INTELIGENSI DAN BAKAT

BAB IV

INTELIGENSI DAN BAKAT

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari inteligensi dan bakat, mahasiswa mampu:

  1. menjelaskan hakekat inteligensi, menurut pandangan konvensional dan pandangan mutakhir;
  2. menjelaskan perilaku yang inteligen;
  3. menjelaskan hakekat bakat dan kaitannya dengan perkembangan kepribadian manusia;
  4. menjelaskan langkah-langkah untuk mengembangkan bakat.

 

PEMBAHASAN

  1. A.    Inteligensi

Di dalam psikologi dikenal istilah yang juga mulai populer di kalangan masyarakat luas, yaitu inteligensi. Inteligensi ini sekaligus dapat menggantikan berbagai macam istilah  yang ada hubungannya dengan kecerdasan. Karena itu selanjutnya akan dibahas mengenai istilah inteligensi (kecerdasan) saja dan tidak lagi menggunakan istilah-istilah yang digunakan oleh awam.

Psikologi pada hakekatnya adalah ilmu tentang tingkah laku. Karena itu yang dipelajari dalam psikologi adalah tingkah laku manusia maupun hewan, tetapi khususnya tingkah laku manusia. Berbicara mengenai inteligensi, tingkah laku dapat dibagai dalam tingkah laku yang hanya sedikit membutuhkan inteligensi dan tingkah laku yang membutuhkan inteligensi. Seseorang yang sedang menikmati sebuah taman bunga misalnya, memandangi bunga-bunga yang berwarna warni dan menciumi bunga-bungna tersebut, maka ia sedang melakukan perbuatan yang tidak membutuhkan inteligensi tinggi. Tetapi, kalau ia mulai menghitung ada beberapa  bunga di taman itu,  kalau ia membayangkan sebaiknya bunga-bunga merah dan kuning  dikelompokkan di sebalah sisi, sedangkan bunga-bunga  biru dan ungu dikelompokkan di sebelah sana, maka ia telah berlaku lebih inteligensif. Kalau kemudian ia menyelidiki nama bunga dan jenis bungan yang ada di taman itu, maka ia melakukan perbuatam inteligensif yang lebih tinggi lagi. Demikian pula, kalau seorang anak duduk atau tidur diatas kursi, maka tingkah lakunya kurang berhubungan dengan faktor inteligensi. Tetapi, kalau ia membedakan kursi yang didudukinya yang terbuat dari kayu dengan lain yang ada didekatnya yang terbuat dari besi dan mulai memikirkan bagaimana cara kedua kursi tersebut dibuat, misalnya, apakah ada perbedaan dalam harga penjualannya dan seterusnya, maka ia sudah melakukan perbuatannya yang lebih inteligensif.

Demikian halnya, tingkah laku inteligensif dibedakan  dari yang kurang inteligensif oleh unsur, seperti pikiran, akal atau rasio. Tentu saja perbedaan ini bukan perbedaan yang mutlak, merupakan perbedaan yang berjenjang, karena jarang sekali ada tingkah laku yang sama sekali mengandung unsur pikiran. Setiap tingkah laku mengandung unsur pikiran, hanya ada yang sedikit, ada pula yang banyak. Maka sedikit unsur pikirannya (jadi lebih banyak unsur perasaan, penginderaan dan sebagainya), maka perbuatan itu makin merupakan tingkah laku yang digolongkan kurang inteligensif. Sedangkan makin banyak unusur pikiran dalam timgkah laku,  maka tingkah laku itu makin merupakan tingkah laku yang dapat digolongkan inteligensif.

Dengan demikian tingkah laku inteligensif dan bertingkat-tingkat, ada yang sederhana seperti menghitung 1 + 1 = 2, ada yang agak rumit seperti mencari sebuah kota dari sebuah peta buta, ada yang lebih rumit lagi seperti membuktikan dalil phytagoras dan ada sangat rumit memutuskan perkara oleh seorang hakim atau merancang sebuah jembatan oleh seorang insinyur atau membuat satelit palapa oleh beratus-ratus insinyur. Hal kedua yang menandai tingkah laku inteligensif adalah adanya tindakan yang terarah untuk mengolah dan menguasai lingkungan secara fiktif.

Misalnya: A terperangkap dalam lift, berteriak-teriak, menggedor-gedor pintu lift sampai kelelahan, tetapi tidak ada yang menolong karena tidak mendengar suaranya atau gedorannya. Tingkah laku digolongkan kurang intelgenif. B juga pernah terperangkap dalam lift,  dengan tenang ia membaca intruksi dalam lift dan ia menekan tombol intercom, sehingga ia dapat mudah berhubungan dengan petugas luar. Ia dapat pertolongan cepat. Tingkah laku B itu merupakan tingkahlaku yang lebih inteligenif dari pada tingkah laku A.

Agaknya semua orang dewasa tahu apa inteligesi itu, namun di antara para pakar psikologi sendiri sampai kini masih belum ada kesepakatan mengenai bagaimana inteligensi itu seharusnya didefinisikan.

Salah satu definisi inteligensi yang banyak dianut orang ialah definisi yang dikemukakan oleh David Wechsler (1966). Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai kapasitas keseluruhan dari individu untuk bertindak dengan bertujuan, berpikir secara rasional, dan menangani lingkungannya secara efektif.

 

1. Berbagai Teori Inteligensi

Konsep-konsep baru mengenai inteligensi muncul pada awal abad ke duapuluh, ketika Alfred Binet mencoba membantu se­kolah-sekolah di Paris untuk mengidentifi­kasi anak-anak yang kiranya akan dapat atau tidak dapat memanfaatkan pendidikan yang biasa diberikan di kelas-kelas (Binet, 1976). Bersama dengan Theophile Simon, dia mengembangkan skala-skala inteligensi dan menerbitkan tes inteligensi yang pertama. Penerbitan ini memang tampaknya amat sederhana bila diukur dengan standar masa kini, namun penerbitan ini mungkin merupakan suatu terobosan yang paling penting dalam sejarah psikologi pendidikan, suatu terobosan yang menjadi­kan Binet memperoleh sebutan “Bapak pengetesan inteligensi”. Walaupun mereka menggunakan item-item tes yang berbeda-beda dalam skala mereka, namun semua item itu diasumsikan mengungkap kemampuan umum. Tersirat dalam tes itu bahwa inteligensi sebagai suatu kemampuan mental tunggal yang sifatnya umum dan melandasi berbagai fungsi yang berbeda-beda. Inteligensi dianggap sebagai suatu kemampuan global.

Faktor “g”. Tidak lama setelah skala inteligensi Binet dikembangkan, pakar-pakar lain, seperti Charles Sperman dan Louis Thurstone, mulai mempertanyakan pemikiran Binet mengenai inteligensi umum. Sperman (1932), penemu analisis faktor, mengusulkan bahwa paling tidak ada dua faktor di dalam inteligensi, yakni faktor umum “g” yang merupakan faktor penentu utama dalam perilaku inteligen, dan banyak faktor-faktor spesifik lainnya yang disebut “s”.

Kemampuan-kemampuan utama. Bebe­rapa tahun kemudian, Thurstone (1938) mengembangkan analisis faktor ganda. Menurut Thurstone, memang nyata bahwa ada kemampuan-kemampuan lain selain “g”. inteligensi bukanlah mencakup segala-galanya, tapi merupakan kemampuan dari sejumlah kemampuan yang berbeda-beda. Thurstone kemudian mengidentifikasikan adanya tujuh buah kemampuan demikian yang kemudian dikenal luas sebagai kemampuan-kemampuan utama (primary mental ability, atau biasa disingkat PMA). Kemampuan-kemampuan yang dimaksud ialah kemampuan spasial (berkait dengan ruang), kecepatan persepsi, kecakapan numerik (menggunakan angka-angka), pe­mahaman verbal, ingatan, kefasihan kata, dan kemampuan untuk menarik kesimpulan secara umum.

Faktor “g” dikunjungi kembali. Tidak lama kemudian Raymond Cattell (1963; 1972) yang telah lama bekerja bersama Spearman dan Thurstone melihat berbagai cacat pada teori struktur inteligensi mereka yang kaku itu. Dia berpendapat bahwa inteligensi tidak hanya melibatkan sebuah tapi dua buah faktor kemampuan umum. Pada tahun 1940, Cattell melontarkan teorinya tentang dua faktor kemampuan umum itu, yakni kemampuan umum yang terealisir (crystallized general ability “gc”) dan kemampuan umum yang nafta (fluid ability “gf”). Kemampuan umum terealisir “gc” berperan pada ketrampilan-keterampilan dalam mempertimbangkan yang telah diperoleh dari pengalaman budaya, sedangkan kemampuan umum nafta “gf” terlihat dalam penalaran numerik, keterampilan verbal, penalaran spasial, dan dalam penalaran induktif.

 

Ketrampilan-ketrampilan khusus. J. P. Guilford (1967) sepenuhnya menolak gagasan faktor inteligensi umum. Dia menekankan pentingnya menetapkan kemampuan-kemampuan intelektual secara jelas. Dia mencoba mensistematisir pengukuran-pengukuran inteligensi, dan menyimpulkan adanya 120 kemampuan yang masing-masing memiliki ciri tersendiri. Menurut Guilford, ada empat jenis stimulus dalam lingkungan  (isi), lima jenis jawaban (operasi), dan enam jenis produk yang bila digabung akan menghasilkan 120 buah faktor intelektual yang unik.

 

Teori perkembangan. Pakar-pakar psikologi lainnya, seperti Jean Piaget dan J. S. Bruner, memandang inteligensi dari perspektif perkembangan dan tampaknya tidak mempedulikan masalah struktur inteligensi.

Piaget (1952) berpendirian bahwa untuk dapat memahami hakekat inteligensi diperlukan sekali mengidentifikasi proses-proses yang memberikan andil pada perubahan dalam perkembangan. Seorang anak mengalami perubahan melalui empat tahap perkembangan yang makin bertambah kompleks. Rangkaian perubahan-perubahan dalam perkembangan inilah yang membentuk inteligensi orang dewasa.

Bruner (1966) juga memandang inteligensi dari dimensi perkembangan. Namun, tidak seperti Piaget yang menekankan kesiagaan biologis, Bruner lebih menitikberatkan pengaruh lingkungan dan budaya pada perkembangan kemampuan-kemampuan kognitif.

Teori Gagne. Gagne (1970) mengusulkan suatu model belajar yang hirarkhis. Dia berkeyakinan bahwa semua keterampilan dalam pemecahan soal dapat dijabarkan ke dalam komponen-komponen pelaksanaan yang merupakan prasyarat yang diperlukan untuk memecahkan soal tertentu; begitu soal telah dianalisis menjadi bagian-bagiannya, kita dapat dengan mudah mengajarkannya pada anak-anak.

 

PMA dikunjungi kembali. Salah seorang pakar psikologi modern yang kontroversial ialah Howard Gardner yang mengusulkan suatu teori inteligensi ganda (multiple intelligences) yang dikenal sebagai “The Seven Frames of Mind”. Menurut Gardner, ada setidak-tidaknya tujuh cara yang sama pentingnya dalam memandang dunia. Ketujuh kemampuan yang diusulkan Gardner itu adalah inteligensi linguistik, inteligensi matematik-logis, inteligensi spasial, inteligensi musikal, inteligensi kinestetik-tubuh, inteligensi interpersonal, dan inteligensi intrapersonal. Seorang dapat saja amat kuat dalam salah satu inteligensi dan lemah pada inteligensi-inteligensi lainnya. Berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya, Gardner menyatakan bahwa setiap inteligensi memiliki operasinya sendiri, dan eksistensinya bebas di dalam sistem saraf manusia. Namun, tidaklah jelas bagaimana dia menghubungkan ke tujuh kemampuan ini dengan pengertian konvensional, baik tentang kemampuan umum ataupun kemampuan khusus.

 

Inteligensi buatan. Dalam tahun-tahun belakangan ini, perhatian dunia sedang terarahkan pada apa yang disebut inteligensi buatan (artificial intelligence), suatu studi khusus dari cabang psikologi kognitif yang berkenaan dengan peniruan perilaku inteligen dengan menggunakan komputer. Banyak pakar psikologi, antara lain A. Newell dan H.A. Simon, yang berkeyakinan bahwa dengan meneliti bagaimana komputer merespon soal-soal, kita dapat banyak belajar tentang pemecahan soal pada manusia. Sesungguhnya, dengan menganalisis secara mendetail tentang proses pemecahan soal yang dilakukan manusia pada suatu tugas yang sangat sederhana sekalipun, seperti menjawab soal dalam tes inteligensi, kita akan menemukan cukup banyak aktivitas inteligen yang akan membuat kita terheran-heran betapa kabur sebenarnya pengetahuan kita mengenai inteligensi. Walaupun perjalanan untuk mencapai keberhasilan menirukan inteligensi secara lengkap masih amat jauh, banyak kemajuan yang telah dapat dicapai. Komputer catur terbaru Deep Blue, misalnya, pada tahun 1999 yang baru lalu telah dapat mengalahkan juara dunia catur Gary Kasparov.

Teori Triarkhic dari Sternberg. Teori yang dikemukan oleh Robert J. Sternberg ini merupakan salah satu teori inteligensi modern yang amat populer dewasa ini. Sternberg memandang inteligensi tidak hanya sebagai proses kognitif semata-mata, tetapi juga ada kaitannya dengan lingkungan sekitarnya. Pandangan demikian biasa disebut pandangan kognitif kontekstual. Menurut Sternberg, inteligensi terkait dengan tiga dunia kehidupan individu, yakni dengan dunia internal individu, dengan pengalamannya, dan dengan dunia eksternalnya.

1)      Dunia internal individu terdiri dari tiga kelompok komponen yaitu: a) Komponen-komponen meta yang merupakan proses eksekutif tingkat tinggi yang berfungsi untuk merencanakan, memantau, memilih proses yang akan dipakai untuk memecahakan masalah, dan menilai keberhasilan. b) Komponen-komponen pelaksana yang melaksanakan pemecahan masalah seperti yang direncanakan oleh komponen meta, dan c) Komponen-komponen penguasaan pengetahuan.

2)      Pengalaman individu berkait dengan kemampuan untuk menggunakan proses informasi secara langsung dalam mengerjakan tugas-tugas rutin, dan untuk menghadapi masalah yang relatif baru: individu harus menentukan informasi-informasi mana yang relevan, bagaimana memadukan informasi-informasi itu, bagaimana informasi baru terkait dengan yang lama, dan sebagainya untuk menjadikan dasar pertimbangannya.

3)      Dunia eksternal individu terkait dengan lingkungan individu yang dapat berupa lingkungan keluarga, pekerjaan, ataupun budaya. Dalam menghadapi lingkungannya, individu dapat mengambil salah satu strategi berikut ini: a) Selection, yaitu individu memilih lingkungan baru; b) Adaptation, yaitu individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan c) Shaping, yaitu individu mengubah lingkungan agar dapat sesuai dengan dirinya.    

Teori multiple intelligence Howard Gardner.Gardner mengemukakan bahwa inteligensi tidaklah bersifast tunggal, tetapi majemuk. Apabila pandangan lama menyatakan bahwa inteligensi itu satu dan bebas budaya makaGardner mempunyai pandangan bahwa inteligensi itu majemuk dan sarat budaya. Oleh karena itu, ia mendefinisikan inteligensi sebagai berikut.

 

An intelligence as a biopsychological potential to process information that can be activated in a cultural setting to solve problems or create products that are of value in a culture (Gardner, 1999).

 

Menurut Gardner inteligensi manusia majemuk dan terdiri atas:

  • Inteligensi verbal-linguistik
  • Inteligensi logika-matematika
  • Inteligensi spasial
  • Inteligensi musical
  • Inteligensi bodi-kinestetik
  • Inteligensi intrapersonal
  • Inteligensi interpersonal
  • Inteligensi natural
  • Inteligensi eksistensial
  • Inteligensi spiritual

Dari uraian di atas dapatlah inteligensi diartikan sebagai:

  • Kemampuan untuk belajar (Capacity to learn)
  • Keseluruhan pengetahuan yang diperoleh (Total knowledge acquired)
  • Kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan (Ability to adapt to the environment)

Jadi jelas bahwa inteligensi bukan saja sebagai satu aspek tunggal yang bebas budaya. Inteligensi merupakan kemampuan bawaan yang berkembang berkat diperolehnya pengetahuan dan dimanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam pemahaman lebih jauh, inteligensi berkembang dipengaruhi oleh berbagai factor, antara lain:

  • Faktor budaya, dulu orang percaya bahwa inteligensi itu sama saja bagi siapapun dan berlaku dimanapun. Pandangan ini sekarang mulai dikikis melalui memerankan budaya dalam perkembangan inteligensi. Seorang anak pelaut baru dikatakan beriteligensi tinggi kalau ia mampu menjalankan perahu menerjang ombak besar tanpa karam. Mereka tidak perlu memiliki angka rapot 10 di bidang matematika, tetapi mereka tahu persis aspek “fisika” dari jalannya perahu dalam menerjang ombak besar.
  • Genes
  • Parents’ education
  • Enriched environments
  • Both heredity and environment are about equally influential

2. Instink, Bakat, & Inteligensi

Sebelum kita berbicara lebih lanjut tentang inteligensi, ada baiknya kalau kita tahu selain inteligensi ada tingkah laku lain yang hampir mirip dengan tingkah laku inteligensif, yaitu tingkah laku yang didasari oleh instink dan bakat.

Instink adalah tingkah laku yang rumit, yang membutuhkan keterampilan yang tinggi dan digunakan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang sulit, sehingga nampaknya seolah-olah seperti tingkah laku inteligensif. Tetapi, berbeda dengan tingkah laku inteligensif, tingkah laku instinktif sifatnya kaku, tidak berfariasai sama sekali dan tidak dipelajari oleh makhluk yang bersangkutan, maka tingkah laku inktinsif juga tidak berkembang, melainkan yang itu-itu juga selama berpuluh-puluh tahun atau beratus tahun bahkan berjuta generasi.  Berbagai jenis ikan,  bermacam-macam burung dan jenis hewan lainnya melakukan berbagai kegiatan yang rumit sejak tiba saat bercinta, bertelur membuat sarang, sampai memelihara dan membesarkan anaknya. Perbuatan-perbuatan yang serba rumit itu ternyata kaku sekali dan justru membuat hewan-hewan itu bodoh dalam eksperimen di laboratori (walaupun di alam bebas hewan-hewan itu kelihatan cerdas).

Tinborgen dalam tahun 1952 pernah menyelidiki tingkah-laku ikan-ikan sticleback pada masa berahi mereka. Ternyata ikan-ikan jantan berubah warna lehernya, perutnya menjadi merah, dan perubahan itu merupakan perangsang untuk ikan jantan lain menyerangnya. Dengan demikian maka pada musim kawin ikan-ikan jantan  saling menyerang.  Tetapi,  bukan ikan jantan saja yang diserang, tetapi ikan-ikan (ikan buatan) yang diberi warna jantan lain saja yang disarang, tetapi juga ikan-ikan (ikan buatan  yang diberi warna merah pada leher dan perutnya, walaupun bentuk ikan itu lain sama sekali dari ikan yang sebenarnya. Bahkan mobil pos berwarna merah yang lewat dijalan sejauh 9 meter  dari akuarium dan terlihat dari akuarium menyebabkan ikan-ikan itu menyerang dinding akuarium dengan hebat.

Hampir sama dengan instink adalah tingkah laku imprinting. K. Lorenz pernah menyelidiki anak-anak itik yang diteteskannya, dan pada waktu telur itu menetes tidak ada makhluk atau orang lain di dekat situ kecuali ia sendiri. Ternyata anak itik itu mengikuti lorenz kemana ia berjalan, persis seperti anak itik mengikuti induknya. Tingkah laku inilah yang disebut imprinting. Walaupun yang dijumpai anak-anak itik yang baru menetas itu bukan induk itik, tetapi manusia, mereka tetap menganggap manusia sebagai induknya. Jadi, ada fleksibilitas, ada kemampuan-kemampuan untuk penyesuaian dengan rangsangan yang berbeda, tetapi fleksibilitas ini sangat terbatas sifatnya dan hanya terjadi pada masa kritis yang singkat sekali waktunya, Seandainya Lorenz baru  muncul beberapa jam setelah anak itik itu menetas, maka anak itik itu tidak akan mengikuti Lorenz.

Berbeda dengan instink dan imprinting, inteligensi jau lebih fleksibel dan justru dipengaruhi oleh faktor pengalaman dan belajar. Seorang insinyur yang membuat jembatan tidak memperoleh kepandaiannya begitu saja, melainkan mempelajari dengan sedikit demi sedikit, secara bertahap,  sejak ia dipangkuan ibu samapai menamatkan sekolah tingginya di jurusan teknik sipil. Walau pun demikian dalam inteligensi ada unsur-unsur yang dibawa sejak lahir, yaitu bakat.

Bakat adalah kondisi di dalam diri seseorang yang memungkinkanya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus.

Seorang yang mempunyai bakat matematika misalnya, akan mudah sekali menguasai pelajaran ilmu pasti, sedangkan seseorang yang mempunyai bakat daya ingatan kuat akan cepat menguasai pelajaran atau pekerjaan yang membutuhkan daya ingatan. Bakat ini dipisahkan dari inteligensi karena pengaruhnya yang besar terhadap inteligensi.

 

  1. 3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan  inteligensi

Dilain pihak, bakat tanpa rangsangan pendidikan, pengalaman dan latihan yang tepat dan memadai tidak akan berkembang optimal, sehingga prestasi yang dapat di capai anak atau orang yang bersangkutan juga tidak optimal. Dengan perkataan lain tingkat inteligensi yang dapat dicapai anak  atau orang yang bersangkutan tidak akan setinggi seandaianya  ia mendapat pendidikan, pengalaman dan latihan yang memadai terutama sangat penting artinya pada usia awal dalam perkembangan anak, khususnya pada usia di bawahlimatahun (balita).

Penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap anak anjing, yang sejak disapih, dikurung dalam kandang dan hanya diberi makanan dan kandangnya dibersihkan secara mekanis (tidak oleh manusia), membuktikan setelah 8 bulan anjing-anjing yang seharusnya sudah dewasa itu bertingkah laku seperti anak anjing yang masih kecil begitu ia keluar dari kandang. Mereka berlari-lari seolah-olah mereka masih anak-anak anjing berusia 1 – 2 bulan. Penyelidikan yang telah dilakukan oleh para sarjana terhadap anjing ini (Melzak, Scott, Thomson) selanjutnya membuktikan bahwa anjing yang dikurung pada masa kecilnya itu ternyata menjadi bodoh. Misalnya, kalau anjing itu diberi api, reaksinya anjing itu mendekati api dan menciumnya. Demikian pula anjing lain yang normal akan segera lari ketakutan begitu melihat api. Demikan pula anjing yang dikurung tidak akan mengambil makanan yang diletakkan dibelakang sebuah tabir kawat. Anjing-anjing itu akan menggigit kawat atau mencakar-cakarnya, padahal anjing normal dengan mudah mengitari kawat tersebut.

Penyelidikan terhadap anjing-anjing ternyata mendapat dukungan dari penelitian-penelitian terhadap manusia. Sebuah penelitian diJakartamisalnya, menunjukkan bahwa anak-anak yatim piatu yang dibesarkan di panti-panti cenderung mempunyai inteligensi yang lebih rendah dari pada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga biasa. Hal ini diperkirakan disebakan kuranya perawatan dan perhatian orang lain, jadi kurang rangsangan, pengalaman, pendidikan, latihan dan kesempatan berhubungan dengan orang lain selama anak-anak itu masih kecil.

Disamping pendidikan dan pengalaman yang secara langsung dan sengaja diberikan kepada anak oleh orang tua dan guru-guru, perkembangan inteligensi juga dipengaruhi  berbagai rangsangan yang terarah, dan pada saat yang tepat diberikan oleh orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Karenanya, memberi rangsangan mental sedini mungkin dan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan si anak adalah penting.

Dari uraian di atas dapat disarankan beberapa hal kepada orangtua ataupun pendidik:

  • Hendaknya tidak dikacaukan pengertian-pengertian: kepandaian, terpelajar dan kepintaran dengan inteligensi (kecerdasan), apalagi untuk masing masing itu digunakan ukuran-ukuran yang berbeda.
  • Walaupun berbagai tingkah laku dapat memberikan indikasi tentang tingkat inteligensi seseorang (sering tinggal kelas, prestasinya dalam pekerjaan, kepandaian berbicara dan sebagainya), namun untuk mengetahui secara tepat tingkat inteligensi itu lebih baik diminta seorang ahli psikolog.  Karena ia mempunyai metode yang tepat dan teliti. Lagi pula ukuran-ukuran yang dipergunakannya relatif lebihbaku(karena sudah melalui penelitian-penelitian) sehingga hasil yang diperoleh juga dapat saling dibandingkan.
  • Berikanlah perhatian dan rangsangan mental anak sedini mungkin, karena hal ini akan mengembangkan bakat  anak secara optimal. Pendidikan balita anak penting sekali artinya. Menyerahkan anak kepada perawat atau pembantu saja adalah tindakan yang kurang bijaksana.
  • Pengekangan yang berlebihan terhadap kebebasan anak juga kurang bijaksana. Walaupun kontrol dan disiplin dari orang tua dan guru terus ada, tetapi hendaknya anak diberi kesempatan untuk bergaul, berteman dan berkreativitas seluas-luasnya sesuai dengan minat masing-masing.

 

 

B. Bakat

Untuk memahami terminologi aptitude yang digunakan dalam penamaan tes ini, Bennett menggunakan definisi yang terdapat dalam Warren’s Dictionary of Psychology (1934) sebagai berikut.                                                                                                    

Aptitude, a condition or set of characteristics regarded as symptomatic of an individual’s abillity to acquire with training some (usually specified) knowledge, skill, or set of responses, such as the ability to speak a language, to produce music …”.

(Bennett et al., 1982: 5).

Untuk mengidentifikasi bakat seseorang dikembangkan seperangkat tes yang dikenal dengan Tes Bakat Diferensial. Sub tes bakat diferensial dikembangkan berdasarkan suatu teori abilitas pengukuran  bakat,  dan  terutama  dikembangkan dengan lebih mengutamakan kegunaannya.  Kegunaan yang dimaksud adalah lebih sebagai alat bantu pada pekerjaan bimbingan dan konseling sekolah daripada untuk meneliti dan melukiskan struktur dan organisasi abilitas manusia (Raka Joni dan Djumadi, 1976). Dengan kata lain, pemerian bakat-bakat yang dimaksud tidak bertolak dari konsep faktor-faktor murni, melainkan lebih menitikberatkan pada kemungkinan penggunaan daya ramal  hasil tes bagi perkembangan dan karir hidup individu (Raka Joni dan Djumadi, 1976; Nunnally, 1970, 1972).

 

Pendapat yang serupa dikemukakan oleh Aiken sebagai berikut.

Although the correlations among the tests are fairly law, the Differential Aptitude Tests are not measures of ‘pure factors’: each test assesses a complex of mental abilities by experience.”.

(Aiken, 1985: 251)

 

Jadi bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, Misalnya, kemampuan berbahasa, bermain musik, dan lain-lain.  Seseorang berbakat main musik misalnya, dengan latihan yang sama dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai ketrampilan tersebut. Dengan demikian keahlian bakat harus ditunjang oleh faktor lingkungan ini, faktor keturunan dikembangkan melalui olahan lingkungan misalnya, melalui latihan contoh: seseorang anak yang tidak berbakat musik, walaupun mendapat latihan dari seorang guru musik secara sangat intensif, tidak akan menjadi ahli musik yang tenar. Demikian pula dengan anak berbakat keteknikan, bila tidak mendapat didikan dan latihan yang sesuai, tidak akan berkembang menjadi seorang ahli teknik.

Faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan pada pengembangan bakat adalah kematangan dan perolehannya latihan pada saat yang tepat. Lingkungan yang mempengaruhi pengembangan bakat dapat berupa:

  • Lingkungan sosial, di mana proses pengembangan bakat dilakukan melalui proses sosialisasi, misalkan cara pengasuhan anak yang diterapkan dalam lingkungnan sosial budaya tertentu. Kemiskinan rangsangan mental di dalam pengasuhan anak dapat menghambat berkembangnya bakat.
  • Lingkungan pendidikan, di mana proses pengembangan bakat dilakukan melalui proses pendidikan formal yang diajarkan di sekolah. Latihan yang cukup dan tersedianya alat-alat penunjang  pendidikan akan dapat membantu perkembangan bakat secara optimal.`
  1. 1.      Timbulnya Kebutuhan Untuk Mengerti Bakat

Dalam kenyataan banyak terjadi bahwa dua orang anak yang mempunyai inteligensi yang sama dapat memperlihatkan penampilan yang berbeda. Umpamanya, A dan B kedua-duanya mempunyai IQ = 100 tetapi A mahir dalam berhitung sedangkan B bodoh dalam berhitung. A dengan mudah dapat menyelesaikan tugas-tugas teknik, sedangkan B gagal. Tentunya ada struktur tertentu pada A yang berbeda dengan B.  Maka para ahli berpendapat, bahwa di samping alat ukur inteligensi, diperlukan satu lagi alat pengukur yang dapat menggambarkan perbedaan-perbedaan khusus pada struktur tersebut di atas.

            Seperti diketahui inteligensi menggambarkan kemampuan umum seseorang untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah-masalah di lingkungan sehingga ia dapat hidup atau menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan tersebut. Oleh karena itu lingkungan kebudayaan tertentu meminta penyesuaian tertentu, maka hal-hal yang diajarkan pada kebudayaan itu secara turun-menurun (melalui sekolah adat, pengasuh anak, dan lain-lain) adalah kemampuan yang diperlukan di kebudayaan tadi. Kemampuan yang diperlukan inilah yang ditonjolkan. Pada umumnya kemampuan itu adalah kemampuan minimal yang harus di punyai orang untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Faktor-faktor umum itulah yang terukur dalam tes inteligensi umum.

            Untuk mengetahui bagaimana kemampuan seseorang di dalam situasi-situasi yang khusus, untuk membutuhkan cara pemikiran yang khusus, bekerjanya fungsi kognitif tertentu, atau pendekatan kepribadian tertentu, diperlukan alat pengkur yang lain yang dapat menggambarkan faktor khusus tadi. Alat pengkur kemampuan yang dapat menggambarkan faktor-faktor khusus adalah test bakat. Sehubungan dengan cara berfungsinya, ada dua jenis bakat:

  • Bakat mengenai kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan khusus, seperti bakat musik.
  • Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur.

Bakat bukanlah merupakan trait atau sifat yang tunggal, melainkan merupakan kelompok sifat-sifat yang secara bertingkat membentuk bakat. Misalnya, dalam bakat musik harus ada sifat-sifat dasar dalam kemampuan persepsi musik, yaitu kepekaan nada, keserasian suara (tidak sumbang) volume suara dan ritme atau irama. Kelompok-kelompok sifat-sifat tertentu dapat membentuk kemampuan beringkat, misalnya membentuk potensi akan kemampuan yang menonjol, perasaan akan musik, aspirasi akan musik dan semacam ekspresi musik, yaitu memainkan salah satu alat musik.

            Sifat-sifat tertentu tadi ada yang saling tergantung dalam membentuk kemampuan tertentu, sehingga tanpa sifat lainnya bakat tertentu misalnya tidak muncul.Adapula sifat yang lepas, misalnya kemampuan bersuara yang bagus perlu bagi mencipta musik.

 

  1. 2.      Faktor-faktor Lain yang Mempengaruhi Tampilannya Bakat

Telah diketahui bahwa bakat baru muncul atau tampil bila ia memperoleh kesempatan untuk dikembangkan. Dapat terjadi bakat seseorang tidak akan berkembang, tetapi merupakan kemampuan yang tersembunyi (laten), kalau ia tidak pernah sadar atau tahu  bahwa ia memang mempunyai kemampuan yang menonjol di bidang tertentu. Salah satu fungsi test bakat ialah dapat menilai ada tidaknya bakat seseorang dalam bidang tertentu. Bakat juga akan berkembang dengan baik bila tidak disertai dengan minat. Contoh: bakat musik tidak akan berkembang, bila tidak ada minat terhadap musik, contoh lain: tanpa minat terhadap hitung-menghitung, seseorang tidak akan berkembang menjadi seorang ahli matematika.

            Bakat tersebut juga akan tetap kurang berkembang atau tidak menonjol, bila tidak cukup disertai motivasi. Motivasi berhubungan dengan kuatnya daya juang untuk mencapai suatu sasaran tertentu. Jika kurang ada motivasi untuk menjadi seorang ahli musik, maka rintangan yang kecil saja di dalam belajar musik sudah cukup dapat menghilangkan semangat berlatih sehingga bakat musik kurang berkembang.

            Faktor lain yang mempengaruhi tampilannya bakat adalah nilai (value), yaitu bagaimana cara seseorang memberi arti terhadap pekerjaan yang menjadi bakatnya. Seseorang yang memberi arti negatif pada pekerjaan yang menjadi bakatnya, misalnya berpendapat bahwa ahli musik selalu kurang dihargai, bakat musik juga akan terhambat berkembang.

            Demikian pula halnya dengan kepribadian. Telah dibuktikan dari penelitian-penelitian bahwa anak-anak yang mempunyai bakat yang sesuai biasanya perkembangan kepribadian secara psikologis dinilai lebih positif dibanding dengan anak-anak yang tidak sesuai bakatnya. Keadaan ini disebabkan oleh sukses-sukses yang diperoleh selama perkembangannya, serta penggunaan bakat-bakatnya berpe-ngaruh terhadap penyesuaian  emosionalnya, hubungan antar manusianya, dan konsep dirinya. Khusus mengenai pembentukan konsep diri positif, dikatan sangat nyata adanya pengaruh yang timbal balik antara bakat dan kepribadian seseorang. Mekanisme yang terjadi adalah sebagai berikut.

            Sukses prestasi seseorang anak dalam sekolahnya, sukses dalam situasi-situasi lain yang akan membantu pembentukan konsep dirinya, pembentukan kepercayaan diri dan sebagainya mempengaruhi prestasinya dalam tingkat-tingkat perkembangan selanjutnya. Sebaliknya seorang anak yang selalu dihadapkan kepada kegagalan-kegagalan akibat bakat yang tidak sesuai (pada hal intelegensinya cukup baik), akan mengalami berbagai akibat negatif. Misalnya, ia akan menganggap bahwa dirinya mampu, yang mengakibatkannya kurang mempunyai kepercayaan diri, sedangkan faktor ini sangat penting bagi titik tolak perkembangan ketingkat perkembangan selanjutnya.

             Oleh karena  pengaruh faktor-faktor di atas terhadap bakat sangat kuat, maka sukar untuk menyusun alat test yang benar-benar mengandung bakat.  Banyak diusahakan membuat test yang murni, tetapi setelah diteliti ternyata bahwa bakat selalu tercampur dengan faktor-faktor, seperti motivasi. Faktor-faktor ini dianggap sebagai  faktor penentu yang penting bagai perkembangan bakat.

            Prestasi yang ditampilkan seseorang merupakan resultante antara bakat dan minat seseorang. Antara bakat dan minat ada korelasi, tetapi tidak selamanya sejalan. Oleh karena itu, pengukuran keduanya dapat meramalkan keberhasilan prestasi secara tepat dari pada bila pengukuran hanya mencakup satu faktor saja, yaitu bakat atau minat saja. Minat perlu diketahui oleh karena:

  • Sering seseorang tidak mengetahui detil satu pekerjaan, sehingga ia tidak mengetahui apakah ia benar-benar tertarik oleh pekerjaan itu. Dengan mengetahui minat, identitas, rekreasi, mata pelajaran yang disenangi serta bakat, kemungkinan keberhasilan seseorang  dalam suatu pekerjaan dapat diramalkan secara tepat.
  • Sering seseorang tidak mengetahui suatu profesi itu salah sehingga seseorang kurang siap akan sikap-sikap tertentu yang diminta oleh pekerjaan itu. Misalnya, pekerjaan dokter digambarkan enak seperti film-film. Sering pilihan di atas suatu pekerjaan mewakili kebutuhan emosi dasar seseorang. Oleh karena itu, kesesuaian antara bakat dan minat ini penting bagi kepuasaan  hidup.

Hasi-hasil penelitian di bawah ini menggambarkan bahwa setiap bidang pekerjaan bila dianalisa mempunyai kehususan bakat tertentu. Misalnya, orang-orang yang berprestasi rendah pada umumnya mempunyai kekurangan tertentu, yaitu kurang mempunyai kemampuan untuk berfikir secara fleksibel dan kurang taktis.

Untuk keberhasilan dalam kemampuan sekolah, diperlukan bakat berfikir dalam konsep bahasa, disertai faktor tertentu, yakni adanya pemuasan kebutuhan psikologis.

 

  1. 3.      Test Bakat Dan Gunanya

Test bakat bertujuan membantu merencanakan dan membuat  keputusan mengenai pilihan pendidikan dan pekerjaan. Dari test bakat diperoleh gambaran mengenai seseorang di dalam berbagai bidang kemampuan. Hasil test seyogyanya dipergunakan sebagai informasi yang berguna, bukan sebagai pembuat keputusan, karena bagaimanapun keputusan merupakan tugas individu sendiri.

            Test bakat tidak dapat menantikan dengan mutlak pekerjaan atau karier apa yang harus dijalani, dan juga tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang sangat khusus, misalnya ”Dapatkah saya menjadi seorang dokter ?”

Dengan disertai data lainnya test bakat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti misalnya:

  • Apakah dapat diterima dan beralasan bagi saya untuk memilih bidang kesehatan sebagai karier saya?
  • Manakah pekerjaan yang lebih baik bagi saya antara bidang mekanik dan bidang kedokteran ?
  • Apakah kekurangan serta kelebihan pada saya yang harus dipertimbangkan bila saya hendak menjadi sekretaris ?
  • Bagaimanakah kemungkinan keberhasilan saya bila saya melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas?
  • Melihat kemampuan-kemampuan yang ada pada saya, jurusan manakah saya lebih sukai: pasti alam, sosial ataukah bahasa ?

A. Musterberg adalah salah seorang ahli yang memprakarsai pembuatan tes bakat pertama kali. Mula-mula tes bakat digunakan pada masa perang dunia I untuk menyeleksi pilot, pengemudi kemudian meluas ke bidang industri. Selama tahun 20 sampai tahun 30-an, tes yang digunakan terutama adalah tes inteligensi umum, karena tes inteligensi pada waktu itu dianggap sebagai satu-satunya tes yang mutlak dapat menentukan kemampuan seseorang.

Tes inteligensi umum ini, meskipun mengandung berbagai aspek penting yang menunjang berfungsinya inteligensi seseorang, seperti misalnya, kemampuan bahasa, penalaran, dan lain-lain, semuanya menunjang satu angka sebagai keseluruhan unit inteligensi yang biasanya dinyatakan sebagai IQ. Tetapi masing-masing aspek tidak dimaksudkan untuk disimpulkan sendiri-sendiri.

Lama-kelamaan tes inteligensi yang hanya dapat memberikan gambaran kemampuan umum seseorang dan tidak dapat menggambarkan profil kemampuan seseorang pad aspek tertentu dirasakan kurang. Diperlukan adanya tes lain yang dapat mengukur aspek-aspek yang bermacam-macam secara khusus, oleh karena pada kenyataannya ada berbagai profil kemampuan antar individu yang satu dengan individu yang lainnya. Misalnya, seseorang menonjol di bidang bahasa, orang lain  di idang teknik, dengan kelemahan-kelemahan yang berbeda pula. Maka dirasakan perlunya penciptaan tes bakat yang dapat mengukur kemampuan di dalam berbagai aspek sebagai perlengkapan tes inteligensi.

            Di bandingkan dengan tes achievement yang mengukur prestasi seseorang berdasarkan apa yang telah dipelajarinya, maka tes bakat mengukur berapa besar kemungkinan keberhasilan seseorang di dalam suatu pekerjaan, pendidikan atau kursus pelatihan tertentu. Dengan demikian tes bakat bertujuan untuk meramalkan apa yang dapat dilakukan seseorang pada waktu yang akan datang.

            Dasar dari tes bakat adalah membandingkan profil nilai seseorang dengan profil nilai orang lain yang dianggap berkemampuan tinggi mengenai bidang tertentu. Dengan demikian terukur kadar bakatnya, dengan cara menyimpulkan kekuatan atau kelemahannya dalam segi itu.  Ketepatan penggunaan dasar pemikiran ini sangat tergantung dari analisa psikologis yang teliti dan tepat mengenai bidang tertentu itu. Misalnya, bila dapat dianalisa dengan tepat sifat-sifat apa yang ada pada seniman, maka dapat dibuat tes yang dapat meramalkan bakat seniman.

Macam-macam tes bakat adalah sebagai berikut:

  • Multiple Aptitude Batteries, yaitu tes bakat yang mengukur bermacam-macam kemampuan, seperti: pengertian bahasa, kemampuan angka-angka, penglihatan keruangan, penalaran dalam berhitung, kecepatan persepsi. Dalam tes ini dapat dilihat kemampuan, kelemahan dan kekurangan seseorang yang masing-masing dinyatakan dalam angka tersendiri. Hasilnya adalah profil angka-angka, berbeda dengan tes inteligensi umum, di mana semua aspek-aspek inteligensi keluar satu angka, antara lain yang dinyatakan sebagai IQ.
  • Special Aptitude Test atau Single Aptitude Test atau tes bakat khusus, yakni tes yang hanya mengukur bakat tertentu. Misalnya, tes bakat makanikal, tes bakat klerk, tes bakat musik, tet bakat seni, dan lain-lain.

Di samping multiple Aptitude test, tes bakat khusus juga diperlukan oleh karena adanya bakat tertentu yang tidak tercapai dalam multple aptitude test, yaitu kemampuan yang memerlukan situasi yang sangat khusus.

 

  1. 4.      Kapan Dilakukan test Bakat Yang tepat ?

Saat yang tepat saat di mana siswa, orang tua dan pihak sekolah bersama-sama membuat keputusan mengenai pendidikan anak, terutama waktu penentuan siswa untuk kenaikan ke tingkat yang lebih lanjut, atau penentuan bidang-bidang tertentu, dimana penentuan tidak hanya berdasarkan usia atau penampilan atau lamanya belajar.

            Saat yang tepat untuk itu antara lain:

  • Waktu akan masuk kelas I sekolah dasar, untuk mentes apakah ada kesiapan dalam pengajaran angka-angka, menulis dan sebagainya.
  • Untuk pendidikan pasca sarjana atau spesialis
  • Untuk pendidikan khusus, seperti ke sekolah musik.

Tes bakat dapat pula digunakan untuk mendiagnosa masalah belajar pada siswa, oleh karena itu ada suatu kelemahan dalam salah satu aspek struktur inteligensinya.

 

  1. 5.      Bagaimana Mengembangkan Bakat

Latihan dan proses belajar sangat menentukan bagi pengembangan bakat, mengingat sifat khusus anak berbeda dari orang dewasa. Umpamanya:

  • Anak berada dalam keadaan selalu tumbuh dan berubah, bentuk perubahan sebagaian besar dipengaruhi oleh lingkungan.
  • Ciri khas seorang anak adalah mempunyai dorongan yang besar untuk belajar oleh karena itu, tugas utama orang tua pada saat ini adalah menunjang proses itu dan menyediakan kesempatan agar proses belajar terjadi dengan memberikan kelonggaran untuk belajar sendiri tanpa terlalu memaksa
  • Adatahap-tahap khusus dalam perkembangan anak dimana anak paling mudah menerima macam cara belajar tertentu. Pada tahap khusus ini bakat psikis tertentu paling dimungkinkan berkembang, sedangkan pada tahap berikutnya akan hilang, misalnya bakat musik. Oleh karena itu sering kita lihat adanya masa-masa tertentu di mana anak-anak sangat tertarik pada suatu hal khusus.

Oleh karena itu adanya ciri-ciri khas pada anak yang sedang tumbuh hendaknya para orang tua menggunakan kesempatan tertentu di atas di dalam mengembangkan bakat anak. Dalam hubungan ini yang dapat dilakukan adalah :

  • Memperkaya anak dengan bermacam-macam pengalaman dan memperdalam pengalamannya. Oleh karena makin banyak dan bervariasi hal-hal baru yang dilihat dan didengar anak, makin tertarik pula anak untuk mengalami bermacam-macam hal. Makin besar variasi rangsang lingkungan yang dapat dipecahkan atau ditanggulangi makin besar kemampuannya untuk menanggulangi  berbagai masalah. Hal ini sangat membantu motivasi belajar anak.
  • Dorong atau rangsanglah anak untuk meluaskan kemampuan dari satu bakat ke bakat lainnya. Misalnya, setelah ia mengarang cerita,  anjurkan untuk membuat ilustrasi (menggambar). Hal ini memberikan kesempatan pada anak untuk menjajagi berbagai bakatnya.
  • Bersama-sama melakukan suatu kegiatan yang memungkinkan berkembangnya bakat atau minat anak, sebab tanpa pernah menjajagi bermacam-macam bidang bakat tertentu tidak akan tampil. Proses belajar akan timbul dan mungkin terjadi dalam suasana lingkungan di mana niat ada dan anak tidak merasa dipaksa.
  • Berilah penghargaan dan pujian untuk usaha anak, walau sekecil apapun, karena hal ini merupakan langkah awal menuju berkembangnnya bakat secara maksimal nanti.
  • Sediakanlah sarana yang cukup bagi pengutaraan  bakat tersebut, sebab tanpa adanya sarana atau medium sebagai alat realisasi, bakat tidak akan berkembang dan tidak akan tampil. Misalnya, seorang anak yang berbakat main biola, tidak akan berkembang bakatnya bila tidak ada sarananya, yaitu biola. Bakat melukis tidak akan berkembang bila ibu merasa sayang menggunakan uangnya untuk membeli kertasnya atau bila ia tidak menyediakan alat-alat untuk mencoret bagi si anak itu.
  • Pilihkan mula-mula bidang yang umum lalu setingkat demi setingkat mengkhususkannya. Hal ini mengingat bahwa kelompok-kelompok sifat yang umum tidak terlalu memerlukan kemampuan yang sangat khusus dibandingkan dengan kelompok bidang yang khusus, sehingga anak belajar secara bertahap dan hambatan yang dialami tidak akan mengejutkan. Ini penting untuk mempertahankan minat dan motivasi serta kepercayaan diri anak.

Akhirnya, pengembangan bakat merupakan interaksi antara sifat yang diturunkan dalam proses belajar yang terjadi disepanjang hidupnya maka sangatlah penting hubungan akrab ibu sebagai orang tua dengan anak. Suasana emosional yang baik merupakan prasyarat yang tidak dapat diperkecil artinya.

            Peranan ibu dalam mengembangkan bakat lebih penting dari siapapun juga, oleh karena ibu yang dapat mempunyai kesan yang lebih benar tentang anaknya. Ibu dapat mengenal anak secara indvidual sedangkan guru secara klasikal. Ibu lebih mengenal minat anak, ibu juga lebih tahu hal-hal yang menjadi motivasinya, dan saat-saat anak menyukai sesuatu lebih dari lainnya. Ibu mengetahui seberapa besar daya juang anak terhadap rintangan-rintangan sehingga dengan demikian hanya ibulah yang dapat mengatur suasana yang sangat khsus dan unik bagi anaknya agar dapat dipertahankan proses belajar yang bergairah. Karenanya tugas ibu dalam mengembangkannya bakat anaknya tidak dapat diwakilkan kepada siapapun.

 

RANGKUMAN

Di dalam psikologi dikenal istilah yang juga mulai populer di kalangan masyarakat luas, yaitu inteligensi. Inteligensi ini sekaligus dapat menggantikan berbagai macam istilah  yang ada hubungannya dengan kecerdasan. Karena itu selanjutnya akan dibahas mengenai istilah inteligensi (kecerdasan) saja dan tidak lagi menggunakan istilah-istilah yang digunakan oleh awam.

Psikologi pada hakekatnya adalah ilmu tentang tingkah laku. Karena itu yang dipelajari dalam psikologi adalah tingkah laku manusia maupun hewan, tetapi khususnya tingkah laku manusia. Berbicara mengenai inteligensi, tingkah laku dapat dibagai dalam tingkah laku yang hanya sedikit membutuhkan inteligensi dan tingkah laku yag membutuhkan inteligensi.

Tersirat dalam tes itu bahwa inteligensi sebagai suatu kemam-puan mental tunggal yang sifatnya umum dan melandasi berbagai fungsi yang berbeda-beda. Inteligensi dianggap sebagai suatu kemampuan global.

Faktor “g”. Tidak lama setelah skala inteligensi Binet dikembangkan, pakar-pakar lain, seperti Charles Sperman dan Louis Thurstone, mulai mempertanyakan pemikiran Binet mengenai inteligensi umum. Sperman (1932), penemu analisis faktor, mengusulkan bahwa paling tidak ada dua faktor di dalam inteligensi, yakni faktor umum “g” yang merupakan faktor penentu utama dalam perilaku inteligen, dan banyak faktor-faktor spesifik lainnya yang disebut “s”.

            Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, Misalnya, kemampuan berbahasa, bermain musik, dan lain-lain. Seseorang berbakat main musik misalnya, dengan latihan yang sama dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai ketrampilan tersebut. Dengan demikian keahlian bakat harus ditunjang oleh faktor lingkungan ini, faktor keturunan dan dikembangkan melalui olahan lingkungan misalnya, melalui latihan.

 

PENDALAMAN

Selesaikan tugas secara kelompok dan laporkan hasilnya!

  1. Atas dasar sejumlah pengertian yang dikembangkan dari teori-teori inteligensi, bagaimana Anda menyimpulkan hakekat inteligensi?
  2. Bagaimanakah keterkaitan inteligensi dengan prestasi belajar? Gunakan pemahaman mengenai inteligensi majemuk.
  3. Apakah bakat terkait dengan inteligensi manusia? Jelaskan!
  4. Berikan gambaran tindakan pendidik yang tepat terkait dengan pemahamannya mengenai inteligensi dan bakat.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Adisubroto, D. (1976). Laporan penelitian reliabilita dan validita tes bastract reasoning sebagai tes inteligensi anak remaja di Indonesia.Yogyakarta: Fakultas PsikologiYogyakarta.

Aiken, L. R.(1985). Psychological testing and assessment.Boston: Allyn and Bacon Inc.

Anastasi, A. (1964). Fields of applied psychology.London: McGraw-Hill.

Anastasi, A. (1964). Psychological testing.New York: Mcmillan Publishing Company.

Anastasi, A. (1988). Psychological testing.New York: Mcmillan Publishing Company.

Armstrong, T. (1993) 7 kinds of smart: identifying and developing your own intelligences.New York: Plume Books (Penguin).

Armstrong, T. (1994) Multiple intelligences in the classroom. Alexandria, VA: ASCD.

Bennett, G. K. et al. (1952). Differential aptitude tests: Manual. New York: The Psychological Corp.

Bennett, G. K. et al. (1982). Differential aptitude tests: Administrator’s Hanbook. New York: The Psychological Corp.

Budaya (1980). Studi hubungan antara tingkat kemampuan dasar pemahaman, penalaran, hitungan dengan prestasi belajar siswa-siswa kelas II SMA Kumala Dewi Wig Factory Yogyakarta (Skripsi).Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Buntaran (1972). Penyelidikan tentang hubungan antara beberapa subtes bakat dengan prestasi kerja bagian rajut dan bagian finishing di PT Kumala Dewi Wig Factory Yogyakarta (Skripsi).Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Campbell, L;  Campbell, B; & Campbell, D. (1996). Teaching and Learning Through Multiple Intelligences.Needham Heights,Massachusetts: Allyn & Bacon

Cronbach, L. J. (1984). Essentials of psychological testing.New York: Harper & Row Publishers.

Djoemadi, D. et al. (1976). Pengembangan seperangkat tes bakat berganda.Malang: Proyek Peningkatan/Pengembangan Pendidikan Tinggi IKIPMALANG.

Djoemadi, D. et al. (1977). Tes Bakat Berganda: Pedoman Pengadministasian.Malang: Kerjasama Bank Evaluasi IKIP MALANG dan BP3K Departemen P & K.

Gardner, H. (1983) Frames of mind: the theory of multiple intelligences.New York: Basic Books.

Gardner, H. (1991). The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach.New York: Basic Books

Gardner, H. (1993) Multiple intelligences: the theory in practice – a reader.New York: Basic Books.

Gardner, H. (1993a). Frames of mind: The theory of multiple intelligence.New York: Basic Books.

Gardner, H. (1993b). Multiple intelligence: The theory in practice. New York: Basic Books. http://www.ode.state.or.us

Gardner, H. (1999). Intelligence reframed: Multiple intelligences for the 21th century. New York: Basic Books.

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence.New York: Bantam.

Goleman, D. (1999). Working with emotional intelligence.London: Boombury Publishing Plc.

Guilford, J. P. (1967). The nature of human intelligence.New York: McGraw-Hill.

McGrath, H. & Noble, T. (1995). Seven ways at once: Classroom strategies based on then seven intelligences. Australia: Longman.

Munandir et al. (1990/1991). Validasi dan penormaan tes kemampuan mental umum (“inteligensi”) dan tes bakat diferensial.Malang: Pusat Penelitian IKIPMALANG.

Nunnally, J. C. (1970). Education meassurement and evaluation.New York: McGraw-Hill Book Company.

Nunnally, J. C. (1970). Introduction to psychological measurement.New York: McGraw-Hill Book Company.

Pali, Marthen (1993). Tes matriks progresif dan tes bakat diferensial: studi validitas prediktif dengan kreteria prestasi belajar siswa SMA dan validitas sintetik pada tiga jenis pekerjaan (Disertasi).Jakarta: Program Pascasarjana UniversitasIndonesia.

Raka Joni, T. & Djoemadi, D. (1979). Penelitian pengembangan tes bakat okupasional.Malang: Proyek Penelitian dan Bank Evaluasi IKIP MALANG.

Sugiyanto et al. (Ed) (1984). Informasi tes. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Sugiyanto et al. (Ed) (1984). Norma tes. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s