INDIVIDU DAN ASPEK PERKEMBANGAN

BAB I

INDIVIDU DAN ASPEK PERKEMBANGAN

 

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari individu dan aspek perkembangan remaja, mahasiswa mampu:

1. menjelaskan pengertian individu dan karakteristik remaja;

2. menjelaskan jenis perbedaan individu;

3. menjelaskan aspek-aspek perkembangan remaja.

 

PEMBAHASAN

A. Individu dan Karakteristiknya

    1. Pengertian Individu

Manusia dikenal sebagai makhluk yang berfikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, dan makhluk yang dapat dididik atau homo educandum. Pandangan tentang manusia tersebut bisa digunakan untuk menentukan cara atau pendekatan pendidikan yang akan dilakukan terhadap manusia. Berbagai pandangan telah membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks.  Indonesia telah menganut pandangan bahwa manusia secara utuh artinya manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan menunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi individu dan sosial, jasmani dan rohani, serta  dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya, dan manusia dengan Tuhannya.

Di dalam kedudukannya, manusia sebagai peserta didik haruslah menempatkan ia sebagai pribadi utuh. Gayut dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakiki manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan. Sifat dan ciri tersebut senantiasa ada pada diri manusia, sehingga setiap manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh. Individu artinya tidak bisa dibagi, tidak dapat dipisahkan, keberadaannya sebagai makhluk yang pilah, tunggal, dan khas. Individu yang berarti orang, perseorangan yang diinginkan (Echlos, 1975: Sunarto, dkk., 1994).

Makna di atas memberi isyarat bahwa anak dengan dukungan lingkungannya dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya selanjutnya membawa perubahan-perubahan yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Dapat dikata, anak dibantu oleh guru, orangtua, dan orang dewasa lain untuk memfasilisasi kemampuan dan potensi yang dibawanya dalam memperoleh pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.

Tidak seorangpun anak lahir dengan perlengkapan yang sudah sempurna. Hampir semua pola-pola pertumbuhan dan perkembangan seperti berjalan, berbicara, merasakan, berfikir, atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Sejak konsepsi sampai lahir manusia merupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus menerus mengalami tumbuhkembang. Makna pertumbuhan dibedakan dengan makna perkembangan.  Pertumbuhan adalah perubahan bertambahnya ukuran tubuh anak yang dapat diukur yaitu: tinggi badan, berat badan, proporsi tubuh. Selanjutnya lingkaran kepala untuk mengukur bertambah besarnya otak dan tengkorak. Demikian lingkaran lengan kiri atas untuk mengukur bertambahnya besar otot, lemak, dan gizi.  Perkembangan adalah bertambah matangnya fungsi organ tubuh sehingga dapat berfungsi misalnya berkomunikasi secara harmonis dan tanggungjawab pribadi serta mandiri dengan lingkungannya. Hal tersebut mempunyai arti bahwa pertumbuhan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan perkembangan menjelaskan adanya perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis dan sosial (psikososial).

Di dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupan seorang bayi lebih mementingkan kebutuhan jasmaninya sebab ia belum mampu memfungsikan apa yang ada di luar dirinya. Ia merasa gembira bilamana kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi seperti makan, minum, dan kehangatan tubuhnya. Pada masa perkembangan selanjutnya ia mulai mengenal lingkungan yang lebih luas. Makin hari kebutuhannya makin bertambah dan suatu saat ia membutuhkan fungsi alat komunikasi (bahasa) semakin penting. Ia membutuhkan teman, keamanan, dan seterusnya. Makin besar anak maka kebutuhan nonfisiknya makin banyak. Setiap manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian telah terjadi perkembangan dalam kebutuhan baik fisik maupun nonfisik. Bilamana dicermati maka kebutuhan tersebut dapat dibedakan menjadi dua kelompok yakni kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Dengan kata lain, pertumbuhan fisik senantiasa diikuti perkembangan psikis.  Dengan demikian pertumbhsn fisik dan perkembangan psikis yang seirama akan memfasilitasi terjadinnya penyesuaian diri dengan baik.

 

2. Karakteristik Individu

Setiap individu memiliki karakteristik bawaan (heredity) dan lingkungan (environment). Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dibawa sejak lahir baik yang berkaitan dengan faktor biologis maupun sosial psikologis. Kepribadian –prilaku– apa yang diperbuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh seseorang (individu) merupakan hasil dari perpaduan antara faktor biologis sebagaimana unsur bawaan dan pengaruh lingkungan.

Dikenali bahwa anak mulai masuk sekolah tidak selalu sama umurnya. Mereka selalu menunjukkan berbeda karakteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya ke sekolah, pada akhirnya terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan hal lain yang mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannya di sekolah, selanjutnya bagi masa depan kehidupannya.

Sejak pembuahan (konsepsi), kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan yang merangsang terjadinya pertumbuhan dan perkembangan. Setiap rangsangan tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya perilaku manusia yang dibawa sejak lahir.  Hal tersebut  pada gilirannya membentuk suatu pola karakteristik perilaku yang dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik beda dengan individu-individu lain.

B. Perbedaan Individu

             Pembahasan tentang aspek-aspek perkembangan individu telah dikenali ada dua hal yang menonjol, yaitu: (1) pada umumnya manusia mempunyai unsur kesamaan dalam pola perkembangannya dan (2) dalam pola yang bersifat umum itu, manusia cenderung berbeda fisik dan nonfisik.

Individu menunjukkan kedudukan orang perorang atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan perbedaan individual dengan perseorangan. Ciri atau karakteristik orang yang satu berbeda dengan lainnya.  Dengan kata lain, makna perbedaan individu menyangkut variasi yang terjadi baik variasi aspek fisik maupun psikologis.  Perbedaan yang segera dikenali oleh guru terhadap siswanya adalah perbedaan fisiknya, seperti: warna kulit, tinggi badan, berat badan, bentuk muka, warna rambut, cara berdandannya, sedangkan perbedaan aspek psikologisnya adalah: perilakunya, kerajinannya, kepandaiannya, motivasinya, bakatnya, kegemarannya, dsb.

Garry pada 1963 (dalam Hartono, dkk., 1994) mengkategorikan perbedaan individu sebagai berikut:

a. Perbedaan fisik: usia, tinggi dan berat badan, jenis kelamin, pedengaran, penglihatan, kemampuan bertindak

b. Perbedaan sosial termasuk: sosial ekonomi, agama, hubungan keluarga, suku

c. Perbedaan kepribadian: watak, motif, sikap dan minat

d. Perbedaan kemampuan: inteligensi, bakat

e. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.

Setiap individu berbeda, bidang perbedaan yang tampak dalam perilaku manusia baik di rumah maupun di sekolah adalah:

  

a. Perbedaan kognitif

Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, menghasilkan  tiga pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai Taxonomy Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap individu memiliki persepsi tentang hasil pengamatan terhadap suatu objek.  Berarti ia menguasai sesuatu yang diketahui, artinya dalam dirinya terbentuk suatu persepsi dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk mejadi miliknya. Setiap saat bila diperlukan, pengetahuan yang dimilikinya dapat direproduksi. Banyak atau sedikit, tepat atau kurang tepat pengetahuan itu dapat dimiliki dan dapat diproduksi kembali merupakan tingkat kemampuan kognitif seseorang.

 

 

Gambar 1 : Taksonomi Bloom (Termodifikasi), dikutip dari naskah T. Raka Joni (2005)

Kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap orang. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara pembawaan dan pengaruh lingkungan. Faktor dasar yang berpengaruh menonjol pada kemampuan kognitif. Proses pembelajaran adalah  upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur, dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang telah dimiliki oleh anak. Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar.

Tes hasil belajar menghasilkan nilai kemampuan kognitif yang bervariasi. Hal ini menggambarkan adanya perbedaan kemampuan kognitif setiap individu. Demikian inteligensi sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kemampuan kognitif berkorelasi positif dengan tingkat kecerdasan seseorang.

        b.  Perbedaan Dalam Kecakapan Bahasa

Bahasa adalah salah satu kemampuan individu yang penting sekali dalam kehidupannya. Kemampuan berbahasa setiap individu berbeda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis. Kemampuan tersebuat sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan, termasuk faktor fisik yakni organ berbicara.

Guru-guru telah menyadari bahwa adanya perbedaan bagi siswanya dalam kemampuan untuk menguasai dan memahami bahasa lisan dan tulis serta kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri secara tepat.  Kelancaran atau sebaliknya hambatan berbahasa bagi anak tergantung pada kondisi lingkungan keluarga dan pembiasaannya dalam berkomunikasi serta lingkungan pada umumnya.  Dengan kata lain, pengalaman dan kematangan anak sebelumnya merupakan faktor pendorong perkembangan anak dalam berbagai kemampuan, termasuk kemampuan berbahasa.

        c. Perbedaan Dalam Kecakapan Motorik

Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat (otak) untuk melakukan kegiatan. Kegiatan itu terjadi karena kerja syaraf yang sistematis. Alat indera menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan. Dengan demikian ketepatan kerja jaringan syaraf akan menghasilkan suatu bentuk kegiatan yang tepat, dalam arti kesesuaian antara rangsangan dan responnya.  Kerja ini akan menggambarkan tingkat kecakapan motorik.

Syaraf pusat (otak) yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berfikir merupakan faktor penting dalam koordinasi kecakapan motorik. Ketidaktepatan dalam pembentukan persepsi dan penyampaian perintah, akan terjadi kekeliruan respon dan/atau kegiatan yang kurang sesuai dengan tujuan.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa inteligensi merupakan faktor dalam bentuk yang lebih tinggi dari keterampilan motorik.  Secara umum koordinasi motorik dan kecakapan untuk melakukan suatu kegiatan yang kompleks membutuhkan keterampilan motorik yang lebih kompleks pula.

Bertambahnya umur seseorang mengindikasikan adanya kematangan. Hal ini akan menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam banyak hal, seperti kekuatan untuk mempertahankan perhatian, koordinasi otot, kecepatan berpenampilan, keajegan untuk mengontrol, dan resisten terhadap kelelahan. Dengan kata lain makin bertambahnya umur seseorang akan makin matang dan selanjutnya menunjukkan tingkat kecakapan motorik yang makin tinggi.

Dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan fisik dan tingkat kemampuan berfikir. Karena kematangan fisik dan kemampuan berfikir setiap individu berbeda akan membawa akibat terhadap  kecakapan motorik masing-masing, pada gilirannya kecakapan motorik setiap individu akan berbeda pula.

 

d. Perbedaan Dalam Latar Belakang

             Perbedaan latar belakang dan pengalaman individu dapat memperlancar atau sebaliknya menghambat prestasi belajar mereka, sebab perbedaan tersebut dapat mempengaruhi kemauan dan situasi belajar. Latar belakang individu dibedakan menjadi dua yaitu faktor dari dalam dan faktor di luar dirinya. Faktor dari dalam misalnya kecerdasan, kemauan, bakat, minat, emosi, perhatian, kebiasaan bekerja sama, dan kesehatan yang mendukung atau menghambat belajar. Adapun faktor dari luar diri individu antara lain: pola sikap orangtua, sosial ekonomi keluarga, tingkat kesukaran bahan ajar, metode pembelajaran, kurikulum, dan situasi dan kondisi belajar.

        e. Perbedaan Dalam Bakat

Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir oleh individu. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik bila mendapat rangsangan atau kesempatan dan fasilitas secara tepat. Sebaliknya bakat tidak dapat berkembang sama sekali, manakala lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang. Gayut dengan inilah makna pendidikan menjadi penting keberadaanya.

Belajar pada jenjang bawah–sekolah dasar–berkaitan dengan penguasaan alat-alat belajar dan  pemenuhan tentang ajaran umum. Pada tahun-tahun pertama, hal tersebut belum tentu membuat anak berbakat menjadi menonjol dibandingkan pada tahun berikutnya. Pada jenjang SLTA dan perguruan tinggi patut diduga program pembelajaran amat berarti untuk merangsang dan memberi fasilitas bagi perkembangan bakat anak.

        f. Perbedaan Dalam Kesiapan Belajar

Dari latar belakang lingkungan (sosioekonomi dan sosiokultural) yang bervariasi akan mempengaruhi adanya variasi kesiapan belajar individu. Kesiapan belajar individu bergantung pada sejumlah faktor seperti kematangan fisik, kematangan mental, umur, kesehatan, dan pengalaman-pengalaman hasil persepsi dan perhatiannya terhadap lingkungan.

 

C. Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan

Setiap individu pada hakikatnya mengalami pertumbuhan fisik dan nonfisik. Aspek-aspek non fisik antara lain aspek intelek, bakat khusus, emosi, sosial, bahasa, dan nilai, moral, serta sikap.

 

        a. Pertumbuhan Fisik

Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga ia dewasa. Selama tahun pertama dalam pertumbuhan, ukuran panjang badan bertambah sekitar sepertiga dari panjang badan dan berat badanya akan bertambah menjadi sekitar tiga kalinya. Sejak lahir hingga umur 25 tahun perbandingan ukuran badan individu adalah bahwa pertumbuhan itu kurang proporsional tampak pada awal terbentuknya manusia sampai menjadi pertumbuhan proporsi yang ideal di masa dewasa. Pembahasan tentang pertumbuhan fisik secara rinci akan diuraikan pada bab berikutnya.

Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.  Semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan).  Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1991) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu (1) Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi; (2) Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik; (3) Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis; dan (4) Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat dan proporsi.

Aspek fisiologis yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah otak (brain).  Otak dapat dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan.  Otak ini lebih kurang terdiri atas 100 miliar sel syaraf (neuron), dan setiap sel syaraf tersebut, rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan dengan sel-sel syaraf yang lainnya). Sebagaimana telihat pada Gambar 1, sistem koneksi tersebut terbentuk dari yang sederhana menuju ke yang kompleks. Semakin mendapatkan kesempatan untuk digunakan, maka sistem jaringan hubungan antar sel otak akan semakin berkembang kompleks dan menandakan bahwa seseorang telah mengalami kemajuan fungsi otak. Sebaliknya, bila otak tidak banyak digunakan, maka sistem jaringan akan sederhana dan bahkan sel-sel otak tertentu akan mati.  Neuron ini terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel syaraf yang satu ke sel lainnya.  Secara struktur otak ini terdiri atas tiga bagian, yaitu: (a) Brainstem (termasuk di dalamnya celebellum) yang berfungsi mengontrol keseimbangan dan koordinasi; (b) Midbrain yang berfungsi sebagai stasion pengulang atau penyambung dan pengontrol pernafasan dan fungsi menelan; dan (c) Cerebrum sebagai pusat otak yang paling tinggi yang meliputi belahan otak kiri dan kanan (left and right hemispheres) dan sebagai pengikat syaraf-syaraf yang berhubungan dengannya (Vasta, Heith & Miller, 1992: 179 – 181).

Berkaitan dengan fungsi otak, dapat dibedakan berdasarkan kedua belahan otak tersebut, yaitu belahan kanan dan kiri.  Fungsi-fungsi kedua belahan otak itu tampak dalam tabel 1.1

Tabel 1.1

Fungsi Belahan Otak Kiri dan Kanan

(Anita E. Woolfolk, 1998; Conny Semiawan, 1995; Dedi Supriadi, 1994)

 

FUNGSI OTAK KIRI

FUNGSI OTAK KANAN

Berpikir rasional, ilmiah, logis, kritis, linier, analitis, referensial dan konvergen.

Berkaitan erat dengan kemampuan belajar membaca, berhitung (matematika) dan bahasa.

Berpikir holistik, non-linier, non-verbal, intuitif, imajinatif, kreatif, non-referensial, divergen dan bahkan mistik.

Otak mempunyai pengaruh yang sangat menentukan bagi perkembangan aspek-aspek perkembangan individu lainnya, baik keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral maupun kepribadian.  Pertumbuhan otak yang normal (sehat) berpengaruh positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya.  Sedangkan apabila pertumbuhannya tidak normal (karena pengaruh penyakit atau kurang gizi) cenderung akan menghambat perkembangan aspek-aspek tersebut.

Mengenai pentingnya gizi bagi pertumbuhan otak, dari beberapa hasil penelitian pada hewan membuktikan bahwa gizi yang buruk (malnutrisi) yang diderita induk hewan mengakibatkan sel otak janin lebih sedikit daripada janin yang induknya tidak mengalami malnutrisi.  Pada manusia, kekurangan gizi pada ibu hamil mengakibatkan berat badan bayi sangat rendah (berkaitan erat dengan angka kematian yang tinggi) dan perkembangan yang buruk (Ediasri T. Atmodiwirjo dalam Singgih D. Gunarsa, 1983).

Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan.  Elizabeth B. Hurlock (1991) mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu.  Seiring dengan perkembangan motorik ini, bagi anak usia pra sekolah (taman kanak-kanak) atau kelas-kelas rendah SD, tepat sekali diajarkan atau dilatihkan tentang hal-hal berikut:

a)      Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.

b)      Keterampilan berolahraga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olahraga.

c)      Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat, dan berlari.

d)     Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.

e)      Gerakan-gerakan ibadah sholat.

 

        b. Intelektual

Intelek atau pola pikir berkembang searah dengan pertumbuhan syaraf otak. Karena berfikir pada dasarnya menunjukkan fungsi otak, maka kemampuan intelektual dipengaruhi oleh kematangan syaraf otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik. Perkembangan intelek diawali dengan kemampuan mengenal dunia luar. Awalnya respon terhadap rangsangan dari luar merupakan aktivitas reflektif, seiring dengan bertambahnya usia aktivitas tersebut berkurang terhadap setiap rangsangan dari luar dan selanjutnya mulai terkoordinasikan. Perkembangan berikutnya ditunjukkan pada perilakunya, yaitu tindakan memilih dan menolak sesuatu. Tindakan ini merupakan proses analisis, evaluasi, membuat kesimpulan, dan diakhiri pembuatan keputusan.

Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual.  Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam.

Sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli mengenai inteligensi.  Guilfordberpendapat bahwa intelegensi itu dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu sebagai berikut:

1)      Operasi Mental (Proses Berpikir)

(a)    Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru)

(b)   Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

(c)    Memory recording (ingatan yang segera).

(d)   Divergent production (berpikir melebar = banyak kemungkinan jawaban)

(e)    Convergent production (berpikir memusat = hanya satu jawaban/alternatif).

(f)    Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu itu baik, akurat, atau memadai).

2)      Content (Isi yang dipikirkan)

(a)    Visual (bentuk konkret atau gambar).

(b)   Auditory (suara)

(c)    Word meaning (semantic).

(d)   Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata, angka dan not musik).

(e)    Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).

3)      Product (Hasil berpikir)

(a)    Unit (item tunggal informasi).

(b)   Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).

(c)    Relasi (keterkaitan informasi).

(d)   Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan).

(e)    Transformasi (perubahan, modifikasi atau redefinisi informasi).

(f)    Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).

Keterkaitan ketiga kategori tersebut di atas, selanjutnya dapat disimak dalam contoh berikut:

1)      Untuk dapat mengisi deretan angka 3, 6, 12, 24, … memerlukan “convergent operation” (hanya satu jawaban yang benar) dengan “symbolic content” (angka) untuk memperoleh suatu “relationship product” (angka rangkap berdasarkan pola hitungan sebelumnya.

2)      Untuk membuat lukisan abstrak tentang suatu fenomena kehidupan, memerlukan kemampuan “divergent thinking operation” (banyak kemungkinan jawaban) tentang “visual content” untuk menciptakan “transformasional product” (objek nyata yang ditransformasikan ke dalam pandangan pelukis).

Uraian tersebut menjelaskan tentang inteligensi dalam ukuran kemampuan intelektual atau tataran kognitif.  Pandangan lama menunjukkan bahwa kualitas inteligensi atau kecerdasan yang tinggi dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam belajar atau meraih kesuksesan dalam hidupnya.  Namun perkembangan terakhir, telah berkembang pandangan lain yang menyatakan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan (kesuksesan) individu di dalam hidupnya bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya tingkat kecerdasan intelektual, tetapi oleh faktor kemantapan emosional yang oleh ahlinya, yaitu Daniel Goleman disebut Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional).

Berdasarkan pengamatan Goleman, banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional.  Tidak sedikit orang yang suksek dalam hidupnya karena memiliki kecerdasan emosional meskipun inteligensinya hanya pada tingkat rata-rata.

Kecerdasan emosional itu semakin perlu dipahami, dimiliki, dan diperhatikan dalam pengembangannya karena mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks.  Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional individu.  Dalam hal ini, Daniel Goleman mengemukakan hasil survei terhadap para orang tua dan guru yang hasilnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya.  Mereka lebih kesepian dan pemurung, lebih beringasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.

Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati.  Secara jelasnya unsur-unsur kecerdasan emosional ini dapat disimak pada pembahasan bab berikut.

 

        c. Bakat Khusus

Sebagaimana diuraikan di depan, Sumadi S. (1984) merinci pengertian kemampuan khusus—bakat–seperti definisinyaGuilfordbahwa bakat itu mencakup tiga dimensi, yaitu dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual. Ketiga dimensi tersebut mengilustrasikan  bahwa bakat mencakup kemampuan dalam pengindraan, ketepatan dan kecepatan menangkap makna, kecepatan dan ketepatan bertindak, serta kemampuan berfikir inteligen. Atas dasar bakat yang dimilikinya se-orang individu akan mampu menunjukkan kelebihan dalam bertindak dan menguasai serta memecahkan masalah dibandingkan dengan orang lain. Bakat khusus merupakan salah satu kemampuan untuk bidang tertentu seperti bidang seni, olahraga, atau keterampilan.

        d. Emosi

Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh setiap manusia. Di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, banyak hal yang dibutuhkannya. Kebutuhan tersebut dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan itu dibedakan kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Selanjutnya, kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan yang pemenuhannya dapat di-tangguhkan. Kebutuhan primer yang tidak segera terpenuhi membuat seseorang menjadi kecewa, sebaliknya bila kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan baik, maka ia akan senang dan puas. “Kecewa”, “senang”, dan “puas” merupakan gejala perasaan yang mengandung unsur senang dan tidak senang.

Di awal pertumbuhan, seorang bayi memerlukan kebutuhan primer, seperti makan, minum, dan kehangatan tubuh. Bayi akan menangis bila popoknya basah dan haus. Apabila ia segera diganti popoknya dan diberi ASI/PASI maka ia segera diam.

Menurut English and English, emosi adalah “A compex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activies” (suatu perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris).  Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “Setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)”.

 

Tabel 1.2

Jenis-Jenis Emosi dan Dampaknya pada Perubahan Fisik

 

JENIS EMOSI

PERUBAHAN FISIK

  1. Terpesona
  2. Marah
  3. Terkejut
  4. Kecewa
  5. Marah
  6. Takut/Tegang
  7. Takut
  8. Tegang
  9. Reaksi elektris pada kulit
  10. Peredaran darah bertambah cepat
  11. Denyut jantung bertambah cepat
  12. Bernafas panjang
  13. Pupil mata membesar
  14. Air liur mengering
  15. Berdiri bulu roma
8. Terganggu pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar (tremor)

 

Ciri-Ciri Emosi

Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

(a)    Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.

(b)   Bersifat fluktuatif (tidak tetap).

(c)    Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.

 

 

  e. Sosial

Manusia adalah makhluk sosial, bukti prinsip yang bisa ditunjukkan bahwa bayi lahir dalam kondisi lemah (tidak berdaya), ia tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain utamanya ibu, demikian pula orang dewasa lain. Pada dasarnya manusia tidak mampu hidup seorang diri tanpa bantuan yang lain. Perkembangan sosial diawali dengan mengenali lingkungan yang terdekat, seperti bayi akan mengenal ibunya, kemudian mengenal ayahnya dan saudara-saudaranya, selanjutnya baru ia mengenal orang lain di sekitarnya. Sejalan dengan bertambahnya umur manusia akan mengenal lingkungan yang heterogen dan kompleks yang akan dibawa ke arah kehidupan bersama, bermasyarakat atau kehidupan sosial. Dalam perkembangannya setiap orang akhirnya mengetahui bahwa manusia itu saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi.

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial.  Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi: meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.  Proses bimbingan orangtua ini lazim disebut sosialisasi.

Sosialisasi dari orangtua ini sangatlah penting bagi anak, karena dia masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangannya sendiri ke arah kematangan.  J. Clausen (Ambron, 1981: 221) mendeskripsikan tentang upaya yang dilakukan orangtua dalam rangka sosialisasi dan perkembangan sosial yang dicapai anak, sebagaimana pada tabel berikut:

 

Tabel 1.3

Sosialisasi dan Perkembangan Anak

KEGIATAN ORANGTUA

PENCAPAIAN PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK

  1. Memberikan makanan dan memelihara kesehatan fisik anak

 

  1. Melatih dan menyalurkan kebutuhan fisiologis: toilet training (melatih buang air besar/kecil), menyapih dan memberikan makanan padat.
  2. Mengajar dan melatih keterampilan berbahasa, persepsi, fisik, merawat diri dan keamanan diri.
  3. Mengenalkan lingkungan kepada anak: keluarga, sanak keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar.

 

  1. Mengajarkan tentang budaya, nilai-nilai (agama) dan mendorong anak untuk menerimanya sebagai bagian dirinya.
  2. Mengembangkan keterampilan interpersonal, motif, perasaan, dan perilaku dalam berhubungan dengan orang lain.
  3. Membimbing, mengoreksi, dan membantu anak untuk merumuskan tujuan dan merencanakan aktivitasnya.
  4. Mengembangkan sikap percaya terhadap orang lain (development of trust).
  5. Mampu mengendalikan dorongan biologis dan belajr untuk menyalurkannya pada tempat yang diterima masyarakat.
  6. Belajar mengenal objek-objek, belajar bahasa, berjalan, mengatasi hambatan, berpakaian, dan makan.
  7. Mengembangkan pemahaman tentang tingkah laku sosial, belajar menyesuaikan perilaku dengan tuntutan lingkungan.
  8. Mengembangkan pemahaman tentang baik-buruk, merumuskan tujuan dan kriteria pilihan dan berperilaku yang baik.
  9. Belajar memahami perspekif (pandangan) orang lain dan merespons harapan/pendapat mereka secara selektif
  10. Memiliki pemahaman untuk mengatur diri dan memahami kriteria untuk menilai penampilan/perilaku diri.

            Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orangtua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya mupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial.  Pada usia anak, bentuk-bentuk tingkah laku sosial itu adalah sebagai berikut:

(a)    Pembangkangan (negativisme)

(b)   Agresi (agression)

(c)    Berselisih/bertengkar (quarreling)

(d)   Menggoda (teasing)

(e)    Persaingan (rivalry)

(f)    Kerja sama (cooperation)

(g)   Tingkah laku berkuasa (ascendant behaviour)

(h)   Mementingkan diri sendiri (selfishness)

(i)     Simpati (sympaty)

Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orangtua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya.  Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang.  Namun, apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orangtua yang kasar; sering memarahi; acuh tak acuh; tidak memberikan bimbingan; teladan; pengajaran atau pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama maupun tata krama/budi seperti: cenderung menampilkan perilaku maladjustment, seperti: (1) bersifat minder; (2) senang mendominasi orang lain; (3) bersifat egois/selfish; (4) senang mengisolasi diri/menyendiri; (5) kurang memiliki perasaan tenggang rasa; dan (6) kurang memperdulikan norma dalam berperilaku.

 

        f. Bahasa

Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.  Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka. Pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapat berarti sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran kepada lawan bicara.

Berbicara adalah bahasa suara dan lisan. Pada perkembangan awal bahasa lisan bayi diungkapkan dengan tangis atau ocehan.  Tangisan atau jeritan merupakan ekspresi tidak senang atau jengkel atau sakit. Sedangkan ocehan atau meraba sebagai ungkapan ekspresi sedang senang.  Ocehan-ocehan itu makin lama makin jelas, berkembang bisa menirukan bunyi-bunyi yang didengarnya pada akhirnya membetuk ucapan dengan kata-kata yang sederhana.  Perkembangan bahasa selanjutnya bagi seorang bayi pada usia 6-9 bulan mulai berkomunikasi dengan satu kata atau dua kata seperti “maem” untuk menyatakan maksud  atau keinginannya.

Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan.  Bahasa merupakan anugerah dari Allah SWT, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam, dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya.

Perkembangan pikiran itu dimulai pada usia 1,6 -2,0 tahun, yaitu pada saat anak dapat menyusun kalimat dua atau tiga kata.  Laju perkembangan itu sebagai berikut:

a)      Usia 1,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat positif, seperti: “bapak makan”.

b)      Usia 2,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat negatif (menyangkal), seperti: “Bapak tidak makan”.

c)      Pada usia selanjutnya, anak dapat menyusun pendapat:

(1)   Kritikan: “Ini tidak boleh, ini tidak baik”.

(2)  Keragu-raguan: barangkali, mungkin, bisa jadi.  Ini terjadi apabila anak

sudah menyadari akan kemungkinan kekhilafannya.

(3)                            Menarik kesimpulan analogi, seperti: anak melihat ayahnya tidur karena

(4)   sakit, pada waktu lain anak melihat ibunya tidur, dia mengatakan bahwa ibu tidur karena sakit.

Dalam berbahasa, anak dituntut untuk menuntaskan atau menguasai empat tugas pokok yang satu sama lainnya sangat berkaitan.  Apabila anak berhasil menuntaskan tugas yang satu, maka berarti juga ia dapat menuntaskan tugas-tugas yang lainnya.  Keempat tugas itu adalah sebagai berikut:

  1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain.  Bayi memahami bahasa orang lain, bukan memahami kata-kata yang diucapkannya, tetapi dengan memahami kegiatan/gerakan atau gesture-nya (bahasa tubuhnya).
  2. Pengembangan Perbendaharan Kata.  Perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra-sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah,
  3. Penyusunan Kata-Menjadi Kalimat, kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia dua tahun.  Bentuk kalimat pertama adalah kalimat tunggal (kalimat satu kata) dengan disertai: “gesture” untuk melengkapi cara berpikirnya.  Contohnya, anak menyebut “Bola” sambil menunjuk bola itu dengan jarinya.  Kalimat tunggal itu berarti “tolong ambilkan bola untuk saya”.  Seiring dengan meningkatnya usia anak dan keluasan pergaulannya, tipe kalimat yang diucapkannya pun semakin panjang dan kompleks.  Menurut Davis, Garrison & McCarthy (E. Hurlock, 1991) anak yang cerdas, anak wanita dan anak yang berasal dari keluarga berada, bentuk kalimat yang diucapkannya itu lebih panjang dan kompleks dibandingkan dengan anak yang kurang cerdas, anak pria dan anak yang berasal dari keluarga miskin.
  4. Ucapan.  Kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain (terutama orangtuanya).  Pada usia bayi, antara 11-18 bulan, pada umumnya mereka masih belum dapat berbicara atau mengucapkan kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak dimengerti maksudnya.  Kejelasan ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar tiga tahun.  Hasil studi tentang suara dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan kesulitan dalam huruf-huruf tertentu.  Huruf yang mudah diucapkan yaitu huruf  hidup (vokal): I, a, e, dan u dan huruf mati (konsonan): t, p, b, m, dan n, sedangkan yang sulit diucapkan adalah huruf mati tunggal: z, w, s, dan g, dan huruf mati rangkap (diftong): st, str, sk, dan sr.

 

            g. Sikap, Nilai, dan Moral

Bloom mengemukakan bahwa tujuan akhir proses pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan sikap dan nilai (afektif), dan penguasaan psikomotor. Pengenalan terhadap sikap, nilai, dan moral  ini tidak dimulai dari masa bayi melainkan masa kanak-kanak, sebab kehidupan bayi belum dibimbing oleh norma-norma moral. Pada masa kanak-kanak mulai dikenalkan dengan norma atau aturan-aturan yang menyangkut baik-buruk, benar-salah, wajar-tidak wajar, layak-tidak layak, dan sete-rusnya. Menurut Piaget, pada awalnya pengenalan nilai dan perilaku serta tindakan itu masih bersifat “paksaan”, dan anak belum mengetahui maknanya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan inteleknya, berangsur-angsur anak mulai mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga; semakin lama semakin luas sampai dengan ketentuan yang berlaku umum di masyarakat, bangsa, dan negara.

Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Morsis), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tatacara kehidupan.  Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.  Nilai-nilai moral itu, seperti (a) seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan (b) larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi.  Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.

Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut:

  1. 1.      Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya.  Di samping itu, yang paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan dari orangtua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral
  2. 2.      Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orangtua, guru, kyai, artis atau orang dewasa lainnya)
  3. 3.      Proses coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba.  Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.

 

RANGKUMAN

      Manusia sebagai makhluk yang berfikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, dan makhluk yang dapat dididik atau homo educandum. Berbagai pandangan telah membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks.  Lain dengan pandangan manusiaIndonesia secara utuh artinya manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan menunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu  individu dan sosial, jasmani dan rohani, serta  dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya, dan manusia dengan Tuhannya.

Setiap individu memiliki karakteristik bawaan (heredity) dan lingkungan (environment). Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dibawa sejak lahir baik yang berkaitan dengan faktor biologis maupun sosial psikologis. Kepribadian—prilaku– apa yang diperbuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh seseorang (individu) merupakan hasil dari perpaduan antara faktor biologis sebagaimana unsur bawaan dan pengaruh lingkungan.

Individu dalam perkembangannya senantiasa ditandai oleh karakteristik pribadinya yang berbeda dengan yang lain.  Perbedaan individu terjadi pada: (1) kognitif, (2) kecakapan bahasa, (3) kecakapan motorik, (4) latar belakang, (5) bakat, dan (6) kesiapan belajar.

Tujuh aspek pertumbuhan dan perkembangan individu antara lain: (1) pertumbuhan fisik, (2) intelek, (3) bakat khusus, (4) emosi, (5) sosial, (6)bahasa, dan (7) sikap, nilai, dan moral.

 

PENDALAMAN

Untuk mengukur pengalaman belajar mahasiswa pada tingkat standar ketuntasan minimal belajar (SKMB) maka selesaikan tugas-tugas berikut secara kelompok dan laporkan hasil pemahaman kelompok.

  1. Jelaskan alasan-alasannya mengapa pentingnya memahami individu sebagai manusia utuh!
  2. Manakah dari antara tujuh aspek perkembangan yang mudah pengukurannya? Jelaskan dan sertakan contoh-contoh!

 

DAFTAR RUJUKAN

Hurlock, Elisabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Terjemahan oleh Istiwidayanti, dkk.Jakarta: Penerbit Erlangga.

Monks, FJ, dkk. 1984. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.Yogyakarta: UGM Press.

Singgih D.Gunarsa dan Ny. Singgih D.G. 1990. Psikologi Remaja.Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Soesilo Windradini dan Suwandi, Iksan. 1995. Perkembangan Peserta Didik.Malang: FIP IKIPMALANG.

Sunarto dan Hartono, Ny. Agung. 1994. Perkembangan Peserta  Didik.Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud.

Woolfolk, A.E. 1998. Educational Psychology. 7th.ed.Boston: Allyn and Bacon.

 

 

OLEH BAPAK SUJIMAT

2 thoughts on “INDIVIDU DAN ASPEK PERKEMBANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s