapi perlu memikirkan rasa keindahan. Begitu selajutnya, kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi pun akan dimanifestasikan dalam rasa estetika bagi masing-masing pribadi manusia.

Aplikasi Teori Kebutuhan dalam Pendidikan

Maslow telah mengembangkan teori kepribadian yang sangat berpengaruh dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan.  Pengaruh yang luas ini sampai pada tataran praktis. Sebagai ahli psikologi humanistik, Maslow yakin bahwa manusia tidak bisa dibuka atau ditutup dengan kekuatan mekanistik, sebagaimana diajarkan oleh kaum behavioristik yang menekankan pada hubungan stimulus dan respon, atau dorongan-dorongan dari alam ketidaksadaran sebagaimana diajarkan kaum psikoanalisis. Kaum humanis menekankan bahwa manusia itu memiliki potensi.  Mereka yakin bahwa manusia itu berkehendak untuk mencapai kapabilitas yang lebih tinggi.  Manusia akan mencari bentuk-bentuk kreativitas, mereka berkehendak untuk mencapai kesadaran tinggi atau mencapai kehidupan yang arif (wisdom). Suatu kehidupan yang berorientasi kepada kemaslahatan diri dan kemaslahatan umat manusia pada umumnya.  Keadaan ini dilabelkan oleh kaum humanis sebagai “fully functioning person“, “healthy personality“, atau sebagaimana dinyatakan oleh Maslow sebagai “self-actualizing person.”.

Sebagaimana telah dikemukakan di muka, bahwa Maslow menyusun kebutuhan manusia dalam sebuah hirarki. Kebutuhan-kebutuhan tersebut instinctoid, yang sejajar dengan instincts pada binatang. Dalam kaitan ini, ada keyakinan bahwa jika lingkungan baik, maka orang akan tumbuh menjadi kuat dan berpribadi cantik, mampu mengaktualisasikan diri secara memadai.  Sebaliknya, jika lingkungan tidak baik, maka manusia akan tumbuh dalam pertumbuhan yang lemah dan tidak menyenangkan.

Maslow yakni bahwa satu-satunya alasan orang tidak bergerak menuju ke arah kebutuhan self-actualization disebabkan oleh hambatan-hambatan dari masyarakat.  Peristiwa pendidikan merupakan cara memadai untuk menghantarkan manusia mencapai kebutuhan aktualisasi diri secara memadai.  Maslow menyatakan bahwa pendidik harus merespon terhadap potensi-potensi individu untuk tumbuh ke arah  a self-actualizing person.Ada sepuluh pesan bagi para pendidik dalam kerangka memberi kesempatan anak untuk mengaktualisasikan dirinya:

  1. Pendidik harus mengajar anak untuk menjadi authentic, untuk menyadari “dunia dalam” mereka untuk mendengarkan suara hati mereka sendiri.
  2. Pendidik harus mengajar anak-anak untuk menjadi transcend their cultural conditioning dan menjadi warga dunia yang arif.
  3. Pendidik harus membantu anak untuk menemukan dunia kerja mereka dalam kehidupan sehingga mendapat tempat yang pas untuk aktualisasi diri. Hal ini dikhususkan pada penemuan karier yang tepat.
  4. Pendidik harus mengajarkan bahwa hidup itu mahal, bahwa ada kegembiraan yang bisa dialami dalam hidup, jika orang terbuka untuk mencari situasi-situasi yang baik dan menggembirakan, maka hal ini akan membuat hidup itu menyenangkan.
  5. Pendidik harus menerima anak sebagaimana anak adanya dan membantu mereka atas dasar “dunia dalam” mereka. Atas dasar pengetahuan kita tentang bakat dan hambatan-hambatannya, maka kita akan tahu apa yang harus diperbuat terhadap keadaan seseorang anak sesuai dengan potensi masing-masing.
  6. Pendidik harus melihat bahwa kebutuhan dasar manusia itu harus dipuaskan. Anak-anak harus merasa aman, merasa terlibat, dan merasa memiliki harga diri.
  7. Pendidik harus menyegarkan kembali kesadaran anak, mengajar anak untuk mengapresiasi hal-hal yang indah dan baik dalam hehidupan.
  8. Pendidik harus mengajar anak bahwa mengontrol atau mengendalikan diri itu bagus. Peristiwa mengendalikan diri merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup dalam semua bidang.
  9. Pendidik harus mengajar anak untuk memahami permasalahan hidup dan bergulat dengan permasalahan yang serius dalam hidup. Hal ini mencakup peristiwa-peristiwa ketidakadilan, kesakitan, penderitaan, dan kematian.  
  10. Pendidik harus mengajar anak untuk menjadi pemilih yang baik. Anak-anak harus diberi banyak pengalaman untuk melakukan pilihan-pilihan dengan baik.
  11. C.    Tugas-Tugas Perkembangan Manusia

Pada bagian ini akan dikemukakan delapan tugas-tugas perkembangan yang dihadapi remaja.  Pada bagian sebelumnya telah dikemukakan definisi remaja, perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, secara biologis dan psikologis. Pada bagian ini akan dikemukakandelapan tugas perkembangan utama yang harus dialami oleh remaja. Dengan memahami tugas-tugas perkembangan berikut ini diharapkan orangtua dan guru-guru dapat memberikan dukungan dan kesempatan yang tepat agar remaja mampu melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan baik.

Apakah tugas-tugas perkembangan yang dihadapi remaja?

Tugas perkembangan utama yang dihadapi remaja adalah dimilikinya identitas secara stabil dan menjadi orang dewasa yang lengkap dan produktif. Sebagian besar waktu remaja akan dipergunakan untuk mengembangkan diri dalam menghadapi perubahan-perubahan pengalaman dan peran-peran hidup mereka dari masa kanak-kanak. Remaja mencari peran hidup mereka dalam masyarakat melalui aktif belajar dari kehidupan nyata yang mengarahkan mereka untuk menemukan jati dirinya sendiri.

Perubahan-perubahan yang dialami anak pada masa pubertas membawa kesadaran baru terhadap diri sendiri dan reaksi-reaksi orang lain terhadap dirinya. Sebagai contoh, kadang-kadang orangtua menerima remaja sebagai orang dewasa, sebab mereka secara fisik tampak seperti fisik orang dewasa. Sebaliknya, sebenarnya mereka belum dewasa. Remaja membutuhkan tempat (kamar) untuk mengeksplorasi dirinya sendiri dan dunia mereka sendiri. Jadi sebagai orang dewasa, kita perlu menyadari kebutuhan-kebutuhan remaja dan memberikan kesempatan-kesempatan yang diperlukan untuk tumbuh berperan sebagai orang dewasa.

Tugas-tugas perkembangan merupakan ukuran atau pertanda sebagai perkembangan yang normal dari remaja dalam mengarungi hidupnya.Adadelapan tugas perkembangan utama yang dihadapi remaja, yaitu:

  1. Memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan orang lain, baik dengan remaja laki-laki maupun perempuan, pada kelompok seusia.
  2. Mencapai peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan.
  3. Menerima keadaan fisiknya sebagaimana adanya.
  4. Mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
  5. Mempersiapkan diri untuk hidup dalam ikatan perkawinan dan berumah tangga.
  6. Mempersiapkan diri dalam bidang karier.
  7. Memperoleh seperangkat nilai-nilai dan suatu sistem etika sebagai pemandu perilaku — mengembangkan suatu ideologi penuntun perilaku pribadi.
  8. Berkeinginan dan berusaha mencapai perilaku yang dapat dipertanggung-jawabkan secara sosial.

Setiap tugas perkembangan tersebut secara berturut-turut dijelaskan sebagai berikut.

  1. 1.      Memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan orang lain, baik dengan remaja laki-laki maupun perempuan, pada kelompok seusia

Remaja belajar melalui usaha-usaha untuk beriteraksi dengan orang lain dengan cara-cara yang lebih dewasa.  Kematangan fisik memainkan peranan penting dalam beriteraksi dengan teman-teman dari kelompok sebaya.  Remaja yang tingkat kematangannya lebih rendah dari ukuran usia sebayanya akan mengalami penolakan dari kelompok sebayanya. Keadaan ini akan diikuti dengan perilaku remaja tersebut untuk mencari kelompok lain yang tingkat perkembangannya serupa dengan dirinya. Remaja putri  yang lebih cepat matang akan masuk ke dalam kelompok sebaya yang memiliki kematangan fisik serupa dengan perkembangan dirinya, sehingga memungkinkan remaja putri ini lebih cepat aktivitas seksualnya.

Pemantauan oleh orang tua akan sangat berguna dalam menunjang arah perkembangan remaja. Namun, perlu disadari bahwa orang tua memiliki keterbatasan dalam pemantauan ini, sebab banyak waktu remaja dihabiskan dalam aktivitas di luar jangkauan orang tua.

 

  1. 2.      Mencapai peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan

Anak remaja mengembangkan definisi mereka sendiri tentang apa yang dimaksud pria atau wanita. Bagaimanapun, kebanyakan anak remaja menepati peran atas dasar jenis kelamin sejalan dengan pandangan budaya bahwa kaum pria itu berperilaku tegas dan kuat, sedangkan wanita bersifat  pasif dan lemah. Duapuluh tahun terakhir ini, peran-peran ini sudah menjadi lebih mencair. Artinya, tidak selalu peran-peran tegas harus diambil laki-laki, sedangkan peran-peran lemah harus diambil perempuan. Sebagai orang dewasa, kita harus menyediakan kesempatan bagi anak remaja untuk menguji dan mengembangkanperanan sosial yang feminin atau maskulin mereka.  Sebagai contoh, kita harus mendorong remaja pria untuk menyatakan perasaan mereka dan mendorong wanita untuk menyatakan diri mereka lebih dari terbuka dan tegas yang mereka tak memilikinya di masa lalu.

  1. 3.      Menerima keadaan fisiknya sebagaimana adanya

Permulaan dari pubertas dan tingkat perubahan fisik untuk anak remaja amat bervariasi.  Remaja-remaja tertentu yang dengan mudah menghadapi perubahan itu sebagian mencerminkan bagaimana pertumbuhan fisik mereka memenuhi pertumbuhan fisik yang sempurna sebagaimana yang diidam-idamkan para remaja laki-laki atau wanita-wanita. Sebaliknya, remaja yang tidak memenuhi standar pertumbuhan fisik yang ideal akan banyak memerlukan dukungan ekstra dari orang dewasa untuk meningkatkan perasaan nyaman dan self-worth mengenai bentuk badan mereka.

  1. 4.      Mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya

Anak-anak memperoleh kekuatan dari cara-cara mereka menginternalisasikan nilai-nilai dan sikap-sikap orangtua mereka. Cara-cara ini lambat laun mulai memudar sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi remaja. Remaja, bagaimanapun, harus menggambarkan kembali sumber kekuatan mereka dari kekuatan pribadi dan bergerak ke arah kepercayaan pada diri sendiri. Perubahan ini akan lebih mudah jika anak remaja dan orang tua dapat mencapai mufakat sampai batas level tertentu dari kemerdekaan atau kebebasan yang meningkat dari waktu ke waktu.  Sebagai contoh, orang tua dan anak remaja perlu menetapkan waktu jam malam dimana anak boleh ke luar rumah. Waktu itu harus ditingkatkan ketika anak remaja kita menjelang masa dewasa.

  1. 5.      Mempersiapkan diri untuk hidup dalam ikatan perkawinan dan berumah tangga

Kematangan di bidang seksual merupakan  basis dari tugas pengembangan remaja. Pencapaian tugas-tugas pengembangan ini sulit sebab anak remaja seringkali bingung antara perasaan seksual dengan keakraban yang asli. Tentu saja, tugas pengembangan ini pada umumnya tidak dicapai sampai masa remaja akhir atau awal kedewasaan.

Dalam kaitan ini, tugas pendidikan bukannya mempersiapkan  remaja melaju ke jenjang perkawinan. Hal yang lebih pokok adalah bagaimana remaja memiliki sikap yang tepat menghadapi kebingungan mereka atas perasaan-perasaan seksual dan hubungan-hubungan interpersonal yang akrab dengan lawan jenisnya. Problema perilaku seksual akhir-akhir ini menjadi salah satu bagian keprihatinan sebagian besarorang tua dan pendidik pada umumnya.

  1. 6.      Mempersiapkan diri dalam bidang karier

Di dalam masyarakat kita, anak remaja dipandang telah menjangkau status orang dewasa ketika ia bisa mendukung dirinya sendiri dalam hal keuangan. Tugas ini telah menjadi lebih sulit dibanding di masa lalu sebab permintaan pasar pekerjaan menuntut pendidikan dan ketrampilan yang tinggi. Saat ini, tugas pengembangan mempersiapkan diri di bidang karier secara umum tidak dicapai sampai masa remaja akhir atau awal kedewasaan, setelah individu menyelesaikan pendidikannya, dan memperoleh beberapa tingkat awal pengalaman bekerja.

  1. 7.      Memperoleh seperangkat nilai-nilai dan suatu sistem etika sebagai pemandu perilaku — mengembangkan suatu ideologi pribadi.

Anak remaja sudah dapat berpikir secara abstrak dan situasi yang mungkin bakal terjadi. Dengan perubahan di dalam berpikir ini, anak remaja bisa mengembangkanseperangkat keyakinan dan nilai-nilainya sendiri.

  1. 8.      Berkeinginan dan berusaha mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial

Keluarga merupakan tempat di mana  anak-anak menggambarkan atau mendefinisikan  diri mereka dan dunia mereka sendiri. Sementara itu, remaja mendefinisikan atau menggambarkan diri mereka dan dunia mereka dari peranan sosial yang baru mereka jalani. Status remaja di dalam masyarakat, di luar dari keluarga merupakan suatu keberhasilan yang penting bagi masa remaja akhir dan orang dewasa awal. Remaja dan orang dewasa awal sebagai anggota masyarakat yang lebih luas melalui keterlibatan mereka dalam ketenagakerjaan (dimana mereka memiliki  kemerdekaan dalam bidang keuangan) dan kemerdekaan emosional dari orang tua.

RANGKUMAN

Sebagian besar remaja menghadapi tugas perkembangan sebagai suatu yang menantang, namun sebagian besar tidaklah tak dapat ditanggulangi. Galibnya, remaja  sedang menguji kemerdekaan dirinya dari belenggu orangtuanya; namun mereka bukanlah, dan tidak ingin, secara total mandiri.  Orangtua dan orang dewasa harus menyediakan suatu lingkungan yang mendukung untuk anak remaja yang sedang mencari dan menyelidiki identitas diri mereka. Orang tua dan orang dewasa kebanyakan berpegang teguh dalam prinsip. Remaja memerlukan orang tua untuk memainkan peran aktif di antara orang tua-orang tua yang masih hidup dan memiliki kemauan juga yang mungkin berbeda dari remaja. Bagaimanapun, orang dewasa harus menyediakan anak remaja beberapa ruang untuk bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan mereka sendiri serta bertanggung jawab atas konsekuensi  dari keputusan yang diambilnya. Ketika remaja membuat kesalahan atas keputusan yang diambil, mereka memerlukan dukungan dan bimbingan dari orang tua dan orang dewasa untuk membantu mereka untuk mengetahui dari pengalaman menghadapi sesuatu terkait dengan keputusan tersebut. Dengan mengetahui tugas perkembangan anak remaja, orang tua dan orang dewasa dapat membantu kekeliruan yang diperbuat oleh anak remaja menjadi peluang yang mampu meningkatkan penguasaan anak remaja atas ketrampilan hidup. Kadang-Kadang interaksi antar orangtua dan orang dewasa lain dengan anak remaja akan menjadi tantangan dan pertentangan yang tidak pasti, tetapi adalah penting bahwa orang tua dan orang dewasa tetap tabah dan memberi kepercayaan kepada anak remajanya serta yakin bahwa anaknya akan sanggup menyelesaikan segala urusan. Orang tua dan orang dewasa mempunyai sebuah peran yang penting untuk dilakukan dan diperkirakan mempunyai dampak  positif bila secara tidak kentara mereka hidup di antara anak remajanya.

Kompleksitas perubahan yang dihadapi individu mulai terasa pada dekade kedua ketika manusia hidup. Tentu saja, masa remaja ditandai oleh banyak perubahan– biologi, phisik, emosional dan intelektual. Informasi dari rangkaian perubahan-perubahah dalam berbagai bidang tersebut akan menjadi “petunjuk jalan (road map)” untuk mengantisipasi dari anak remaja. Penggunaan petunjuk jalan ini, orang tua dan orang dewasa lain dapat mendukung anak remaja atas perjalanan mereka ke arah mencapai tujuan mereka, yakni menjadi orang dewasa yang produktif dan berkompeten.

 

PENDALAMAN

Untuk memperoleh penguasaan yang mendalam mengenai kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan remaja, kerjakanlah tugas-tugas berikut ini dengan saksama.

  1. Beberapa orang ahli menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan remaja. Menurut pandangan Anda sendiri bagaimana, benarkah bahwa remaja hidupnya hanya untuk “mengabdi” kepada kehidupan seksual?
  2. Amatilah beberapa remaja, bedakan di antara remaja yang Anda amati bagaimana perkembangan identitas dirinya? Adakah di antara mereka ada yang identitas dirinya tidak sehat? Kalau ada, bagaimana karakteristik yangtampak?
  3. Tekanan dari pemenuhan kebutuhan di masa remaja adalah aktualisasi diri. Adakah di antara remaja yang menurut penilaian Anda belum waktunya aktualisasi diri, artinya mereka masih bergelut dengan kebutuhan  dasar yang lebih rendah? Bagaimana kita menghantarkan remaja agar mampu beraktualisasi diri?

 

DAFTAR RUJUKAN

Carnegie Council on Adolescent Development (1995). Great transitions: Preparing adolescents for a new century.New York: Carnegie Corporation.

Cobb, N. J. (1994). Adolescence: Continuity, change, and diversity.Mountain View,CA: Mayfield Publishing.

Dryfoos, J. G. (1990). Adolescents at risk: Prevalence and prevention.New York:OxfordUniversity Press.

Eccles, J. S., Midgley, C., Wigfield, A., Buchanan, C. M., Reuman, D., Flanagan, C. & Mac Iver, D. (1993). Development during adolescence: The impact of stage-environment fit on young adolescents’ experiences in schools and in families. Journal of the American Psychologist Association, 48, 90-101.

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis.New York: W. W. Norton.

Hamburg, B. (1974). Early adolescence: A specific and stressful stage of the life cycle. In G. Coehol, D. A. Hamburg, & J. E. Adams (Eds.), Coping and adaptation (pp. 101-125).New York: Basic Books.

Lerner, R. M. (1995). America‘s youth in crisis: Challenges and options for programs and policies. Thousand Oak, CA: Sage.

Lerner, R. M., & Galambos, N. L. (Eds.) (1984). Experiencing adolescents: A sourcebook for parents teachers, and teens.New York: Teachers College.

Nightingale, E. O., & Wolverton, L. (1993). Adolescent rolelessness in modern society. Teachers College, 94, 472-486.

Perkins, F.  Daniel.2005. Adolescence: Developmental Tasks.

Petersen, A. C. (1987). The nature of biological-psychological interaction: The sample case of early adolescence. In R. M. Lerner & T. T. Foch (Eds.), Biological- psychosocial interactions in early adolescence: A life-span perspective (pp. 35-62).Hillsdale,NJ: Erlbaum.

Simmons, R. G., & Blyth, D. A. (1987). Moving into adolescence: The impact of pubertal change and school context.New York: Aldine DeGruyter.

Vernon, A. & Al-Mabuk, R. H. (1995). What growing up is all about: A parent’s guide to child and adolescent development.Champaign,IL: Research Press.

 

 oleh bapak sujimat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s